Majikan Ratri

 


Cerpen:  Murni Tiyana

 'Cinta tak kenal pengorbanan. Saat engkau mulai berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar.'( Sujiwo Tedjo)

Ratri terhenti membaca ketika sampai pada kalimat pembuka di rubrik TaliJiwo Jawa Pos. Tugasnya di sini selain membereskan rumah adalah setiap pagi membacakan koran untuk majikannya. Hampir lima tahun Bu Niken menjadi majikannya. Seorang perempuan cantik yang sakit-sakitan dengan hati begitu lembut. Jarang terlihat marah atau cemberut, lebih banyak mengumbar senyum, walau Ratri tahu hati majikannya tidak baik-baik saja.

Rumah besar yang berpenghuni tiga orang, termasuk Ratri kadang terlihat seperti rumah yang mati. Selain kicau burung dan gemericik air kolam yang berisi beberapa koleksi ikan majikannya, tidak ada lagi keriuhan di sana.

Bu Niken memang sangat menyukai kegiatan membaca. Beberapa rak buku berjajar dengan tatanan buku yang rapi. Perempuan itu menenggelamkan hari-harinya di ruangan berjendela kaca lebar atau merawat bunga-bunga kesayangannya. Tentu itu dia lakukan di sela-sela kesibukannya mengurus toko sembako yang berada di ujung gang kampung. Toko sembako yang lumayan ramai dengan pegawai tiga orang. Itu dulu sebelum penyakit gula menggerogoti tubuh dan mulai mengaburkan pandangannya.     

"Mengapa berhenti, Rat?" Perempuan paruh baya di depan Ratri mengajukan pertanyaan. Sejak penglihatan Bu Niken terganggu karena penyakit kadar gula yang di deritanya dua tahun lalu, Ratri menjadi juru baca. Apa saja, dari mulai surat kabar langganan, novel dan bacaan lainnya. Aneh memang, di zaman serba online, Bu Niken masih saja berlangganan surat kabar kota.     

Bu Niken ingin berbagi rezeki dengan para peloper koran. Begitu alasannya, lalu meluncurlah cerita masa kecilnya bersama sang kakak. Dia teringat almarhum kakaknya yang bekerja sebagai pengantar koran dan majalah. Setiap pagi keliling bersepeda mengantar koran ke rumah pelanggan. Tidak salah kalau ruangan ini penuh dengan koleksi buku dan majalah. Ruangan yang akhir-akhir ini juga akrab dengan kehadiran Ratri.

"Maaf Bu, akan saya lanjutkan." Ratri membaca kembali paragraf demi paragraf hingga selesai.       

Biasanya Bu Niken akan tersenyum atau berkomentar setelah Ratri selesai membaca tulisan yang di muat setiap hari minggu itu. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ada bulir bening di sudut mata perempuan yang berada di depan Ratri.  Ternyata bukan hanya Ratri yang terbawa perasaan setelah membacanya. Paragraf di awal sudah berhasil memporak-porandakan hati dua perempuan itu. Keduanya terdiam, sibuk meredam gejolak hatinya masing-masing.

Tidak ada pengorbanan, yang ada kesetiaan. Namun, masih pantaskah kesetiaan itu Ratri sematkan untuk laki-laki yang tak bisa menepati janjinya setelah berhasil menumbuhkan benih di rahimnya? 

Sebentar lagi, Ratri tak mungkin bisa menutupi perutnya yang makin membuncit, meski mati-matian ia menahan rasa mual dan eneg di pagi hari.

Laki-laki itu terdiam, ketika Ratri menunjukkan dua garis merah di alat tes. Ratri hanya ingin kejelasan dengan status anaknya kelak. Sejenak  laki-laki itu terkejut, tapi selanjutnya tidak tampak rasa bungah di raut wajahnya, atau sepasang matanya yang berbinar bahagia. Ratri masih mencari ketegasan di sana. Mengingat malam-malam ketika laki-laki itu mengendap memasuki kamar.  Melayangkan gombalan mautnya, membuat Ratri manut saling memberi nikmat maksiat.

Namun, apa yang dilakukan laki-laki itu? Dia mengingkarinya, membuat kepala Ratri seperti dipukul benda tumpul. Laki-laki itu menyangkal hanya karena vonis dokter bahwa dia dinyatakan mandul beberapa tahun yang lalu. Berkali Ratri meyakinkan jika ini darah dagingnya, tapi hasilnya nol.

Bagaimana bisa laki-laki dewasa dan mapan tidak siap mempunyai keturunan? Harusnya dia bangga dan bahagia, tapi apa kenyataannya? Betapa keras hatinya tidak mengakui akan keajaiban Tuhan. Jadi apa yang terjadi dengannya selama ini? Cinta Ratri sungguh gila, Ratri begitu bodoh dengan mencintai laki-laki yang tidak mempunyai hati.

Ratri telah salah sangka pada laki-laki itu. Ketika perasaan yang dia kira cinta, ternyata napsu belaka. Ia kesulitan menyimpulkan atas apa yang telah terjadi. Pertanyaan demi pertanyaan terus bergentayangan di kepala Ratri. Kepalanya berputar seakan sedang ada gempa bumi. Bukan hanya itu isi di dalam perutnya terus mendesak ingin keluar.

Bruakk ....

Ratri tersungkur, tubuhnya terjatuh dari kursi tempatnya duduk, ketika ia berniat untuk pamit meninggalkan ruangan itu.

"Ratri ...  apa yang terjadi?" Teriak Bu Niken histeris. Pak Pandu yang sedang berolahraga di halaman belakang terkejut dan berlari menghampiri Bu Niken yang terus berucap meminta tolong.

"Apa yang terjadi, Ma?"

Bu Niken menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Pak Pandu.

Mereka akhirnya membawa Ratri ke rumah sakit. Selama di perjalanan hingga sampai di rumah sakit dan menunggu hasil pemeriksaan dokter, Bu Niken lebih banyak diam. Pikiran perempuan itu mengembara, teringat percakapan dengan sahabatnya beberapa bulan yang lalu.

Sudah menjadi rahasia umum, jika Pak Pandu adalah laki-laki yang suka bermain perempuan. Bu Niken memang memilih diam dengan perangai suaminya. Ia sadar dengan kekurangannya. Meski bukan keinginannya bila takdir tak bisa memberikan keturunan, ia hanya cukup menjalaninya. Apalagi dengan kondisi penyakitnya sekarang. Sebagai seorang isteri dia gagal memberi kebahagiaan suaminya.

  Bagi Bu Niken, selama ia tidak mengetahui langsung tentang tabiat suaminya, itu hanya sebuah kabar kabur yang tidak jelas kebenarannya, walau hati kecilnya memercayai itu. Dan Bu Niken menolak saran dari sahabatnya untuk mencarikan wanita kedua di kehidupan rumah tangganya.

Apa pun yang terjadi, Bu Niken tak rela jika Pak Pandu akan menghadirkan madu untuknya, apalagi bila Bu Niken sendiri yang mencari madunya. Seperti halnya Ratri, kepala Bu Niken pun berputar dengan hebat. Tubuhnya nyaris oleng, saat panggilan suster untuk wali Ratri diharap memasuki ruang dokter.

Kini Bu Niken dan Pak Pandu berada di ruangan tempat Ratri terbaring setelah keluar dari ruang dokter. Menurut dokter Ratri hanya butuh istirahat dan bisa langsung pulang setelah cairan infus yang terhubung ke tubuhnya habis. Dokter juga mengatakan kondisi Ratri yang sedang berbadan dua.

Kedua kaki Bu Niken seperti tak menginjak lantai. Wajahnya terasa begitu panas, tapi ia berusaha untuk tidak ambruk. Sepasang matanya seperti singa kelaparan menatap tajam pada dua manusia di depannya.

Ratri tak berani balik menatap mata majikannya, walau penglihatan Bu Niken tak lagi sempurna. Perasaan bersalah pada Bu Niken dan juga rasa sakit hati pada laki-laki itu membuat Ratri kehilangan muka. Ia ingin segera pergi sejauh-jauhnya. Ratri tak lagi peduli jika anak dalam kandungannya kelak bertanya siapa bapaknya?

 Kecamuk di dada Bu Niken begitu riuh, hanya satu pertanyaan. "Siapa bapak calon jabang bayi Ratri?" Pak Pandu terkesiap mendengar pertanyaan istrinya. Lalu pandangan Bu Niken beralih pada suaminya. "Jujur saja, Pa!'

Laki-laki itu terbata mengucapkan sesuatu, Ratri begitu geram melihat adegan di depannya. Ia semakin yakin laki-laki itu tak mempunyai hati.

“Izinkan saya pulang Bu Niken, saya akan menemui kekasih saya dan mengabarkan berita bahagia ini." Susah payah Ratri bangun dari pembaringan. Sungguh ia sudah tak mau berkorban lagi untuk cinta.

Mojosari, 021021

Murni Tiyana, lahir di pojok desa Jiyu, Mojokerto. Seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak yang bekerja sebagai penjaga apotek. Kegemarannya menulis membawanya  bergabung di beberapa komunitas literasi dan menghasilkan beberapa antologi cerpen dan puisi. Kelana Sunyi adalah buku solo perdananya. Penulis bisa disapa di facebook murni_tiyana dan di instagram @murnitiyana

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2821768303199989638

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item