Gempa, Pangeran Bonorogo dan Islam Di Pamekasan


Tamam Medunten Malaka

Tahun 1530, keraton Pamekasan berduka. Ketika sang raja, Pangeran Bonorogo, wafat. Lebih-lebih sang putra mahkota, Ronggosukowati.

Semenjak sang ayahanda masih sehat, Ronggosukowati telah berusaha dengan telaten membujuk beliau untuk bersyahadat. Menerima Islam sebagai agamanya. Tetapi sang ayahanda rupanya telah kukuh memilih. Tetap memegang teguh pada agama lama. Hingga akhir hayatnya.

Tetapi kesedihan Ronggosukowati yang tak tertanggung itu lalu terpecah. Ketika tanah yang dipijaknya berguncang. Makin lama guncangannya kian keras. Gempa rupanya melanda Pamekasan. Seisi keraton yang bersiap-siap mengantarkan sang raja ke peristirahatan terakhir, jadi hiruk-pikuk.

Seiring gerakan gempa yang perlahan menghilang, raut muka Ronggosukowati yang semula berduka itu, kini mendadak telah berganti sumringah.

Suatu keajaiban rupanya telah terjadi.

Sebelum wafat, sang ayahanda Pangeran Bonorogo memang tak juga mengikuti lafal syahadat yang diucapkannya. Namun sebelum napas terakhirnya lepas, sang ayahanda masih sempat berpesan; "Nak kalau setelah aku mati, lalu terjadi gempa. Maka itu pertanda aku telah masuk Islam!"

Dan gempa itu telah benar-benar muncul dan terjadi sesaat setelah wafatnya sang ayahanda. Memberi isyarat keislaman Pangeran Bonorogo.

---

Kapan waktu tepatnya Islam masuk ke Madura, hingga saat ini memang masih belum jelas. Tetapi kisah Pangeran Bonorogo dan kisah keislamannya patut dijadikan patokan untuk mengukur dan menganalisa.

Apalagi kisah yang relatif sama juga terjadi di Madura Barat. Sang raja, yakni Pangeran Pragalba, enggan masuk Islam, meski putra Mahkota dan orang-orang di sekitarnya telah memeluk agama Islam. Berbeda dengan Pangeran Bonorogo, Pangeran Pragalba justru membaca dua kalimat syahadat meski melalui isyarat anggukan kepala.

Hal yang cukup menarik, baik putra Mahkota Madura Barat maupun Pamekasan, keduanya sama-sama telah masuk Islam. Ini seperti mengindikasikan bahwa Islam mula-mula telah banyak menarik kalangan muda di Madura, ketimbang kalangan tuanya.

Kesimpulan lainnya, masyarakat Madura ternyata terlihat lebih dulu memeluk agama Islam, baru kemudian disusul oleh kalangan keraton.

Wallahu a'lam

Diangkat dari akun FB Tamam Medunten Malaka

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4172796875233980856

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item