Laki-Laki Lusuh

 

                                    
Cerpen: Firda Aliya

Warga perkampungan itu tampak geger. Sosok laki-laki dengan baju lusuh itu mulai dikerubungi orang. Para warga kampung mengepung laki-laki itu isyarat tak mengizinkan masuk lebih jauh ke kampung.

 “Untuk apa kamu kembali ke kampung ini?,” teriak salah satu warga yang tubuhnya besar dengan kulitnya agak hitam.

Sosok laki-laki  lusuh itu diam. Kepalanya masih tertunduk, tak berani menatap banyak mata tajam yang mengarah kepadanya.

“Kami tidak mau kampung ini cemar karena ulahmu,” tiba-tiba suara menggema, yang tak asing itu keluar dari mulut pak RT.

“Pergi kau bangsat, tempatmu tidak disini. Tempatmu lebih layak di neraka. Kampung ini tidak menerima orang sepertimu,” makian muncul dari sejumlah warga lainnya.

Diamnya sosok laki- laki tersebut semakin memancing kemarahan para warga. Mereka tak puas melihat aksi diam ‘tak berdosa’ dari laki-laki tersebut.

Satu menit kemudian, dari arah yang tidak terduga, seorang ibu paruh baya menerobos kerumunan sambil membawa sebatang kayu. Dia arahkan kayu tersebut ke kepala laki- laki lusuh itu sambil memaki “ Rasakan pembalasanku ini”. Lelaki lusuh itu tak sempat menangkis batangan kayu yang mengarah di kepalanya. Tubuhnya limbung sempoyongan sambil menahan sakit. Darah mengucur dari kepala laki- laki lusuh itu.

“Hei, apa-apaan ini!.  Hentikan atau kalian akan berurusan dengan hukum. Kita tidak boleh main hajar, main hakim sendiri. Negara kita negara hukum,” suara nyaring muncul dari kejauhan. Pak lurah menghentikan sejenak aksi sadis para warga.

“Ala, orang macam dia gak perlu hukum Pak lurah. Dia pantas menerima akibat dari perbuatannya,” sanggah salah satu pemuda kampung.

Sementara itu laki-laki lusuh  masih menyeringai menahan sakit di kepalanya. Dia menyeka darah yang keluar dari batok kepalanya dengan baju lusuhnya.

“Berani-beraninya kamu balik ke kampung ini setelah apa yang kamu lakukan pada kami?,” ujar salah satu sesepuh kampung tersebut.

“Baiklah, saya angkat bicara sekarang,” ujar laki-laki itu dengan menatap orang-orang disekelilingnya.

Ia pun mulai menceritakan alasannya kenapa ia kembali dari kampung tersebut.

Ia bercerita, bahwa setelah  nyawa putri semata wayangnya melayang , laki-laki itu bersama istri bersumpah akan membalas semua sakit hati mereka. Menjadi miskin bukanlah pilihannya. Putrinya sakit dan meregang nyawa karena tidak memiliki biaya juga bukan keinginannya. Ya,keinginan dari sistem yang salah- prosedur birokrasi- yang diplintir-plintir hingga mengagungkan yang kuat. Sebaliknya melemahkan, menistakan yang papa dan lemah.

“Ya, saya dan keluarga saya yang dinistakan karena golongan lemah,”  keluhnya.

Ia melanjutkan dan menyebut bahwa negeri ini rasanya tak pernah memberi kesempatan bagi yang lemah untuk mendapatkan perlakuan yang sama .

“Anak saya meradang sakit ,bukannya diberi pertolongan. melainkan dibiarkan menunggu prosedur ini - itu terselesaikan. Kami sakit hati. Kami tidak terima diperlakukan seperti ini,”.jelas laki-laki itu pasrah.

Ia menyeka air matanya yang merembes dari sudut-sudut matanya.

***
Enam bulan setelah itu....

Lelaki lusuh dan istrinya kembali ke kampung dan menyewa rumah kecil yang ada di gang-gang sempit. Keduanya masih miskin seperti dulu. Lelaki itu kadang jadi kuli bangunan, kadang pula jadi kuli barang dagangan di pasar, serabutan , sekedar untuk biaya makan.

“Tapi kami tidak lemah di keyakinan. Ajaran kami menyerukan untuk berjihad. Masuk surga adalah misi kami. Apalah arti dunia, bila dunia yang kita pijak penuh orang berdosa. Kematian,kepahitan tidaklah berarti jika balasannya nanti bertemu tujuh bidadari saat ajal datang,” tuturnya dengan nada bergetar.

“Harusnya kamu dan istrimu yang mati. Bukan keluarga kami, Woi bangsat !,” kecam ibu yang membawa sebatang kayu dan mengarahkan kayu itu ke pundak kiri lelaki lusuh

“Tahan, tahan amarah ibu. Biarkan dia bercerita” Pak Lurah berhasil menahan ayunan kayu kali kedua dari si ibu.

“Kenapa kau kembali ke kampung ini? Bukannya kau puas sudah membunuh anakku dan warga kampung lainnya yang tak berdosa itu? “ teriak ibu yang anaknya ikut tewas dalam kejadian naas itu.

“Saya mohon ampun,” jawab lelaki lusuh itu bersimpuh. Badannya terguncang hebat dengan deraian air mata yang semakin deras.

“Jasad istri saya yang tidak utuh telah menyadarkan saya. Betapa biadabnya kami. Bumi yang kami injak enggan menerima jasad istri saya. Tidak ada yang mau mengakui bahkan menguburkannya'”

“ Izinkan saya mengakui jasad yang tak utuh itu sebagai jasad istri saya dan izinkan pula saya menguburkannya. Saya mengakui kesalahan saya yang telah sesat mengartikan jihad selama ini.

Lelaki lusuh itu berdiri lalu bersimpuh di kaki ibu yang sedari tadi tangannya menggenggam batangan kayu.

“Saya mohon ampun...Apapun yang akan dilakukan warga, saya ikhlas”

Sebuah ayunan kayu menyambar kepala lelaki lusuh itu. Tubuh yang lusuh itu pun tersungkur dengan darah segar keluar dari kepalanya. Diam tak bergerak.

Firda Aliya ( Ilmi Firdaus Aliyah , pengajar di MAN 2 MOJOKERTO

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2855407450655467750

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item