Sekali Lagi Tentang Honor Tulisan


Mustafa Ismail

Sungguh lucu jika sebuah media besar tak memberi honor kepada penyair yang puisinya dimuat. Saya bisa paham jika hal itu dilakukan online sastra rumahan -- yang dikerjakan dari teras rumah atau kos-kosan. Mereka wajar bila tak mampu memberi honor dan penulis pun akan selalu suka cita mengirim karya ke sana sebagai bagian dari upaya meramaikan sastra.

Tapi alangkah komedikal jika media ternama, apalagi yang berada dalam sebuah korporasi besar, mengajak penulis bergotong royong membesarkan mereka. Penulis hidup dari tulisannya -- terlepas apakah ia punya pekerjaan tetap atau tidak. Tulisan adalah hasil jerih payah mereka. Proses menjadi penulis tidak instan: butuh belajar, membaca terus-menerus, dan bergulat tanpa henti.

Buanglah imaji dan narasi absurd semisal demi menggairahkan dan mengembangkan sastra, apalagi halusinasi agar Indonesia suatu saat bisa meraih nobel. Sungguh celaka jika pengelola media menciptakan narasi-narasi yang menina-bobokan demi mengelak kewajiban membayar honor penulis. Tapi saya yakin penulis tidak mudah terharu dengan narasi semacam itu.

Penulis bisa memilah mana media yang cuma mau "memperkuda" mereka dan mana yang benar-benar tak mampu dan harus didukung. Saya dengan senang hati menyambut undangan menulis di media yang digarap dengan semangat gotong royong dan berbasis komunitas meski tanpa honor. Tapi untuk media yang secara kasatmata mampu, apalagi mentereng: honor itu wajib!

Bertanya honor itu hal biasa saja. Tak haram. Entah honor tulisan media atau honor penulis mengisi acara. Itu memang hak penulis. Kerjasama penulis dengan pengelola media dan penyelenggara acara ibarat jual-beli. Prosesnya harus saling terbuka. Bahkan boleh jadi ada negosiasi dan tawar-menawar. Itu tak haram. Dan itu tak ada kaitannya dengan ideliasme, similikiti, dan sebagainya.

Jadi, sudahlah, tidak usah pakai beragam narasi yang mengangkangi hak penulis. Kalau pengelola media tak punya anggaran untuk memberi honor penulis, tidak usah menerima tulisan dari luar -- entah itu puisi, cerpen, esai, resensi, dan sebagainya. Jangan bikin penulis berharap.

Kalau pun dipaksakan tetap ada, buat pengumuman secara jelas di rubrik itu: "Kami tidak mampu memberi honor untuk karya yang dimuat". Jika malu bikin pengumuman "miskin" semacam itu, tutup saja rubrik itu. Tak ada siapa pun yang menangisinya jika media menutup rubrik sastra karena alasan bisnis mereka. Pun sastra tidak akan bangkrut hanya karena ada media yang menutup rubrik puisi atau cerpen.

Bersikap terbuka dan menyatakan secara jelas kondisinya jauh lebih baik daripada diam, yang bisa menjebak penulis untuk "membuang garam ke laut". Mereka sudah mengirim karya, ditunggu-tunggu honornya tak sampai juga. Giliran ada penulis yang bertanya apakah ada honor jika karya dimuat, pengelola media marah-marah. Ingatlah, kita hidup di bumi, dengan tuntutan-tuntutan yang nyata: tak ada uang, orang tak makan. Penulis tidak hidup dari makan puisi!

Penulis pun perlu tegas: jangan kirim tulisan ke media besar yang tak memberi honor. Jangan mau dinina-bobokan dengan narasi "kalau penulis beriorentasi honor kapan sastra akan maju." Itu adalah narasi kapitalis yang ingin menjebak dan memaksa penulis bergotong royong untuk memperkaya mereka. Waspadalah!

MI 221221

Posting aku FB: Mustafa Ismail


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2748171507369302248

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

ADS

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item