Kehilangan Tomat

 


Cerpen: Dudunk Sakelan

Ketika kapal Sabuk Nusantara 115 hendak berlabuh di Pelabuhan Masalembu, semua penumpang yang hendak turun di Masalembu, sudah mengemasi barang bawaannya. Dibawa ke dek dua agar mudah ketika hendak turun. Di sela kesibukan itu, seorang penumpang, sebut saja Ismail, yang di desanya merupakan seorang ustad, terlihat kebingungan.

"Kenapa sampean, Pak Ustad?" Temannya yang bernama Mohammad Anhar bertanya.

"Barang bawaanku di mana?" Ustad Ismail balik bertanya dengan mata celingak-celinguk. Sedang wajahnya memperlihatkan kecemasan dan ketegangan yang luar biasa.

"Lho, itu, Pak! Tas dan dosnya ada!"

"Masih kurang. Tomat yang dibungkus tas kresek, tidak ada. Hilang bagai ditelan kapal."

"Tas kresek hitam itu?"

"He-eh."

"Perasaan, tadi di Pelabuhan Kalianget, saya yang bawakan ke atas kapal. Ditaruh di mana, ya?" Mohammad Anhar mengernyitkan keningnya.

"Jadi, sampean yang bawakan? Ditaruh di mana?" Tensi darah Ustad Ismail mulai naik. "Coba diingat-ingat! Kalau tidak ketemu, pasti saya nanti dimarahi istri. Soalnya, istri saya sudah tahu kalau saya membeli buah tomat."

Mohammad Anhar menunduk. Selain tidak berani menatap, juga merasa bersalah. Buah tomat di daerah kepulauan, seperti di Karamian, memang sangatlah berharga. Harganya di sana mahal lagi. Bisa berlipat-lipat bila dibandingkan dengan harga yang dijual di daratan.

"Tomatnya berapa kilo, Pak?" Mohammad Anhar tiba-tiba mengangkat wajahnya.

"Dua kilogram," sahut Ustad Ismail rada ketus. Di benaknya sudah terbayang istrinya yang nanti marah-marah.

"Punya saya juga dua kilogram, Pak. Ambil saja punya saya ini!" Ia memberikan tas kresek yang berisi buah tomat.

"Lho, sampean sendiri bagaimana?" Ustad Ismail terperangah. "Bagaimana, kalau nanti istri sampean marah?"

"Ambil saja, Pak. Istri saya tidak bakalan marah, kok. Lagian, tidak mungkin berani marah. Apalagi hanya masalah tomat. Kalau marah, saya akan kawin lagi saja," jawabnya sambil tertawa kecil.

Ustad Ismail menerima tomat pemberian temannya dengan perasaan lega. Bayangan istrinya yang marah-marah lenyap seketika. Berganti dengan senyum kemesraan istrinya yang sudah ditinggal hampir setengah bulan.

Kapal Sabuk Nusantara 115 pun merapat di Pelabuhan Masalembu. Para penumpang turun. Kecuali Ustad Ismail dan para penumpang yang akan menuju ke Pulau Karamian. Perjalanan masih lima jam lagi.***

Karamian, 05102021

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 3844575329485273312

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item