Empat Prinsip Tasawwuf Aisyah al-Ba’uniyah


Dalam Islam, terdapat sebuah ajaran untuk membersihkan keadaan jiwa (hati) manusia dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat yang baik serta cara menempuh jalan spiritual menuju Allah. Ajaran ini disebut dengan tasawuf. Sebenarnya perkembangan tasawuf sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW., yang ditunjukkan dengan pola hidup sederhana beliau yang ditiru oleh para sahabat.

Artinya pada masa Nabi dan para sahabat ajaran tasawuf masih belum menjadi disiplin ilmu tapi dari sinilah benih-benihnya sudah bermunculan. Baru setelah masa sahabat berakhir, banyak bermunculan tokoh sufi dari kalangan tabi’in seperti Hasan al-Bashri, Syaqiq al-Balkhi, dan yang lainnya. Bahkan dari kalangan wanita pun ada yang menjadi sufi terkenal yaitu Rabiah al-Adawiyah yang masyhur dengan ajaran mahabbahnya.

Seseorang pernah bertanya kepada Rabiah, “Apakah engkau membenci setan?” ia menjawab, “tidak. Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Setelah Rabiah al-Adawiyah wafat, ternyata ada satu lagi wanita sufi yang mungkin masih asing bagi kita. Namanya adalah Aisyah binti Yusuf bin Ahmad bin Nashir al-Ba’uni. Yang lebih dikenal dengan Aisyah al-Ba’uniyah. Aisyah lahir di Damaskus pada tahun 865 H/ 1460 M. Selain tasawuf, ia juga menguasai beberapa bidang keilmuan seperti fikih dan sastra. Sehingga saking alimnya, dia diizinkan untuk mengajar dan bahkan berfatwa.

Aisyah al-Ba’uniyah selain dikenal sebagai penyair ternama, beliau juga penulis yang produktif. Di antara karya dalam bidang tasawuf yang terkenal adalah al-Muntakhab fi ushul ar-Rutab fi ‘ilm at-Tasawwuf yang terjemahannya ada ditangan pembaca saat ini. Dalam bukunya, dia membagi dan menjelaskan tingkatan-tingkatan yang perlu dilalui salik agar sampai kepada Allah swt., sehingga kita bisa meraih cinta-Nya serta dapat membersihkan jiwa dan kembali kepada-Nya.

Empat prinsip yang harus ditempuh seorang salik dalam perjalanan spiritual menuju Tuhan adalah tobat, ikhlas, zikir, dan Cinta. Prinsip yang pertama; Aisyah al-Ba’uniyah mendefinisikan tobat sebagai kembali ke asal. Seorang salik hendaknya melakukan tobat secara lahir dan batin. Setiap manusia pasti pernah bermaksiat kepada Allah dan Allah akan mengampuni setiap dosanya kalau ia mau bertaubat sekalipun dosanya besar kecuali dosa syirik kepada-Nya yang tidak akan diampuni.

Banyak definisi tobat yang diutarakan oleh para sufi diantaranya, taubat adalah kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji. Ada beberapa syarat dalam taubat yang harus dipenuhi agar menjadi taubat Nashuha, yaitu menyesali dosa, melepaskan diri darinya, dan memiliki tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Bilamana salah satu syarat tidak terpenuhi dari ketiga syarat tadi, maka taubatnya tidak sah. Ini merupakan hukum taubat dari dosa antara seorang hamba kapada Tuhannya. (Hlm. 8)

Sedangkan taubat dari dosa yang berkaitan dengan sesama makhluk, maka seorang hamba harus terbebas dari beban tanggungjawab dengan memenuhi hak orang lain, menepati kewajiban, dan meminta maaf atau ampunan dari pihak-pihak yang dizalimi. Jika tidak mampu melakukan semua itu, maka jangan berhenti meminta pertolongan kepada Allah supaya dibebaskan dari beban menanggung hak orang lain.

Prinsip yang kedua adalah ikhlas. Menurut Aisyah, yang pertama-tama harus dilakukan hamba dalam ubudiyahnya adalah memurnikan ketaatan kepada Allah semata. Dalam hadis Rasulullah telah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam beramal, maka sekecil apapun amal itu jika dilakukan secara ikhlas maka sudah mencukupi baik dari segi pahala maupun diterimanya. Al-Qusyairi pernah berkata,” Ikhlas adalah menunggalkan Allah swt., dengan ubudiyah (penghambaan). Sedangkan, orang-orang yang hatinya ternodai oleh riya’, sejujurnya, bukanlah orang-orang ikhlas.”(hlm.70). Beramal dengan ikhlas sangat lah sulit. Butuh latihan dan pembiasaan dari hal-hal yang kecil. Karena orang-orang yang menyaksikan keikhlasan dalam keikhlasan mereka, sesungguhnya keikhlasan mereka masih membutuhkan keikhlasan lagi.

“Tidak melakukan amal karena manusia adalah riya’ dan melakukan amal karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” Itulah yang diungkapkan Fudhail bin Iyadh ra. Ada tiga tanda keikhlasan menurut Dzun Nun al-Mishri yaitu, mendapatkan pujian dan celaan dari orang awam bernilai sama, tidak melihat amal perbuatan ketika melakukannya, dan mengharap pahala amal di akhirat saja. Seorang dikatakan beriman apabila dalam menghamba kepada Allah selalu ikhlas, karena melakukan amal bukan karena Allah termasuk syirik (menyekutukan Allah). Intinya ikhlas itu adalah memurnikan niat dan ketaatan hanya untuk Allah swt.

Prinsip yang ketiga; Dzikir yang secara bahasa berarti mengingat. Aisyah mendefinisikan dzikir mulai dari perspektif ahli bahasa hingga ahli tasawuf. Di beberapa tempat dalam Al-Quran dan Hadis, Allah secara tegas memerintahkan kita untuk berdzikir (mengingat) Allah. Di antaranya dalam surat al-Ahzab ayat 41 “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kalian kepada Allah dengan ingat (zikir) yang sebanyak-banyaknya.” Zikir merupakan sarana agar semua keinginan kita tercapai. Jika kita mengingat Allah melalui doa, maka Allah akan ingat kepada kita dengan mengabulkan doa dan memberikan kenikmatan. Jika kita mengingat Allah dengan berbuat baik maka Allah akan ingat kepada kita dengan mencurahkan segala rahmat dan ampunan-Nya.

Jika kita mengingat Allah dengan membaca istighafar, maka tentunya Allah akan ingat kepada kita dengan memberikan ampunan atas segala dosa. Jika kita mau mengingat Allah dengan cara bersabar atas semua ketentuan-Nya, maka Allah akan mengingat kita dengan memberikan pahala yang berlipat ganda. Mengingat Allah bisa dengan bertawakkal kepada-Nya, maka niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepada kita.

Prinsip keempat; Mahabbah (Cinta). Aisyah al-Ba’uniyah menerangkan bahwa cinta ilahi menyaratkan peniadaan selain-Nya dari dalam hati secara total, agar yang mencintai menyatu dengan yang dicintai. Untuk menjadi orang yang dicintai Allah, kita harus mencintai orang yang dicintai Allah yaitu Nabi Muhammad SAW., dengan mematuhi perintahnya dan menghormatinya. Cukuplah kebahagiaan seorang kekasih apabila ia berada dekat dengan orang yang dicintai. Aisyah menyebut sekian banyak tanda seseorang cinta kepada Allah. Diantaranya adalah kerelaan (ridha). “Derajat cinta terendah adalah jika dilemparkan oleh sang kekasih ke neraka, komitmennya untuk tetap mencintai kekasih tidak pernah tergoyahkan.”

Kitab sufi karya Syaikhah Aisyah al-Ba’uniyah ini, merupakan salah satu kitab rujukan terbaik untuk kita menjalin ikatan cinta dengan Allah swt. Sebuah kitab yang tidak hanya memberikan 4 tahapan spiritual yang jelas untuk mencapai cinta-Nya, tapi juga untuk membersihkan jiwa dan kembali kepada-Nya. Buku ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya, Pertama, kitab al-Muntahab ini pertama kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Kedua, pada setiap bagian penjelasan diselingi dengan puisi. Ketiga, penjelasan dilengkapi dengan teks Al-Quran, Hadist, dan ucapan para sufi, dan juga buku ini merupakan karya tasawwuf klasik yang ditulis oleh sufi wanita terbesar setelah Rabiah al-Adawiyah lebih dari 500 tahun yang lalu. (M. Rizal)

* M. Rizal  adalah mahasiswa INSTIKA fakultas Ushuluddin SEMESTER IV



POSTING PILIHAN

Related

Utama 8331403421275469870

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item