Amalan Menuju Surga


 Ahmad Hudaifah

Surga dan Neraka menjadi hunian terakhir dari kisah perjalanan kehidupan manusia. Sebelum menuju ke sana, Bani Adam terlebih dahulu melalui beragam proses ujian semasa hidup di dunia. Apabila ia bisa melewati cobaan itu dengan sukses, maka ia akan melenggang ke surga. Namun bagi mereka yang memilih kehidupan dunia, maka ia akan terlempar ke neraka. Surga tentu menjadi tempat yang diinginkan setiap orang.

Bagi kita sebagai seorang Muslim, tempat ini hanya bisa diraih dengan amalan yang sudah diperintahkan di dalam Al-Qur'an dan hadist. Ia merupakan balasan setimpal bagi orang-orang beriman yang selalu beramal saleh selama hidupnya di dunia. Istana di surga dijanjikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang telah ikut membangun masjid di dunia.

Kenikmatan di surga nantinya juga tergantung amal apa yang dikerjakan selama hidup di dunia.

Di antara amalan ringan yang dibalas oleh Allah dengan surga itu seperti shalat sunnah. Menurut Rasulullah SAW, dengan rutin mengerjakan shalat-shalat yang disunnahkan berarti hamba itu tengah membangun rumah di surga. Demikian pula halnya bagi orang yang ikut andil dalam pembangunan masjid untuk ibadah orang-orang Islam. Hal tersebut berdasarkan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّة

“Barang siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738)

Tak hanya membangun masjid, terdapat beberapa amalan ringan lainnya yang juga berpahala sebuah istana di surga. Salah satunya yang disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad jika seseorang yang membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 10 kali maka, ia berhak mendapatkan istana di surga. Hadits dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ قَرَأَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْراً فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membaca qul huwallahu ahad sampai ia merampungkannya (surat Al-Ikhlas) sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ahmad, 3: 437.

Namun harus diingat, jika ingin mendapatkan keistimewaan berupa dibangunkan rumah di surga kelak jangan hanya mengerjakan amalan ringan ini untuk satu hari seumur hidup. Akan tetapi biasakanlah diri pula untuk senantiasa mengerjakan amalan kebaikan lain secara konsisten dan teguh pendirian. Sebab Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang mengerjakan amalan kebaikan yang meskipun perkara kecil namun senantiasa dilakukan secara terus menerus. 

Dari Aisyah r.a. beliau berkata: Nabi saw. bersabda: “Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah ta’aala tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah ta’aala sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit. Dan bila ia beramal ia beramal dengan teguh pendirian.” (HR Abu Dawud 1161)

Ada juga mendirikan shalat 8 rakaat shalat sunah sebelum dhuhur juga yang berbalas istana di surga. Rincian dari shalat sunah tersebut ialah, 4 rakaat shalat dhuha dan 4 rakaat shalat sunah rawatib sebelum dhuhur. Hal ini berdasarkan hadis dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الأُولَى أَرْبَعًا بنيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang shalat Dhuha empat raka’at dan shalat sebelum Zhuhur empat raka’at, maka dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath)
Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwasanya seseorang yang melakasanakan salat rawatib sebanyak 12 rakaat dalam sehari juga diganjar dengan pahala serupa. Shalat rawatib ialah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum atau sesudah shalat wajib yang lima waktu. Rasul bersabda dalam hadist dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi saw. bersabda,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414; Ibnu Majah, no. 1140; An-Nasa’i, no. 1795)

Meninggalkan perdebatan meski dalam posisi benar, tidak berdusta meski sekadar bercanda, dan berakhlak mulia. Hal tersebut senada dengan sabda Rasul dalam hadits hasan riwayat Abu Daud, Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Saya menjamin rumah di surga bawah, bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar; dan Saya menjamin rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan berdusta, sekalipun untuk bercanda; serta Saya memberikan jaminan rumah di surga atas bagi orang yang bagus akhlaknya (HR. Abu Dawud).

Mengalah untuk menang, mundur selangkah (mengambil kuda-kuda) untuk melompat jauh ke depan. itulah kemenangan bagi mereka yang berjiwa besar menghidari debat tidak berguna. Oleh karena itu mengalah dan meninggalkan perdebatan, pahalanya sangat besar. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138)

Menutup celah dalam barisan shalat juga menjadi salah satu amalan yang berbalas istana di surga. Barisan dalam shalat merupakan salah satu syarat sempurnanya shalat. Untuk itu sangat dianjurkan setiap muslim untuk meluruskan shaf shalat dengan merapatkan kaki-kaki dan bahu-bahu di antara mereka. Dilansir dalam kitab Ash-Shahihah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Al-Muhamili dalam Al-Amali, 2: 36. Disebutkan dalam Ash-Shahihah, no. 1892)

Demikian amal ibadah dan amal saleh yang ringan dikerjakan tetapi mengandung pahala dan balasan yang membahagiakan bagi yang bersedia mengamalkan ibadah tersebut. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang taat menjalankan kewajiban kepada Allah swt, hendaknya merutinkan amalan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah, kita akan mendapatkan kebahagian dan keselamatan hidup di dunia dan akherat.

@KajianNuruHudaKamis25022021

Sumber akun FB Ahmad Hudaifah



POSTING PILIHAN

Related

Utama 1362386049722287744

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item