Verdant Green


Cerpen:  Haudhatin Adzimi

“Verdant..”

“Iya Green.”

***

Ini bukan cerita yang sebenarnya. Karena aku tahu, dan kamu pun tahu bahwa cerita kita tak lagi indah. Tak lagi seperti dulu dimana kita terbiasa berbagi cerita kecil dan tidak membosankan. Namun, aku ingin akhir yang menyenangkan. Jadi, izinkan aku untuk mengubah cerita yang sebenarnya menjadi seperti apa yang aku impikan selama ini. Selamat membaca. Aku berharap ini tentang kita.

Karena mungkin aku akan sedikit kesulitan untuk mengingat sesuatu diantara kita. Ya, apa kau lupa berapa lama kita kehilangan kebersamaan yang sudah pernah kita ciptakan bersama? Empat tahun kah? Lima tahun kah? Aku bukan tipe orang yang pandai mengingat sesuatu yang telah hilang dalam waktu yang lama. Aku pelupa.

Mungkin aku akan lupa bagaimana awal kita yang semula hanya memanggil nama lalu kemudian berubah memanggil dengan panggilan special yang kita ciptakan bersama dengan tidak sengaja. Maaf jika aku harus mengubah sebagian jalan cerita yang ada. Itu karena aku ingin selalu mengenang kehadiranmu dalam hidupku. Aku tidak ingin lupa.

***

Memang, bukan suatu kebetulan sesuatu itu terjadi. insiden yang tidak menyenangkan ini memberikan ruang dan waktu untuk seorang sepertimu masuk dalam kehidupanku. Aku rasa bukan karena kamu simpati atau semacamnya. Mungkin lebih ke ingin tahu, seperti apa sosok orang yang sudah berani membuat malu nama tempatmu dan komplotanmu bernaung. Maaf, bukan aku sengaja. Aku hanya ingin memproklamasikan sesuatu yang penting dalam hidupku, bahwa salah satu anggota komplotanmu sudah resmi menjadi kekasihku. 

Aku menyangka bahwa engkau akan seperti kebanyakan dari mereka yang akan menjejaliku dengan berbagai perkataan yang tidak meyenangkan. Yang mampu membuat air mataku mengalir. Aku tak pernah tahu bahwa akan seperti ini akibatnya. Untuk minta maaf pun sepertinya sulit.  

“Kamu kekasihnya?”

“Iya.”

“Jangan takut! Aku tidak seperti apa yang engkau pikirkan tentangku.”

“Lalu? Untuk apa kamu menanyaiku?”

“Hanya ingin tahu, salahkah?”

“Hmm, tidak.”

Awal yang bagus untuk memulai sebuah pertemanan. Orang baru sepertimu cukup membuatku tenang daripada kekasih sialan dan tidak bergunaku itu. Percakapan kecil yang engkau ciptakan cukup membuatku merasa pantas untuk berteman dengan siapapun dan pantas mendapat ketenangan di manapun, bukan kecaman pedas dari mulut-mulut sok suci mereka.

Waktu bergulir begitu cepat menghilangkan kecanggungan diantara kita. Layaknya sudah berteman lama, kita mulai bertukar cerita satu sama lain. Semuanya mengalir begitu saja. Ceritamu yang tidak pernah membuatku bosan untuk mendengarnya membuatku selalu ingin mendengar apapun dari mulut indahmu. Tapi, satu hal yang tidak kamu tahu. Sangat mudah bagiku untuk memberi label suka pada seseorang. Termasuk kamu mungkin? Aku sudah mulai gelisah jika hal inimulai terjadi. karena aku tahu, kamu akan menjadi salah satu yang hilang.

“Kamu suka warna apa?” Tanyaku antusias.

“Hijau.”

“Wah, sama dong.”

“kamu tahu nggak? Aku iri sama warna biru.”

“Kenapa begitu?”

“Karena biru punya nama lain selain blue.

“Apa?”

“Azure.”

“Oh ya kah?”

“Sejak itu aku cari nama selain green, akhirnya dapat deh. Verdant.”

Memang begitu sederhana. Seperti halnya air jernih di dalam gelas, sederhana namun berarti. Ada kesenangan tersendiri yang hadir di balik lengkungan senyum yang tercipta setiap harinya. Aku takut, sewaktu-waktu aku akan memberi arti penting padanya dalam hidupku. Karena, itu akan membuatku takut. Takut untuk kehilangan ataupun untuk tidak memilikinya.

“Mau jadi sahabat?”

Tawaran pertama dari seorang aku untuk orang yang pertama kali aku pantas jadikan sahabat.

“Boleh.”

“Baiklah, karena kita sama-sama menyukai warna hijau. Aku ingin kamu panggil aku Green dan aku panggil kamu degan sebutan Verdant, bagaimana?”

“Lucu. Oke, testing ya?”

“Green.”

Sapanya padaku dengan panggilan persahabatan yang baru saja kita sepakati bersama.

Rasanya aku ingin tertawa saja.

“Iya Verdant.”

“Hahahahahaha. Sahabatku.”

Dia tertawa. Aku pun ingin tertawa sedari tadi. Panggilan ini membuat kita seperti anak kecil saja. Aku menyukai saat tiba-tiba dia lupa dengan panggilan konyol kita, dia akan menyebut diriku sebagai Verdant dan dirinya sebagai Green. Sangat lucu bukan?

“Verdant.”

“Iya Green.”

“Nyanyi!”

“Nyanyi? Kamu mau aku nyanyi?”

“Iya.”

Sebelumnya sudah aku katakana bahwa kita lebih menyukai berbagi hal-hal yang ringan dan tidak membosankan. 

Tidak lama, notifikasi BBM di HandPhoneku berbunyi. Ada pesan suara darinya. Hahahaha, dia benar-benar bernyanyi untukku. Petikan gitarnya sangat pas dengan lagu yang dia nyanyikan. Aku menikmati setiap kata yang kudengar dari apa yang ia dendangkan untukku. My favorite girl, Justin Bieber. Itu cukup membuatku terbang ke langit ke tujuh. Ya, aku rasa dia salah memilih lagu. 

***

Hembusan nafasku terasa berat, aku rasa ruang dan waktu cukup jauh membawaku ke alam yang diciptakannya indah di hati dan jiwaku. Tak akan pernah bisa aku mengelak dari kenyataan bahwa setiap yang bertemu pasti akan berpisah. Yang hadir pasti akan pergi. Aku sadar bahwa aku tak akan pernah kuasa untuk mengubah jalan cerita ini. Aku terlalu egois jika seperti itu. Akan tetapi, untuk mengingat kenyataan yang terjadi terasa begitu menyakitkan bagiku. 

***

Sedih, cerita kita harus berakhir disini. Disaat aku mulai tahu kebenarannya bahwa kau telah memiliki kekasih. Dan aku tidak menyukai itu. Ya, aku seorang sahabat yang pencemburu. Karena label suka yang aku berikan padamu tanpa kamu ketahui.

Saat ku tahu, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh orang sepertiku. Cukup dengan bersikap biasa saja dan berpura-pura menjadi orang bodoh. Karena sebenarnya, aku ingin mengetahui benarkah kamu menganggapku sahabat? Jika iya, untuk apa kamu menyembunyikan bahwa kamu telah mempunyai kekasih? Karena setahuku, dalam persahabatan tidak ada kata maaf, terimakasih dan rahasia.

Tapi, ternyata sampai waktu yang cukup lama pun kamu tak kunjung memberitahuku.

Mungkin memang menurutmu tidak penting aku mengetahui itu. Tapi apakah kamu tahu? jika dengan begitu aku akan merasa bahwa kamu tidak menganggap keberadaanku sebagai sahabatmu. Aku sakit. Dan sepertinya aku harus pergi sampai waktu sendiri yang akan mempertemukan kita. Dan pesan terakhir darimu, tetap aku balas meskipun tak pernah kukirimkan kepadamu sampai saat ini. Selamat tinggal.

“Green…”

“iya Verdant…” 

***

Ya, dan kemudian aku sadar. Bahwa aku tidak akan pernah bisa untuk benar-benar merubah takdir yang sudah berlaku atas kita berdua. Mungkin jika tidak bisa sekarang, akan ada waktu lain yang dengan perlahan membuatku bertemu lagi dengan sosok sahabatku yang sudah lama menghilang ini. Yaitu kamu, Verdant. 

Memang, ini hanya kisah biasa. Namun, kau tak akan pernah tahu betapa berarti cerita ini dalam hidupku. Karena tidak akan pernah ada 2 Verdant yang hadir dalam kehidupan seorang Green. Tidak akan pernah. Cukup dengan tertuliskannya kisah ini, semuanya akan terasa abadi. Dan tidak akan pernah berakhir sampai seseorang menempatkannya ke dalam tempat sampah sialan yang berada di beranda laptop atau computer mereka. Aku merindukanmu.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 6402915337379594493

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item