Budi Darma, Tengsoe,dan Aku


Ketika Budi Darma mangkat, kepada Tengsoe Tjahjono, aku pernah bilang, “Jangan ikut-ikutan bikin webinar yang sudah melimpah ruah karena niscaya dia tak begitu suka banjir kata-kata lisan semakin melanda jagat literasi kita. Budi Darma merupakan pemikir bebas yang sangat hormat kepada tulisan (karya tulis sekaligus penulisnya) dalam bentuk apa pun, apalagi berupa karya sastra dan karya esai. Jangan harap seseorang melekat di hatinya bila tak memiliki karya tulis.” “Lantas bagaimana kita mengenang dan menuangkan bela rasa kemangkatan Budi Darma?” Tengsoe bertanya. Kusarankan Tengsoe mengoordinasikan pembuatan buku yang dihajatkan kepada Budi Darma (semoga segera terbit). Dirancanglah kemudian buku memori dan testimoni tentang Budi Darma yang dibuat oleh “anak-anak kultural Budi Darma, bukan anak biologis dan anak ideologis”.

Tengsoe ganti menugasiku untuk membuat satu esai untuk buku yang dirancang, seolah “menembak balik” tembakan tugasku. Maka aku pun bermimpi menulis esai berjudul Budi Darma: Yang Berdiam di Dalam Pemikiran agar tampak gagah dan sok serius. Sebagai pemalas dan penulis terbata-bata, tentu saja tulisanku tak selesai juga sampai tenggat yang ditetapkan Tengsoe. Oleh karena kegigihan dan semangat pantang menyerah Tengsoe, yang sedemikian rajin dan tekun menagih tulisan kepadaku, pada akhirnya tulisanku selesai meskipun dapat dibilang baru pengantar. “Sudah cukup, itu terlalu panjang! Tambahi satu paragraf penutup saja!’, ultimatum Tengsoe kepadaku. Maka aku pun menyudahi tulisanku sesuai dengan saran Tengsoe.

Kenapa tulisanku tentang Budi Darma tak selesai-selesai? Sebenarnya aku tak “malas-malas amat” menulis. Namun, memang aku sering tertumbuk pada satu persoalan yang acap kurenungkan berlama-lama. Biasanya aku merenungkan satu persoalan yang sudah menjadi pandangan umum dan dianggap kebenaran – sebab kata dosen favoritku I Gusti Ngurah Oka, “Seorang sarjana “beneran” bukan hanya menjawab pertanyaan, tetapi malah mempertanyakan jawaban dan mempertanyakan pertanyaan.”

Dalam kejaran tagihan Tengsoe, sebenarnya aku sedang merenungkan anggapan umum bahwa Budi Darma mengusung dunia jungkir balik dalam karya-karya sastranya. Benarkah fiksi (novel dan cerpen) Budi Darma mengusung dunia jungkir-balik? Mengapa label dunia jungkir-balik tak dikenakan pada Putu Wijaya yang karya-karyanya juga mengambarkan dunia jungkir-balik? Untuk itu, aku beberapa kali membaca esai Budi Darma berjudul Sastra: Dunia Jungkir Balik? Berbagai buku yang memuat esai Budi Darma juga kucoba baca di samping mengingat kembali isi karya sastranya yang sudah kubaca.

Saat Tengsoe tak mungkin menoleransi keterlambatan tulisanku, yang berarti aku harus setor tulisan kepadanya, sebenarnya aku sudah sampai pada simpulan bahwa Budi Darma tidak mengusung dunia jungkir balik dalam karya-karya sastranya. Bahkan Budi Darma tak berniat menciptakan dunia jungkir balik ke dalam karya sastra. Kenapa? Berkali-kali dalam esai legendarisnya tersebut, Budi Darma membuat pertanyaan, “Apakah sastra merupakan dunia jungkir balik?”, bukan membuat pernyataan. Di sini justru Budi Darma hendak membongkar keyakinan umum bahwasanya sastra merupakan dunia jungkir balik, bukan hendak melegitimasi sastra sebagai dunia jungkir balik. 

Bila Budi Darma dikesani membuat dunia jungkir balik dalam karya sastra, hal tersebut sebenarnya hanyalah konsekuensi logis pencarian berbagai kemungkinan gambaran dunia yang tak ada dalam dunia nyata. Bagi Budi Darma, kemerdekaan mencari dan mendapatkan kemungkinan yang paling bebas dan terbuka ada dalam dunia sastra, bukan dunia nyata. Dalam dunia nyata justru kerapian dan ketertiban yang malah ada, yang mengikat semua insan termasuk Budi Darma. Bagi Budi Darma, dunia kemungkinan yang bebas, merdeka, dan beragam tersua dalam dunia kehidupan sastra. Tak heran, dalam dunia nyata sehari-hari Budi Darma orang yang sangat ramah, santun, rapi, tertib, disiplin, dan teratur – yang mengesankan anggun dan perlente.

------

Kendati tak sebanding, izinkan membandingkan, Tengsoe Tjahjono juga orang yang sangat disiplin, tertib, teratur, dan rapi dalam dunia sehari-hari walaupun dunia sastra yang digubahnya karut-marut dan sarat ketakteraturan. Berkat hidup sehari-harinya yang disiplin, teratur, dan tertib itulah Tengsoe Tjahjono sehat dan bugar sampai melewati usia 60-an tahun. Selamat ulang tahun, Sahabat Tengsoe Tjahjono. Gembalakanlah usiamu melampaui sang mahaguru kita Budi Darma. (Djoko Saryono)

Dangkat dari akun FB Djoko Saryono

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7416522624115543166

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item