Serangkum Pentigraf Yudi Hermawanto


Pentigrafis: Yudi Hermawanto

Beras Jatah dari Bapak

Masih ku ingat betul raut wajahnya, saat diserahkan tas kresek hitam itu kepada ibu. Beras warna coklat bulukan, jika ditumpahkannya ke atas tampah akan muncul kutu berlarian disela - sela beras. Ibu hanya pasrah menerimanya. Ujung bibirnya terangkat, tanda kesedihan mulai mendera. "Tambah elek Pak berase...!" sembari memutar beras dan membaliknya, agar kulit dan kotorannya terbawa angin. Beras yang dibungkus karung goni itulah makanan harian kami..

Bapak hanya terdiam. Gajinya sebagai guru negeri tak pernah berakhir sampai bulan berikutnya, sekedar digunakannya membeli beras untuk campuran. Hasrat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. "Ora apa-apa yo Le, mengko dilawuhi tahu karo jangan tewel lak enak." katanya mencium pipi sambil menggendongku dari atas meja makan kayu tempatnya bekerja. Aku hanya tertawa sambil merangkul lehernya yang jenjang, diajak mengoreksi tumpukan soal yang dibawanya.

Bau obat nyamuk yang dipergunakan untuk menscan soal melalui lubang yang dibuatnya masih saja terasa pengar, tapi tetap saja membuatku gembira saat aku selesai menghitung lubang-lubang yang berisi jawaban yang salah. "Aku emoh dadi guru Pak, dadi pensiunan ae" ceplosku. Bapak hanya tersenyum samar. Persis foto yang masih dipajang di pusaranya.

Selamat Hari Guru

Sby, 25/11/21

 

Si Penjaga

Kelas itu,9B, adalah kelas paling sangar. Barangkali tepat kata pepatah, tempat jin buang anak. Lokasi yang dekat perlintasan kantin membuat suasana teduh untuk belajar tak pernah terjadi. Kelas yang akan membuat perut mulas siapapun yang akan mengajarnya. Dinding triplek penyekat yang terkelupas disudut - sudut antar kelas menambah kesan kumuhnya. Gerbang neraka itu tentu dijaga oleh seorang panglima. Adalah Lailatus, si penjaga, pemimpin segala teror bersama 3 kawan gadisnya. Meski berkawan, mereka juga saling berkhianat. Sang panglima inilah yang mengisi dinding toilet dengan kata - kata busuk. Ia pulalah yang sering membuang pembalut disela - sela dinding.

.Sejak 3 hari lalu Ia terlihat tertunduk melihat siapapun guru yang berdiri di depan kelas. Kegarangannya tak nampak. Seluruh penghuni kelas waspada, kegaduhan apalagi yang tengah disusunnya. Hampir tak sekalipun ia berani memandang wajah guru yang berdiri di depan kelas. Air mata ketakutan sering kali keluar tanpa ia sadari. Apalagi jika guru pengajar itu perempuan, sering ia merengek mengisyaratkan agar sang guru segera menjauh, dan keluar dari kelas.

Maka kelas itu semakin misterius, jadi lebih hening, karena seluruh mata lebih tertuju ke arah Sang Penjaga yang akan memerintahkan dengan garang sekaligus ketakutan, manakala ada siswa yang membuat gaduh kelas. Ia akan bilang bahwa mulai sekarang kelas tak boleh ramai, karena jika dilanggar ia akan ditegur, bahkan dimarahi, oleh sosok tanpa Wajah yang berlumuran darah yang selalu terlihat pada siapapun guru yang mengajar di kelasnya, sejak pembalut yang dipakai ia lempar di sudut kamar mandi sebelah selatan.

Surabaya, 06/11/21

 

Pertaruhan

Seumur - umur baru kali ini ia ikut tes seleksi. Ujian yang akan membawa nasibnya ke tempat yang belum ia bayangkan sebelumnya. Bahkan demi peristiwa itu ia rela mempersiapkan diri berhari - hari bergumul dengan vidio "Cara cepat lolos Tes P3K", yang banyak diobral vidio berbagi itu. Jangankan menjawab, mengertipun ia harus susah payah. Sekarang, kumpulan manusia berseragam hitan putih yang duduk berderet itu sungguh menggelisahkannya.

Dipandanginya kursor yang bergerak - gerak di dalam monitor 21 in yang membuat matanya berkedut lebih cepat. Air matanya meleleh, sadar jika gagal, maka ia akan disingkirkan. Pelukan si kecil yang tadi ia tinggalkan membayang di sudut kepalanya, juga cium tangan belahan jiwa yang telah menemaninya selama ini, lebih nyata dari pada tulisan - tulisan yang muncul. Ia jauh lebih membutuhkan jawaban atas nasibnya, 30 tahun lebih pengabdiannya tak banyak menolong.

Usai menyantap nasi bungkus setelah ujian, dilihatnya waktu tak lagi memungkinkannya kembali bertugas. Perlahan, dikenakan jaket hijau yang biasa ia pakai setelah jam mengajarnya selesai. Dinyalakan aplikasi, menunggu nasib baik menjemputnya.

Surabaya, 10/10/21

  •  

Surat Cinta Tanpa Kata Cinta

Kalimat-kalimat yang akan dituangkan dalam berlembar-lembar kertas itu adalah gejolak hasrat terdalam tentang cinta dan kasmaran. Mewakili perasaan yang tak mampu ia utarakan. Terlalu malu, dan juga takut jika perasaan itu tak bertaut. Lembaran kosong itu hanyalah wajah sang pujaan hati yang menunggu diukir dengan kata - kata cinta.

Kala itu tak ada WA, yang bisa bertelepon bahkan bervideo call, sekedar berkata "Aku Kangen !" Butuh sesuatu yang kuat agar tangan itu bisa mewakili kegundahannya, lalu mengirimkannya menggunakan pos kilat khusus paling cepat, agar diterima dan dibaca. Lalu bersiap tersiksa berhari - hari menunggu balasannya.

Aroma kecut kopi basi, serta derit kipas angin yang berputar di atas kepalanya benar - benar membuatnya frustasi. Belum ada satu lembarpun yang diselesaikannya. Berjam - jam duduk, sampai akhirnya diputuskannya besok pagi sekali menitipkan surat itu ke Mas Bagyo kondektur Bus Harapan Jaya, agar diantar ke rumah wanita pujaannya. Selembar surat yang isinya hanya kata "Aku Kangen..!!"

Surabaya, 19/09/21

 

*Tunggu Aku, Bidadariku*

"Saya terima nikahnya Ina Binti Rusman, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dan uang Rp 71.000.- dibayar tunai". Genggaman penghulu di tangan Budiman terasa mantap. Melirik wanita disampingnya yang menunduk bahagia. Dia, wanita 21 tahun yang lalu menerima surat cintanya itu, telah menjadi miliknya. Penantiannya kini berujung.

Air mata Ina mengalir tanpa bisa dicegah. Kilasan cerita cintanya begitu nyata terpampang. Ia begitu bahagia. Baginya, perjuangan saat itu sangat sepadan. Tetesan air mata itu rupanya juga menggerakan pulsa pada bed site monitor disampingnya. Lonjakannya begitu tiba - tiba dan mengeluarkan alarm lantang yang dengan segera membawa orang - orang berpakaian APD memberikan tidakan medis. Saturasinya menurun, mengiringi detak jantung yang melemah. Batas kesadaran pun menghilang, tubuh itu bukan lagi miliknya. Dalam kesesakan nafas, sekilas terlihat laki-laki yang memberikan pinangan kepadanya itu menangis. Mengapa Ia berdiri begitu jauh ? "Mas...!" teriakmya. Tak satu katapun yang keluar dari mulutnya yang dibalut masker oksigen.

Dari balik jendela kaca ruang ICU, Budiman menempelkan tangan seolah mengijinkan Ina pamit kepadanya. "Tunggu aku, bidadariku..!" suaranya lirih teredam tangis yang semakin deras. Tangan kirinya terkepal erat cutter yang siap merobek nadi untuk menyusul Ina.

Surabaya, 27/08/21

 

Another Love Story

Memandangi dari dalam bis Puspa Indah yang mulai jalan pelan itu membuatnya menderita. Sosok itu setia menunggunya menghilang . Tubuhnya gelisah, berteriak meminta kondektur menghentikan bis, sekedar menghambur ke dalam pelukan perpisahan yang menyesakkan dada. Tangannya melambai, lirih ia kirimkan kesakitanhatinya. "Kamu hati - hati, ya..". Setitik air tertumpah di sudut mata !

Debu knalpot bus pun mulai menebal. Lelaki itu melangkah sejajar laju bus yang masih perlahan, pandangan matanya tak pernah lepas dari wanita itu. Nafasnya memburu, berteriak dalam diam agar segera turun, terulur berusaha menggapai bayangan yang mulai memudar.

Dari dalam bus, sejauh kepalanya memutar, terlihat bibir lelaki itu berucap. "I Love You...Tunggu aku ya!" Dan ia pun mengangguk tak pasti. Tersadar Mas Partono, suaminya, belum ia balas chatnya sejak semalaman.

Surabaya. 14/9/21

 

Fantasi

Sumpah serapah itu diucapkan sambil memukuli kepala berulangkali. Geram, marah namun tak berdaya. Ia paham sedang dipermainkan. Kemarin saja tabungan di bank sudah dikuras. Meski tak mahal, harga bakso langganan itu setara dengan uang makannya. Kali lain, jatah beli aki motor dihabiskannya disalah satu cafe. Ia benar - benar terpenjara oleh fantasi yang dibangunnya. Lupa sejenak kehidupan diusia yang tak lagi muda. Wanita itu begitu membuai !!

Fe, wanita muda itu, telah membutakan mata dan hati. Melupakan sejenak wajah lusuh Istri dan anak di rumah. "Ini yang terakhir !" tekatnya mengakhiri penjajahan atas dirinya .

"Cheese burger 2, ice lemon 1, dan mineral 1, total 150 ribu pak !". Angka itu membuatnya lemas, lembaran kumal 150 ribu yang tersembunyi di dompet digenggamnya erat, siap - siap berpindah tempat. Ia tetap saja tak kuasa menolak menuruti keinginan agar bisa dekat Fe. Dilirik fantasinya itu sedang asyik tertawa lepas di medsos dengan teman sekampusnya. "Mas. Tolong anterkan ke mbak yang baju biru itu. Dia yang bayar ! " sambil ngeloyor pergi keluar restoran.

Surabaya, 9/9/21

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 595897314429675541

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item