Raut Esensial Islam di Madura


Buku tipis: Wajah  Islam Madura. Namun  eksotis dalam  mendeskripsikan serta kritis dalam menguak bagaimana raut esensial wajah Islam yang berkembang di tanah garam: pulau Madura. Beberapa kumpulan esai yang terbagi sub-sub tema dalam buku ini, menyajikan betapa madura merupakan pulau dengan sekelumit kisah mengenai kehidupan beragama yang begitu kental di tengah masyarakat Madura. Mulai dari tema menyelami Madura, Menajamkan Nurani, Pesantren dan Prinsip Beragama Orang Madura, agraria dan Maritim Hakikat Pendidikan Karakter, hubungan antara Madura dan NU serta tradisi-tradisi keagamaan. Semua kumpulan esai tersebut disajikan kepada pembaca dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.

Islam ala Madura tergambar jelas dalam buku karya A. Dardiri Zubairi ini, bahwa setiap yang melekat dalam diri Madura berupa tempat tinggal hingga  tingkah laku dalam kemasyarakatan bernafaskan Islam yang  Rahmatan lil ‘Alamin. Tradisi keIslaman dalam kehidupan masyarakat di madura merupakan elemen yang fundamental. Hal ini tidak lepas dari peranan Nahdlatul ‘Ulma (NU). Di Madura sendiri, NU bukan hanya sebatas organisasi kegamaan semata. Melainkan warga madura percaya, bahwa NU baginya adalah agama. Melestarikan ke-NU-an ialah embanan amanah yang harus tetap dijaga ditengah hiruk pikuk kelompok yang membawa ideologi keagamaan melenceng dari orisinilitas NU. Seperti halnya  radikalisme agama.

Dalam historis, salah satu ulama besar yang berasal dari Bangkalan, Syaikhona Kholil tidak terlepas dari berdirinya NU di Madura. “orang madura dituntut memiliki tanggung jawab besar merawat NU sebagai wasilah merawat warisan berharga para muassis NU termasuk warisan Syaikhona Kholil” (halalaman 93). Sebab kepercayaan bahwa NU dianggap agama maka urgen menjaga serta merawat ke-NU-an dengan gerak berupa tanggung jawab bersama dari berbagai gempuran radikalisme agama

Tradisi ajaran Islam yang masih setia dianut masyarakat madura ialah ajaran yang berorientasi pada ajaran ahlussunnah wal jamaah An-Nahdliyah. Dalam buku ini juga dibahas bagaimana orang madura menjaga tradisi-tradisi An-Nahdliyah melalui beberapa ritual keagamaan, perkumpulan religi, pesantren, pendidikan karakter serta solidaritas antar sesama. Sehingga dari semua itu tampak kukuhnya kearifan lokal terpancar dari tradisi-tradisi yang telah mengakar di madura.

Solidaritas antar sesama yang melahirkan rasa kekeluargaan misalnya, bagi orang madura, seorang tamu bukan hanya sekadar orang yang bertandang semata. Melainkan, dianggap seperti bagian dari sanak familinya. Walaupun yang bertamu rekan kerja ataupun kawannya. Sehingga terciptalah rasa kekeluagaan.

Bagi orang madura pula, kopi merupakan suguhan wajib disetiap ada seseorang yang bertamu. Kopi berperan menjadi pengerat rasa kekeluargaan dalam sebuah suguhan serta merupakan etika  dalam pergaulan, utamanya dalam hal bertamu sebagai penghangat sebuah pembicaraan. Sebuah perbincangan tidak akan dimulai jika kopi tidak tersaji. Jadi, dapat dikatakan bahwa jika kopi tidak disuguhkan oleh tuan rumah, maka terjadi sebuah kemusykilan dalam etika pergaulan itu. Manifestasi dari tradisi keberIslaman ala orang madura yang mengandung nilai-nilai Islam yang luhur disetiap tingkah laku. Seperti halnya mengajarkan hakikat persaudaraan serta makna daripada rasa kekeluargaan.

Penulis buku ini, A. Dardiri Zubairi memang berusaha mengulas segala hal seputar pengalaman dari masa kecilnya. Bagaimana ajaran Islam di lingkungannya (madura) terimplementasi secara baik dalam kesehariannya. Hal itu telah mengindikasikan bahwa masyarakat Islam madura bereksistensi membangun peradaban-peradaban Islam. Salah satunya melalui tempat menempa pendidikan berkarakter yaitu pondok pesantren.

Namun, sebelum ke pesantren biasanya seorang anak dibimbing terlebih dahulu oleh guru ngaji di surau-surau. Tidak hanya sebatas mengaji, para anak-anak di madura juga diajari tentang mengabdi, seperti menyapu, mengisi bak mandi sang guru ngaji dan lain sebagainya. Realitas seperti ini disisi lain masih lestari. Akan tetapi, seiring dengan berkembangnya zaman, semua kebiasaan luhur tersebut tampaknya mulai terkikis akibat sikap modernis dan hedonis. Perlahan tradisi mengaji serta mengabdi mulai kabur.

Tak dapat dimungkiri, perubahan mulai terjadi bertepatan dengan infrastruktur Suramadu yang menjadi jembatan masuknya berbagai perubahan sosial-kultur, ekonomi serta bangunan. Madura mulai dilirik dari segala bidangnya khususnya oleh investor asing. Seperti jamak telah terjadi peralihan hak milik tanah sangkolan (warisan) dari penduduk pribumi madura beralih kuasa pada investor yang tergiur dengan tanah di madura yang berpotensi menghasilkan keuntungan besar salah satunya melalui industri tambak udang.

Padahal, bagi orang madura tanah sangkol adalah tanah yang dikeramatkan. Sebab merupakan pemberian berupa warisan yang diamanahkan oleh para leluhur. A. Dardiri Zubairi sendiri  merupakan pegiat agraria yang mencoba mengedukasi masyarakat dengan mendirikan komunitas BATAN (Barisan Ajaga Tanah Ajaga Na’Poto) Berarti “Barisan Menjaga Tanah, menjaga Anak Cucu”.

Selain itu, dalam ranah perpolitikan masyarakat pedesaan Madura lebih cenderung berorientasi pada politik kiai. Terbukti, seperti di Sumenep, empat kali dihitung sejak era reformasi, di Pamekasan tiga kali berganti-ganti semua masih kepemimpinannya dipegang kiai, sampang pernah satu kali dipimpin kiai dan di Bangkalan sama halnya dengan di Sumenep (halaman 112). Dengan begitu menggambarkan bahwa seorang kiai dipercaya mampu merevolusi ke arah yang baik wajah perpolitikan serta peran kiai dianggap begitu penting dalam siklus kehidupan manusia.

Himpunan esai-esai dalam buku “Wajah Islam Madura” ini, merupakan wujud kepekaan penulis, A. Dardiri Zubairi akan raut esensial wajah Islam di madura dengan segala fenomena sosial, kultur, politik, ekonomi dan geografis madura. Membaca buku ini, dapat memberikan impresi tersendiri tentang bagaimana wujud asli ataupun bentuk esensial Islam Rahmatan lil ‘Alamin dalam keseharian masyarakat madura. Wallahu A’lam. (Anis Safitri)

__________

Anis Safitri adalah mahasiswi aktif Program Studi Hukum Ekonomi Syariah di INSTIKA Guluk-guluk Sumenep. Resensi ini mendapat juara 1 pada event lomba Hari Pers Nasional 2020 tingkat lokal di PP Annuqayah.

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4381559648531677649

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item