Imajinasi Santri Dalam Dunia Literasi

 

 

Ilustrasi para santri

Irma Suryani

Santri adalah seseorang yang berusaha mendalami agama islam dengan sungguh – sungguh atau serius. Menurut Zamakhsyari Dhofier berpendapat bahwa,  kata santri dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Atau secara umum dapat diartikan buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.

Dan pondok pesantren merupakan asrama tempat tinggal bagi para santri. Didalam pesantren santri dapat menemukan berbagai banyak macam pengalaman, mulai dari pengalaman dapat hidup jauh dari orang tua, pengalaman hidup mandiri ( semua pekerjaannya dilakukan sendiri; seperti : nyuci sendiri, merapikan tempat tidur sendiri dan melakukan sesuatu yang lainnya juga sendiri), dan masih banyak pengalaman lainnya yang akan didapatkan oleh santri didalam pesantren.

Pesantren ialah artefak peradaban Indonesia yang dibangun sebagai institus pendidikan keagamaan yang bercorak tradisional, unik dan indigenous. Pondok pesantren juga termasuk sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional yang mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Dan didalam pondok pesantren di mana kyai sebagai figur sentral, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.

Salah satu hal yang paling tidak dapat terlupakan oleh santri ketika berada dilingkungan pesantren yaitu sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang dimulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Dari kebersamaan inilah santri dapat bertahan dipondok ( betah dipondok). Meskipun pada kenyataannya banyak dari santri yang ada dipondok sering menangis, mengeluh dan lebih parahnya lagi sampai ada yang ingin kabur dari pondok. Audzubillahimindzalik.

Namun, disisi lain didalam pondok pesantren meskipun terjadi berbagai banyak hal yang dialami santri  mulai dari senang, sedih dan lainnya. Akan tetapi hal – hal yang demikianlah yang akan menjadi sebuah cerita mereka nanti ketika mereka pulang kerumahnya.

Dan yang paling menariknya lagi ketika kita berada di lingkungan pesantren. Dan  apa  yang ingin kita lakukan dipesantren tidak pernah terlepas dari kata “ mengantri “ atau yang biasanya sering kita katakan dengan “ ba’daki”. Kata ba’ daki ini sering santri katakan ketika mereka ingin makan, mandi dan ketika santri berada didalam kantinpun untuk membeli sesuatu seperti: kue, minuman dan yang lainnya mereka masih tetap mengatakan ba’daki.

Meskipun kata ba’daki sering diucapkan oleh santri namun bukan berarti santri merasa bosan dengan kata ba’daki tersebut, akan tetapi santri merasa nyaman untuk sering mengatakan kata ba’daki tersebut. Dan yang lebih lucunya lagi ketika santri sudah pulang kerumahnya, dan dirumahnya pun mereka juga mengatakan ba’daki kepada orang tuanya, dan keluarganya yang berada dirumah. Sehingga ketika mereka mengatakan ba’daki kepada keluarganya, ternyata keluragnya tidak mengerti apa arti dari kata ba’daki yang mereka katakan.

Dari sinilah yang membuat para santri ketika berada dirumahnya memilki sebuah cerita yang sangat unik dan menarik. Namun yang menjadi pertanyaan disini, mengapa masih banyak santri yang tidak betah dipondok?. Yang menjadi alasan santri tidak betah dipondok salah satunya karena padatnya kegiatan yang ada dipondok. Maka tidak heran ketika kita berada dilingkungan pesantren, kemudian kita melihat dari beberapa santri yang lagi menyendiri tanpa adanya seorang teman yang bersamanya, kecuali hanya bersama satu buku dan satu bolpen yang dipeganngnya. Ternyata buku dan bolpen yang dipeganganya itu adalah sebuah teman untukknya.  Yang kemudian dari buku dan bolpen tersebut mereka dapat mengeluarkan semua unek – unek yang ada di pikirannya.

 Dari buku dan bolpen tersebut santri bukan hanya dapat mengeluarkan unek – uneknya saja yang ada difikirannya. Tapi santri juga sering menulis kegiatan apa yang akan dilakukan selama 24 jam. Dan buku yang sering dimilki oleh santri untuk menulis biasanya buku tersebut sering kita katakan dengan buku harian atau buku “diary”.

Buku harian ( diary) merupakan sebuah catatan pribadi yang berisi peristiwa sehari – hari, yang mengenai apa saja, baik yang dipikirkan, dikatakan atau dilakukan. Dibuku diary inilah santri dapat menulis sepuasnya apa yang ingin mereka tulis, mulai dari masalah yang mereka hadapi, kegiatan yang akan mereka lakukan bahkan keingianan yang mereka inginkan mereka juga menulisnya di buku diary tersebut.

Tanpa kita sadari, mungkin menurut kita tulisan dibuku diary hanyalah tulisan biasa yang tidak ada apa – apanya. Akan tetapi setelah kita ketahui bahwa tulisan yang ditulis di buku diary adalah sebuah tulisan yang berarti. Yang awalnya menurut kita itu hanyalah tulisan yang ditulis dengan tulisan yang masih tidak tersusun sebagai kalimat yang sempurna. Tapi ketika tulisan itu kita tulis dengan sebuah perasaan, dan tulisan itu juga kita tulis sesuai dengan apa yang sudah terjadi kepada kita. Maka tulisan itu akan menjadi  sebuah tulisan yang sangat bersejarah sehingga dari tulisan tersebut dapat mengiatkan kita kembali kepada apa yang telah kita lakukan.

Ada pepatah yang mengatakan “ Menulislah, karena dengan menulis dirimu akan diingat sepanjang masa” . Dari pepatah ini dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwasanya dengan menulis kita akan tetap dikenang sampai kapanpun. Meskipun diri kita dan raga kita  sudah jauh dari tatapan orang - orang, namun jiwa kita tetap diingat karena  tulisan kita yang tetap dekat untuk selamanya.

Seperti sosok Alm. KH Muhammad Idris Jauhari, yang biasa kita panggil dengan sebutan kiyai Idris. Alm. Kiyai Idris salah satu pengasuh dan  pendiri pondok pesantren Al – Amien Prenduan.  Pada masa mudanya Alm. Kiyai Idris merupakan sosok yang biasa – biasa saja ( tidak pintar ), akan tetapi Alm. Kiyai Idris dapat membuat banyak buku.  Dan sosok Alm. Kiyai Idrislah sampai saat ini adalah sosok yang tidak pernah terlupakan.

Meskipun Alm. Kiyai Idris telah tiada dan kini telah pergi jauh untuk meninggalkan kita, akan tetapi jiwa Alm. Kiyai Idris  tetap ada menemani kita. Karena tulisan – tulisan Alm. Kiyai Idris yang sangat luar biasa yang selalu mengalir dalam jiwa kita untuk membantu kita dalam kegiatan belajar mengajar. Dari sosok Alm. Kiyai Idris dapat meyakinkan kita bahwa menjadi orang yang berjasa  tidak perlu menjadi orang hebat, akan tetapi cukuplah menjadi orang yang bermanfaat. Karena orang yang hebat belum tentu bisa menjadi orang yang bermanfaat, namun jika orang yang dapat memberikan manfaat tentunya dia bisa menjadi orang hebat. Dengan demikian jadilah orang yang bermanfaat buat orang lain, meskipun hanya sekedar sebuah tulisan saja.   

Irma Suryani, Mahasiswa Institus Dirosah Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep, Fak. Pendidikan Bahasa Arab  


POSTING PILIHAN

Related

Utama 6980889912556117663

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item