Ular di Talonku

M Sattar Syam Ular! Ular termasuk dari sekian binatang yang sering saya lihat dan meringis. Antara takut dan geli. Tapi gak takut-takut amat...


M Sattar Syam


Ular! Ular termasuk dari sekian binatang yang sering saya lihat dan meringis. Antara takut dan geli. Tapi gak takut-takut amat, gitu. Buktinya, sering juga saya membunuh ular, dari ular kelas olar daun, kandilis, biraso, hingga ular kaber (kaber macan, kaber manek, kaber centhong, kaber manyang, dll.) Tentu saja kalau dalam keadaan siap dengan thong-penthongnya.

Sepagian, berhubung cuaca cerah dan waktu tugas wajib lagi kosong saya mencoba mendatangi kebun baru sekedar untuk lihat-lihat jagung dan bertunas rerimbunan. Ya, mengisi waktulah, agar walau sedikit bisa lebih bermanfaat dari pada hanya tidur pagi.

Sesampai di kebun, "Subhanallah!" Jagung mulai mengering, berarti hampir siap panen. Tetapi hampir tidak kelihatan karena rumput yang hampir sama tingginya dengan pohon jagungnya. Jagungnya pun hampir habis dimakan tikus tanpa dasi. Wah, ini sudah hampir-hampir semua.

Di sisi talon bagian timur yang sekaligus tepian soksok, rimbun dengan tumbuhan liar utamanya tumbuhan menjalar. Kelihatan terlalu rindang karena juga di talon sebelah timur soksok dipagari bambu duri sehingga lebih separuh talon saya tak kelihatan matahari dari tadi.

Dari itu, berkembang semangat saya untuk melanjutkan ke rencana kedua, yaitu: bertunas. Bertunas, sebagaimana saya maksudkan, arti Maduranya adalah memotong cabang-cabang pohon agar kelihatan lebih bagus, bersih dan rapi. Kalau dalam KBBI terbaru ... (?)(maaf, belum sempat baca KBBI). Semangat itulah yang mengajak saya untuk segera memulai bertunas.

Dengan arit yang tak terlalu besar dan tak tetlalu tajam, saya mulai bertunas dari arah dhu-murdaja, karena tempat ini yang paling rimbun.

Baru dua tiga pohon saya tebang, saya ingat ular. Demi keselamatan saya, dan agar tidak terjadi pertumpahan air mata, saya harus berhati-hati. Saya baca ayat, "Salaamun qawlan min Rabb al-rahiym" sebanyak tiga kali dengan penuh khusyuk seraya mengharap agar diselamatkan dari ancaman patukan ular. Juga saya baca mantra yang pernah saya dapatkan dari guru saya K. Sabental, Allaahumma yarham. "Assalaamu 'alaa lanyala assalaamu laa ilaaha illa Allah". Saya lanjutkan lagi.

Empat pohon, lima pohon dan seterusnya tanpa terasa saya lakukan pangkas, alhamdulillah, masih sangat aman. Saya teruskan lagi dan lagi dengan penuh hati-hati, masih aman. Saya teruskan lagi dan lagi dengan hati-hati, masih aman. Saya teruskan lagi dan lagi dengan kurang berhati-hati, masih aman. Saya teruskan lagi dan lagi dengan tidak berhati-hati, tetap aman.

Tetapi tiba-tiba, bersamaan dengan bunyi loudspeeker dari madrasah sebelah, yang menginformasikan jam pergantian pelajaran kelima, matahari mulai menyengat, dua lembar daun jati jatuh di depan saya. Keringat pun bercucuran, kaos baju yang saya pakai basah. Perut terasa lapar. Lalu saya pulang setelah bagian pojok murdaja selesai dan kelihatan serdang.

Ternyata berkat doa-doa yang saya baca, Allah menyelamatkan saya dari patukan-patukan ular yang mengerikan itu. Jangankan mematuk, menampakkan diri saja tidak ada yang bisa. Ataukah, mungkin ular di talonku tidak ada.

Semoga kita semua diselamatkan. Amin.

Diposting dari akun FB M Sattar Syam


POSTING PILIHAN

Related

Utama 1644649874969340533

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item