Guru Bahasa Sebagai Ujung Tombak Cinta Pada Sastra

Pertemuan berkala MGMP Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/SMK  Kabupaten Sumenep (rulis)

 Mashuri Alhamdulillah

Judul ngablak tersebut memang terkesan bombastis, tetapi sejatinya itu yang realis. Kamsudnya, eh maksudnya, kenyataan yang ada di lapangan memang demikian. Dalam sistem pendidikan modern kita, pengenalan dan pengajaran sastra kita, baik itu sastra Indonesia maupun sastra daerah, memang lewat guru bahasa. Bahkan, guru bahasa dapat dikatakan sebagai 'pengukir' jiwa sastra di sekolah, terutama bagi anak didik di jenjang SMTP dan jenjang SMTA.

Sebagai ujung tombak, tentu banyak yang berharap bahwa guru bahasa memiliki ketajaman tertentu yang membuat anak didik melek sastra. Namun, tak jarang, harapan tersebut hanya sebatas harapan, meskipun cukup banyak guru bahasa yang mumpuni dalam hal-ihwal sastra. Mereka tidak hanya waskita dalam memahami sastra, tetapi juga dalam menuliskannya. Bahkan, ada pula sastrawan guru. Namun, tidak banyak sekolah yang dikaruniai guru seperti itu.

Mungkin ngablak ini sebagai refleksi sederhana karena saya cukup lama tidak berhubungan dengan guru bahasa dalam ikhtiar untuk menularkan 'virus-virus' sastra. Terhitung hampir dua tahun. Baru pada kesempatan kapan hari, Rabu, 29 September 2021, saya dapat berdiri di hadapan para guru Bahasa Indonesia di Sidoarjo untuk berbicara perihal sastra, wabil khusus dalam proses penulisan karya. Ini juga karena sebuah aksiden yang menarik. Pada awalnya yang terjadwal adalah pemateri bahasa. Karena pemateri bahasa berhalangan, akhirnya saya yang maju ke tampil.

Ketika saya berbicara tentang penulisan kreatif di hadapan para guru bahasa, saya membayangkan tidak sedang melatih mereka menulis an sich. Saya membayangkan bahwa mereka ini akan menularkan kiat menulis, bahkan jika mungkin adalah kecintaan pada sastra, terhadap anak didiknya. Karena itu, saya pun menyarankan para guru untuk membuat semacam sanggar, komunitas, acara rutin kesastraan, bahkan media dengan salah satu muatannya adalah hasil karya para guru dan siswa, di sekolah masing-masing.

Tentu hal itu karena saya menyadari bahwa soal kecintaan itu tidak dapat tumbuh dengan cukup sekali-dua kali tatap muka. Bukankah tresna jalaran saka kulina?! Yeah, karena realitas yang ada menunjukan seringkali para siswa itu menulis hanya pada saat ada pagelaran sayembara pernulisan, lalu para guru sibuk atau kesulitan untuk memahami tema sayembara, yang berimbas pada kedodoran karya anak didiknya. Lha kalau begitu yang terjadi, apa bedanya dengan saya?!

On Siwalanpanji, 2021                                                    

Sumber akun FB Mashuri Alhamdulillah

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7251477067254491032

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item