Menyekap Airmata

 


Cerpen Mabrurotin


Sang surya Perlahan turun, semburat cahaya keemasan menciptakan siluet bayang pepohonan di sepanjang jalan yang kian sepi dari lalu lalang kendaraan dan orang-orang.

Jemari lembayung senja terus terulur, merambat menyongsong kegelapan.

Lelaki 30 tahun berwajah agak gelap dan kuyu, Parjo. Menjauhkan pandangan hingga ke seberang jalan. Untuk mengusir dingin, kedua tangan Ia tarik erat di bawah kedua ketiak. Tiga rekannya sesama tukang ojek telah meniinggalkan pangkalan hampir sejam yang lalu. Parjo bertahan. masih berharap akan ada calon penumpang yang akan diantarnya ke tempat tujuan.

Sesimpul senyum terbit di ujung bibirnya. Seorang ibu muda nampak mendekat, bayi perempuan Berjilbab marun berenda dalam gendongan kain jariknya sesekali merengek, bergerak gelisah. Satu tas kain ukuran sedang terjinjing di tangan kanannya. Pandang wanita itu segelisah bayinya.

“Pak, ojek?” suara parau terdengar begitu pelan di telinga Parjo.

“Iya, Mbak. mau diantar kemana?” Parjo meraih helm di cantolan motornya.

“Ke kampung Rambutan, berapa, ya?”

“Sepuluh ribu, Mbak,” wanita di depan Parjo kembali gelisah, sesekali ditepuknya b*kong si bayi agar tenang.

“Ehm …, tapi, saya hanya uang punya lima ribu, Pak. Saya kehabisan bekal…” wajahnya menunduk, Ia jelas lelah. Seperti sudah berjalan jauh. Parjo menghembuskan nafasnya perlahan. Yah …, setidaknya 4 lembar uang lima ribuan di sakunya akan bertambah selembar lagi. Itu akan mengaburkan wajah cemberut Istrinya.

“Boleh, Mbak. Saya antarkan, kasihan anaknya sudah mulai malam begini, masih di luar. Angin malam tentu tidak baik untuk tubuhnya yang masih kecil.” Roman muka senang terlihat samar di wajah wanita itu. Segera dipakainya helm yang disodorkan oleh Parjo. Perlahan-lahan, motor bebek tua biru melaju di jalan beraspal.

***

Terasa segar setelah mandi. Walaupun dari rambutnya tidak tercium wangi Shampo. Setidaknya, di kamar mandi kecil mereka masih ada sisa dua sabun tipis yang sudah ditekan agar menyatu, tidak jatuh sebab terlalu kecil saat digosokkan ke badan.

Sejak melewati pintu rumah, sepasang anak manusia itu hanya berjawab salam. Mirna sang istri, memang menyambutnya, mencium tangan dan membantu membuka jaket yang terasa lengket di badan. Muka Mirna sekecut buah asam muda. Sesekali Parjo, mengusap mukanya. menghembus sesak yang memenuhi rongga dada. Bergulung-gulung ombak dalam pikirannya.

Lelaki berperawakan kurus itu mulai makan. Pelan-pelan, sesuap demi sesuap nasi ditelannya, ditemani sepotong tahu, serta tiga buah cabe yang diulek dengan garam. Sesekali terdengar bunyi kerupuk yang dikunyah menjadi instrumen jeda bicara yang tercipta di antara mereka. Segelas air putih tandas melaju melewati kerongkongannya. setelah lirih berdo’a, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan.

Di bawah tatapan entah sang istri, tangan kurus itu menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna cokelat, bergumpal lecek dari gulungan kain sarungnya. Di luar kepala, lelaki tamatan SMP ini sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hening sejenak.

“Hiks, hiks … “ kedua bahu Mirna mulai terguncang naik-turun. Wanita yang tengah hamil enam bulan ini mulai menangis. Suaranya terbata-bata.

“Bang, aku malu pada Mbak Saroh. Hutang kita di warungnya sudah seratus ribu lebih. Kau tahu, apa saja kebutuhan kita yang harus segera dibeli,” Parjo menyugar rambutnya kasar.

Ia tertunduk. Harus marah pada siapa?, keadaan!. Atau memang dialah suami tak berguna itu. Ijazah SMP-nya hanya sanggup mengantarnya sebagai kuli mingguan itupun harus menunggu ketika waktu pasaran tiba, di hari Rabu. Selebihnya, Ia akan senang mendapat panggilan kerja dari warga kampung; mengecat, memangkas rumput, yang tak setiap hari ada yang membutuhkan tenaganya. Walaupun serabutan, apapun asal masih sanggup dilakoni. Jika sedang tak ada yang memanggilnya, maka ngojek adalah pilihan. Bukankah Parjo sudah tak berpangku tangan.

Namun rupanya, kehidupan mereka belumlah bisa dikatakan makmur. Hutang kerap menjadi hal yang membuat tidur Parjo kurang nyenyak.

Dua tahun lalu, anak pertama mereka menderita Demam berdarah. Sudah berbagai upaya dilakukan, akhirnya anak itupun tak berusia panjang. Biaya berobat yang dipakai didapatkan Parjo dari berhutang, hingga kini belumlah lunas.

Tak berapa lama lagi, anak kedua mereka akan lahir. Parjo lelah. Bagaimana akan menghadapi hari-hari ke depan nanti. di tambah pula, istri selalu menyuguhinya dengan airmata.

Sungguh, bukan inginnya jika sang istri tak bahagia. Setangkup roti tawar berlapis mangarin bersanding dengan segelas susu ingin sekali diberikannya kepada sang istri, sebagaimana yang ditontonnya di iklan margarin yang sering dilihatnya semasa kecil dari pesawat televisi pak Lurah.

Dengan cara apa lagi harus dilakukan. Parjo mulai bosan, mengusap punggung istrinya agar berhenti menangis. Dipelukpun masih juga menangis.

***

Udara dingin menelusup masuk melalui celah-celah jendela. Lantai tanah menambah gigil merajai malam. Mirna telah lelap tertidur, sesekali sedu-sedannya masih tersisa. Selarik cahaya bulan jatuh tepat di mata kirinya. Parjo memandang wajah di sampingnya yang terpejam dalam temaram.

Sekedip cahaya terbetik di mata Parjo. Dadanya bergemuruh, menimbang-nimbang. Ide yang tiba-tiba muncul di pusaran kepalanya. Setelah memejam sesaat. Ia beringsut dari kasur tanpa dipan yang ditidurinya.

Suara barang digeser terdengar dari dapur. Parjo kembali ke kamar dengan botol beling berwarna gelap ditangannya. Duduk bersimpuh di depan Mirna. Sedikit gemetar, tutup botol dibuka. Sesaat Parjo terlengak kaget, seekor tokek berbunyi nyaring dari pohon Randu belakang rumah. Ia menunggu istrinya kembali menangis dalam tidurnya. Tak perlu lama menunggu. Sedu kecil itu terdengar.

Sigap. Parjo menyedot airmata istrinya, meski jantungnya berdegup cukup kencang. Ia menahan nafasnya agar tak terhembus dengan kasar. Mirna tak boleh terbangun sebelum ia selesai. Setelah dirasa airmata sudah tak lagi merembes dari mata kiri istrinya, ia pindahkan moncong botol ke bawah pelupuk mata kanan.

hufff …. dengan berjingkat Parjo berjalan ke belakang rumah. Ada beberapa pohon pisang di sana. Sebatang linggis Tergenggam erat di tangannya yang berpeluh ingin. Digalinya satu lubang sedalam setengah meter. segera Parjo mengeratkan penutup, botol itu ditimbunnya.

Parjo ingin bersiul. Ah …, satu batu besar yang menindih dadanya seakan terlepas.

Mulai besok, kita akan menjalani hari-hari tanpa hiasan airmatamu lagi, sayang. Wajah Parjo sumringah. Segumpal awan bergerak menghalangi sinar rembulan. Parjo melangkah ringan. Kembali ke samping tubuh istrinya yang mendengkur halus. Bahagianya membuncah karena sudah berhasil menyekap airmata Sang istri.

Diangar dari aku FB Mabrurotin


POSTING PILIHAN

Related

Utama 8413243811338004135

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item