Seberkas Pentigraf Antriyani

Pentigrafis: Antriyani Ulang Tahun Jack memilih salah satu koleksi bajunya dan celananya yang hanya berjumlah tiga potong. Baju kotak hitam ...


Pentigrafis: Antriyani

Ulang Tahun

Jack memilih salah satu koleksi bajunya dan celananya yang hanya berjumlah tiga potong. Baju kotak hitam putih, celana berbahan kain warna hitam, dan sepatu pantofel hitam menjadi setelan kebanggan hari ini. Tak lupa kado yang dimasukkan ke dalam paper bag coklat dijinjingnya menuju rumah Arni.

Siang ini, ia menghadiri acara ulang tahun Arni adik Susi gadis manis tetangganya. Sedari pagi, Jack sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan datang ke acara itu meskipun dirinya tak diundang. Ia ingin menunjukkan pada Susi bahwa dirinya sangat perhatian pada adiknya. Harapannya, Susi akan terharu dan simpati kemudian jatuh hati padanya.

Acara ulang tahun Arni berlangsung meriah. Di balik itu semua, Jack merasa aneh berada di situ. Sebabnya, undangan yang hadir kebanyakan teman-teman Arni yang usianya masih belasan tahun. Jack satu-satunya undangan yang bukan golongan mereka. Susi membaca pikiran Jack. Ia maju ke depan dan memperkenalkannya pada para undangan. "Oh ya, ini Om Jack. Tetangga baik yang sudah saya anggap Om sendiri," ucap Susi disambut riuhnya tepuk tangan para undangan. Sungguh, kata-kata Susi begitu mengiris hatinya. Ternyata dirinya hanya sebatas 'om' buat Susi. Jack pun pulang tanpa menunggu acara usai.(*)

****

Sukosari, 23 November 2021

 

 Tiba-Tiba

Langit siang berubah mendung. Dalam hitungan detik airnya meruah hebat, merajai semesta. Aku tak bisa meninggalkan sekolah ini. Begitu pula denganmu. Sepatah bincang penghangat tak ada di antara kita. Label pendiam yang terkesan angkuh cukup membuat orang lain enggan mengajakmu berbincang. Terlebih aku sebagai siswa baru di sekolah ini.

Rasa gelisahku semakin berkuasa. Hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bayangan wajah ibu yang sedang menungguku menyembul di antara genangan air. Perempuan yang mempertemukan aku dengan dunia itu pasti dalam keadaan cemas. Alam seakan tak berpihak padaku.

Teras depan kelas menjadi satu-satunya tempat berteduh yang paling nyaman. Tempat ini berdekatan dengan tempat parkir motor. Aku tak bisa memilih cara lain untuk pulang, selain menunggu hujan reda. Jas hujan yang biasa aku bawa ternyata tertinggal di rumah. Isi benakku masih melayang pada hujan, jas hujan, dan ibu, saat sebuah mobil berhenti tepat di depanku. "Yuk pulang, motormu aman, udah aku titipin sama Pak Pam," ucapmu yang tiba-tiba berdiri di sampingku. Dalam hitungan detik aku sudah berada di dalam mobil yang menjemputmu.(*)

****

Sukosari, 20 November 2021

 

Hujan

Perasaan apa lagi yang kupunya. Semuanya sudah tergadai pada sosokmu. Tentangmu seperti tak ada habisnya. Selalu menyihir otakku dengan berbagai cara.

Seperti kali ini. Hujan membuat aku dan kamu terpaksa bertahan di kantor. Tak ada sepatah bincang di antara kita. Meskipun, ruangan ini cukup luas memberikan waktu dan kesempatan buat kita yang hanya berdua. Sepintas, aku melihat wajah manismu fokus mengarah pada layar komputer. Dan, aku hanya bisa mengagumimu dalam diam. Jiwa pengecutku terlalu renta untuk mengakui semua perasaan suka yang kumiliki. Entah mengapa kekagumanku tak tergilas oleh sikapmu yang cenderung cuek dan tak mau tahu.

Aku segera berkemas saat hujan deras berubah menjadi rintik-rintik kecil. Kutinggalkan ruangan ini tanpa sebaris kata pamit padamu. Kamu pun diam membisu meski aku melintas di depanmu. Langkah kakiku belum menginjak teras ruangan saat hujan deras kembali mengguyur. "Aku antar ke rumahmu, jangan menolak," ucapmu tiba-tiba. Entah kapan kamu berdiri di sampingku. Detik berikutnya, aku hanya merasakan hangatnya genggaman tanganmu dengan gemuruh di dada yang kian membahana.(*)

****

Sukosari, 19 November 2021

 

Memeluk Hujan

Aku berbaur dengan belantara hujan. Mereka tak akan tahu seberapa banyak air mata yang berderai di kedua pipiku. Tak terkecuali kamu.

Seperti kali ini. Hujan berhasil mengaburkan air mataku. Hanya dia yang tahu, seberapa perihnya luka yang mengiris kalbuku. Tak perlu pula orang lain tahu luasnya nestapa yang harus kutanggung. Cukup aku saja.

Bermacam pengakuan sesatmu membuat aku harus selalu maklum. Perihku bertumpuk lara. Sementara, dirimu tak pernah merasa bersalah dan berdosa. Terlalu terbiasa atau memang hatimu tanpa rasa. "Aku akan menceraikanmu," ucapmu datar ketika hujan dan senja tanpa jingga. Kata-kata yang kesekian kalinya. Lagi-lagi, aku menghambur dalam pelukan hujan. Hanya dia yang mengerti segalanya.(*)

****

Diksi Rasa, 15|11|21

UNDANGAN

Rindu ini selalu menggenang. Bertumpuk kemudian membukit. Tak bisa kulerai dengan berbagai kesibukan. Apapun tentangmu selalu terlukis indah di dalam benakku.

Sepuluh purnama, aku terajam rindu. Sua terakhir saat kau berkata pamit. Sebuah perusahaan besar menunggumu sebagai karyawannya. Jelas saja aku bangga ketika itu. Seribu asa masa depan kutitipkan pada kepergianmu.

Namun, ada yang tak biasa. Kabar tentangmu sudah tak pernah kuterima sejak tiga bulan lalu. Berpuluh-puluh kali menghubungimu tetap tak ada tanda-tanda direspon. Rasanya semua media komunikasi tertutup untukku. Hingga sore ini, aku menerima sebuah undangan pernikahan virtual dengan tambahan kalimat. "Hadir ya! Maaf undangannya tidak aku antarkan langsung," tulismu tanpa beban. Di dalamnya tertulis namamu dan nama perempuan yang pernah kau ceritakan padaku. Dunia rasanya hancur seketika. Jiwa ragaku tercabik sempurna. Kamu lebih memilih dia, anak pimpinan perusahaanmu.(*)

****

Sukosari, 13 November 2021

 

Gelap Pekat

Hatiku gegap gempita. Sekira sepuluh menit lagi aku akan bertemu pujaan hatiku. Bus ini akan mengantarku ke rumahnya.

Momen ini sudah kunantikan sejak tiga purnama. Aku sengaja tak berkabar tentang kepulanganku pada Ella kekasihku. Biarlah, ini akan menjadi kejutan buatnya.

Bus berhenti tepat di jalan depan rumah kekasihku. Aku merasa tersanjung, sepertinya dia memprediksi kepulanganku. Buktinya rumahnya agak ramai layaknya akan ada acara besar. Ah, Ella pasti akan memberikan surprise padaku. Aku melangkah masuk ke halaman. Aku bertanya pada seorang yang sibuk menata kursi tentang Ella. "Masih dirias di kamarnya. Acara tukar cincin dengan Mas Rendi masih jam sebelas. Mas bisa menunggu dulu." Kalimatnya membuat tubuhku lemas. Detik berikutnya, sekelilingku menjadi gelap.(*)

****

Sukosari, 11 November 20

Sumber: Kampung Pentigraf Indonesia

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2801993652972301607

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item