Genggaman Tangan


Cerpen: Suraenah

Kunang–kunang tampakkan sinarnya. Angin turut melambai–lambai dengan tenangnya. Pada tengah malam yang begitu syahdu ini, Tania terbangun dari tidurnya tanpa rengekan tangis. Merangkak, meraih kaki meja di samping tempat tidur.

Tanpa disadari, Ibu Tania juga bangun. Tania mulai berdiri. Ibunya menyaksikan secara langsung, pertama kali Tania berdiri. Tak mau suaminya melewatkan momen itu, di tepuklah pundak sang suami. Dalam satu tepukan, ayah pun terbangun. Tak seperti biasanya, susah dibangunkan.

“Yah,.” ucap Ibu.

“Ada apa, Bu? lho, Tania mana?”.

Seketika duduk, tidak mendapati si buah hati disampingnya. Lalu melihat ke sekitar.

“MasyaaAlloh, Alhamdulillah. Putri ayah sudah mulai berdiri.

Walaupun pertama kali, Tania berdiri cukup lama. Ibu dan ayah segera mendekati sang buah hati. Ibu menggenggam tangan mungil Tania. Senyuman merekah indah, di sudut bibir keluarga kecil itu.

“Tania kasih kejutan buat Ayah & Ibu di tengah malam begini ya, sayang?,” cium ayah, setelah Tania terlelap kembali.

“Iya yah, momen yang akan menjadi kenangan sekali.” Jawab Ibu.

Tania meminta ayah untuk mentitah Tania. Hingga ayah merasakan kantuk saat di kantor. Setiap waktu, genggaman tangan mungil itu sangat terasa. Pernah tangan itu tergores, terluka. Jatuh, bangun. Jatuh, bangkit lagi. Pantang menyerah. Kegigihan dan perjuangan anak kecil dalam proses latihan berjalannya. Tertatih – tatih, terlatih. Hingga pada umur ke-10 bulan, Tania sudah dapat berjalan.

***

Ibu menceritakan kisah putrinya di tengah malam kala itu. Di ruang keluarga, suasana penuh canda tawa. Hal itu berubah, ketika Tania akan makan. Ibu tak pernah absen menasehati putri satu -  satunya itu agar tidak “nggenggem tangan” yang maksudnya adalah malas, tidak ringan tangan melakukan pekerjaan rumah.

Tania suka menunda – nunda. Menjawab nanti. Sebentar. Hingga pada akhirnya, tetap ibunya lah yang menyelesaikan tugas.

Suatu ketika, ibu Tania harus menginap di rumah saudara beberapa hari. Mau tidak mau, Tania harus menggantikan seluruh pekerjaan ibu di rumah.

“Kalau ada ibu, aku seringkali menjawab nanti. Bahkan, ya udah ngga usah, kan ada ibu. Seharian mengerjakan tanpa ada yang membantu, ternyata melelahkan. Ibu tidak pernah mengeluh, ketika sakit pun, aku hanya membantu sedikit. Itupun ketika ibu meminta dahulu.” Batin Tania.

***

Sepulang ibu dari rumah saudara, sikap Tania tetaplah sama. Walau Tania belajar kelompok dengan teman – teman, ibunya senang anaknya bergaul dengan teman – teman, semangat belajar. Seharusnya dia bisa membagi waktu dengan baik. Sebelum pergi, mencuci pakaiannya dahulu. Minimal itu, kepunyaan sendiri.  

Akhirnya, ibu benar – benar marah dan jatuh sakit. Membiarkan Tania, tidak meminta bantuan. Ibu bicara pada Tania seperlunya. Apakah Tania berempati membantu tanpa harus ibu atau ayahnya menyuruh dahulu. Beberapa hari, Tania merawat ibu dan menyelesaikan pekerjaan rumah.

Tania mengingat sesuatu. Ya, mengingat kisah masa kecilnya. Yang pada saat itu, ibu ceritakan di ruang keluarga. Dimana, Tania kecil selalu digenggam tangan oleh orang sekitar, untuk berlatih berjalan. Kini, genggaman tangan yang mungil itu, sudah berubah menjadi kuat. Tumbuh dewasa. Sudah saatnya, genggaman tangan mungil itu berubah menggenggam segala pekerjaan,semangat dan ringan tangan.

Tania menyadari dan merubah sikapnya. Berusaha untuk tidak “nggenggem tangan” seperti yang selalu ibunya ucapkan. Ketika ibunya sudah sembuh pun, sikap Tania sudah berubah. Ibu Tania senang melihat perubahan anaknya itu.

______________________
Suraenah, lahir  di Purbalingga, 8 April 2000, tempat tinggal Wirasaba Teya, rt 01/ rw 10 , Kec. Bukateja, Kab.Purbalingga, status mahasiswi, hobi membaca dan menulis. Motto hidup : Berjuang dalam kesederhanaan



POSTING PILIHAN

Related

Utama 6597816996664042718

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item