Pemudaan-Kembali Wayang


Djoko Saryono

Wayang dengan segala bentuk dan jenisnya patut kita apresiasi dan sambut gembira. Bahkan bila perlu dimudakan-kembali (rejuvinasi) berkelanjutan dengan program-program konkret yang memungkinkan wayang tetap mampu berkembang dan tumbuh subur di bumi Indonesia, bahkan mancanegara. Mengapa demikian? Paling tidak ada tiga alasan utama.

Pertama, sebagaimana diakui dan disahkan oleh UNESCO pada tahun 2003, wayang merupakan karya agung-luhur budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Sekalipun memperoleh bahan-bahan pengayaan dari berbagai budaya manca, wayang terbukti otentik karya anak bangsa Indonesia. Hal ini menandakan bahwa wayang merupakan sumbangan penting Indonesia bagi kebudayaan dan kemanusiaan.

Kedua, selaras kecenderungan mutakhir yang menjadikan kebudayaan sebagai modal utama pembangunan bangsa-bangsa dan komunitas-komunitas di dunia, jelaslah wayang beserta segala dimensi dan spektrum keberadaannya dapat menjadi modal pembangunan bangsa dan komunitas di Indonesia, bahkan bangsa-bangsa dan komunitas-komunitas di dunia. Di sini wayang terbukti telah memberikan sumbangan penting bagi pertumbuhan kebudayaan dan kemanusiaan di tengah-tengah makin gencarnya globalisasi dan regionalisasi.

Ketiga, wayang sebagai wujud kearifan lokal sangat mendukung pencapaian misi, tujuan, dan salah satu program unggulan pembangunan. Dalam berbagai perencanaan kebijakan kebudayaan dinyatakan bahwa kebudayaan lokal khususnya kearifan lokal termasuk wayang menjadi paradigma, modal, dan program unggulan pembangunan. Untuk itu, berbagai pemerintah daerah mengembangkan program revitalisasi dan reartikulasi kebudayaan dan kearifan lokal dalam pembangunan. Bahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya mewujudkan Penghargaan Pembangunan Berbasis Kearifan Lokal.

Kita ketahui bersama bahwa berdasarkan berbagai kajian, amatan, liputan, dan rekaman para pengaji, pemerhati, peliput, dan pencinta wayang [yang dikemukakan secara tertulis, visual, dan disampaikan secara lisan] dapat dikatakan di sini bahwa keberadaan atau kehadiran [eksistensi] wayang sebagai lakon sekaligus seni pertunjukan sudah amat tua [lama] di dalam masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa di samping masyarakat, kebudayaan, dan peradaban lain di Indonesia. Dengan kata lain, hidup wayang tergolong sudah demikian panjang.

Kehidupan wayang ibarat kehidupan tokoh Rama Bargawa [Rama Parasu] atau Anoman: demikian panjang, tak mati-mati, meski sedih gembira silih berganti. Dalam rentang perjalanan kehidupan wayang yang demikian panjang, lakon wayang dan seni pertunjukan wayang berubah, berkembang, dan menjadi beraneka ragam pada satu pihak dan pada pihak lain juga berkurang dan berkarat akibat berbagai faktor yang bersentuhan dengan kehidupan wayang.

Dengan berbagai keunggulan dan kelemahannya berhadapan dengan perubahan zaman, wayang telah membuktikan diri mampu hidup secara kenyal [elastis] dan lentur [fleksibel]. Tak heran, kendati mendapat berbagai serangan dan penggembosan dari berbagai penjuru, sampai sekarang tetap dapat hidup [eksis] sebagai pusaka budaya dunia meski kerap membuat khawatir para pemangku, pencinta, dan pengaji wayang.

Hal tersebut menunjukkan bahwa wayang sebagai lakon sekaligus seni pertunjukan dapat hidup sampai sekarang berkat kefundamentalan dan kestrategisannya dalam kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa dan lain-lain. Dengan kata lain, secara historis, sosiokultural, religiokultural, geokultural, dan antropo-psikologis, keberadaan, kedudukan, peranan, dan fungsi wayang sangat fundamental dan strategis dalam kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia dan lain-lain.

Pertama, dikatakan fundamental karena keberadaan, kedudukan, peranan, dan fungsi wayang telah menjadi prasyarat yang harus ada dalam kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Jawa [dan lain-lain]. Di sini berlaku adagium: tanpa wayang, tidak ada kelokalan; kelokalan tiada berarti tanpa wayang. Sebagaimana dikatakan oleh orang Inggris bahwa tidak ada Inggris tanpa Shakespeare, dalam hal ini juga dapat dikatakan bahwa tidak ada masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa tanpa wayang [wong lan kabudayan Jowo tanpa wayang mesthi gothang].

Wayang menjadi presensi atau representasi keindonesiaan termasuk kejawaan [dapat juga kebalian dan lain-lain], bukan sekadar menjadi identitas keindonesiaan; wayang [setidak-tidaknya] menjadi ”tulang sumsum”, bahkan ”jiwa-raga” masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa, Bali, Sunda, Sasak, dan wilayah lain; dan wayang menjadi pusat, sumbu atau hulu kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban lokal Indonesia.

Kedua, dikatakan strategis karena keberadaan, kedudukan, peranan, dan fungsi wayang sangat penting-utama [sentral] sebagai kendaraan atau wahana mencapai tujuan luhur dan sasaran kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa. Tidak mengherankan, wayang lazim dijadikan acuan, sumber, dan dasar berperasaan, berpikir, bernalar, berlaku, berbuat, dan atau bertindak dalam kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan masyarakat Indonesia khususnya Jawa. Oleh karena itu, wayang sebagai lakon dan seni pertunjukan memiliki kekuatan integratif sekaligus instrumental yang kokoh dalam masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa.

Disebut kekuatan integratif karena wayang mampu mengutuhkan sekaligus merekatkan masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa dan budaya lokal lainnya. Dikatakan kekuatan instrumental sebab wayang dapat mengantarkan sekaligus ”memfasilitasi” masyarakat, kebudayaan, dan peradaban Indonesia khususnya Jawa dan budaya lokal lain mampu mencapai tujuan luhur dan sasaran kehidupan yang dikehendaki bersama. Semua itu menandakan bahwa wayang telah menjadi ”darah daging” masyarakat, kebudayaan, dan peradaban dalam masyarakat, kebudayaan, dan peradaban lain yang memiliki tradisi wayang.

Untuk itu, bersama-sama dengan kearifan lokal dan pusaka budaya Indonesia lainnya, wayang sebagai kearifan lokal sekaligus pusaka budaya yang diakui oleh dunia sudah seharusnya dijadikan landasan pembangunan, kebudayaan, dan kemanusiaan di dunia khususnya di Indonesia. Menjadikan wayang sebagai salah satu (bukan satu-satunya) landasan pembangunan, kebudayaan, dan kemanusiaan merupakan wujud mengupayakan, bahkan merealisasikan model pembangunan inklusif atau responsif kebudayaan. Pembangunan responsif kebudayaan lokal inilah yang akan menyelamatkan keindonesiaan dan kemandirian kita. Dalam hubungan ini pembangunan inklusif atau responsif kebudaya lokal yang berakar pada tradisi wayang (yang kenyataannya hidup di berpuluh-puluh kebudayaan lokal di Indonesia).

Para pengkaji, peneliti, pemerhati, pencinta, dan para pemangku wayang lainnya ditantang untuk sanggup merestorasi, merevitalisasi, bahkan mentransformasi wayang agar benar-benar fungsional sebagai landasan pembangunan inklusif atau responsif kebudayaan lokal. Jika hal tersebut bisa terwujud, kesinambungan pembangunan, kebudayaan, dan kemanusiaan niscaya dapat dirasakan oleh semua warga bangsa Indonesia. Kesinambungan inilah yang dapat menjadi pegangan semua warga bangsa Indonesia menjalani berbagai perubahan yang diakibatkan oleh proses pembangunan, perubahan kebudayaan, dan perkembangan peradaban.

Menentang, merobohkan atau menghancurkan wayang berarti mengambrukkan tiang penopang akar identitas otentik dan kemandirian keindonesiaan. Mengeliminasi wayang sebagai salah satu serat kebudayaan Indonesia berarti melakukan tindakan “face-off” (ganti muka) keindonesiaan kita. Itu merupakan wujud pengingkaran keindonesiaan kita. 

Sumber: akun FB Djoko Saryono



POSTING PILIHAN

Related

Utama 487751807593752516

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item