Profesi Keustadzahan

Pendampingan ustadzah saat upacara di sebuah sekolah dasar

Oleh Sri Wahyuni

Hal apa yang paling membahagiakan bagi seorang pendidik? Saya rasa setiap orang atau lebih spesifiknya seorang pendidik, sudah seyogyanya memiliki pandangan dan kriteria sendiri dalam menjawab pertanyaan diatas. Ada yang bahagia hanya ketika melihat santri atau muridnya mampu mencapai nilai yang tinggi dalam ujian. Ada yang bahagia hanya jika melihat santri atau muridnya patuh pada apa yang ia intruksikan. Ada juga yang bahagia cukup dengan mendengar santri atau muridnya berkata “Yā Ustādzah nahnu  masrūrātun bīliqāik” saya bahagia bertemu denganmu ustadzah. Kalimat ini sederhana memang, namun bila difahami ia mengandung makna yang menunjukkan betapa besarnya peran dan pengaruh seorang pendidik terhadap santrinya.

Berbicara peran dan pengaruh seorang pendidik, kesemuanya tak terlepas dari output yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik itu sendiri. Kadangkala kita sebagai seorang pendidik hanya tahu bagaimana cara kita melakukan kewajiban yang tampak-tampak saja, seperti mengajar dan membina peserta didik. Tugas mengajar sudah tentu kita lakukan, terlepas apakah karena merasa itu sebuah tuntutan atau karena sebuah keterpanggilan. Begitu juga dalam pembinaan, bukankah tak jarang kita melihat para ustadzah yang memanggil santrinya guna melakukan bimbingan dan konsultasi, baik berkenaan dengan keterampilan atau hal yang berkaitan dengan akhlak.

Semua hal diatas merupakan tugas dan tanggung jawab lumrah bagi kita para ustadzah, namun jika kita telusuri lebih dalam ada satu pertanyaan menarik yang perlu kita renungkan. “Selama ini, posisi sebagai seorang ustadzah kita anggap sebagai sebuah profesi atau tuntutan?”.

Kiyai kita al Mukarrom KH. Dr. Ghozi Mubarok, M.A dalam beberapa kesempatan seringkala mengutarakan kalimat tentang keterpanggilan jiwa kepada kita para ustadzah. Saya rasa ungkapan tersebut mampu menjawab pertanyaan diatas. Posisi sebagai seorang ustadzah hanya akan menjadi beban serta momok yang menakutkan ketika keterpanggilan jiwa itu belum ada dalam diri kita, pada akhirnya posisi sebagai ustadzah hanya akan menjadi tuntutan sehingga output yang diberikanpun hanya sekedar penunaian dari sebuah kewajiban. Beda halnya ketika keterpanggilan jiwa itu telah kita miliki atau paling tidaknya mulai kita pelajari, maka posisi sebagai ustadzah akan menjadi sebuah profesi sehingga output yang diberikanpun bukan lagi hanya berdasarkan tuntutan dan kewajiban namun murni dari keterpanggilan jiwa itu sendiri.

Mengapa kalimat profesi yang saya ambil disini? Karena dalam profesi menuntut sebuah keahlian yang tidak semua orang memilikinya, serta didalamnya juga terdapat etika yang mesti dipatuhi dan kita sadari sebagai pemegang profesi itu sendiri, baik etika terhadap diri sendirim etika terhadap anak didik serta etika terhadap teman sejawat. Ungkapan profesi keguruan, mungkin tak asing lagi bagi indra pendengaran kita, namun profesi yang kita bahas disini sebut saja dengan “Profesi Keustadzahan”. Apa perbedaan keguruan dan keustadzahan? Bukankah ustadzah itu juga guru, dan guru itu juga bisa disebut ustadzah? Benar sekali, namun lebih tepatnya kalimat guru itu rasanya terlalu umum bagi kita sedangkan bagi kita yang menekuni profesi sebagai ustadzah yang berdiam di lingkungan pesantren, tentu sadar bahwa profesi yang kita tekuni adalah profesi yang bernuansakan interaksi penuh dengan para santri , tak hanya dikelas namun juga dijalan hingga kamar sebagai rumah kedua bagi mereka sedangkan kita sebagai orang tua kedua yang akan senantiasa merentangkan tangan sebagai tempat ternyaman bagi mereka.

Banyak hal remeh yang seringkali kita lakukan dan ternyata memberikan dampak dan kesan mendalam bagi para santri kita. Seperti halnya yang pernah saya alami. Masih jelas dalam ingatan saat saya masih menjadi santri baru kala itu.  Saat itu saya sangat senang setiap kali bertemu dengan salah satu ustadzah. Setiap kali bertemu dengan beliau saya selalu mencium tangannya. Menariknya hal yang membuat saya senang bertemu dengan ustadzah tersebut adalah kesan yang saya rasakan pada momen mencium tangan tersebut.

Mengapa demikian? Karena pada saat pertama kali saya menyentuh tangannya, beliau sekita menggenggam erat tangan saya sehingga rasa hangat menjalar layaknya genggaman seorang teman lama yang sangat merindukan kita. Hebatnya, ternyata bukan hanya saya seorang yang merasakan hal tersebut, namun setiap teman yang saya wawancarai selalu memberikan deskripsi perasaan dan kesan sebagaimani yang saya rasakan.

Dari cerita diatas setidaknya ada dua kesimpulan yang dapat kita ambil. Pertama, sebagai seorang pendidik katakanlah ustadzah kita harus mampu menjadi peneliti yang lebih baik dari para santri kita. Mengapa demikian? Karena dari cerita diatas siapa sangka hal remeh seperti bersalaman saja dapat menarik perhatian para santri bahkan mampu memberikan kesan yang amat mendalam. Maka kita selaku ustadzah sudah seharusnya lebih teliti terhadap hal-hal yang sekiranya mampu dibaca oleh para santri kita. Kedua, hal remeh yang seringkali tidak kita sadari seperti diatas sebenarnya kembali lagi pada kesadaran kita pada profesi keustadzahan kita.

Sudah saatnya kita memasang alaram dalam jiwa, agar senantiasa mengingatkan bahwa posisi kita sebagai ustadzah adalah suatu profesi yang didalamnya memerlukan keterpanggilan jiwa untuk terus melakukan yang terbaik bagi santri-santri kita. Mari kita buat mereka nyaman bersama kita, hilangkan celah yang akan membuat mereka berpaling, hingga akhirnya tak ada kata menyesal yang muncul karena pernah bertemu kita.

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1158205882010701796

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item