Tujuh Puisi Pilihan Semarak Literasi


Tujuh puisi pilihan ini merupakan puisi-puisi hasil lomba menulis puisi mahasiswa Institut Dirosah Islamyah Al-Amien (IDIA) sebagai tindak lanjut pelatihan menulis fiksi dan non fiksi dalam rangka IDIA ke 38, pada acara Semarak Literasi 2021

*****

Puisi : Rabby, Abdul Malik Saif Ababil

Alif

Alifmu sebagai do’a
Selalu tegak dimana-mana
Sederhana mengandung jasa
Mengembara dimana saja

Alifmu tak pernah bicara
Menyimpan rahasia di dalamnya
Tak kan pernah bisa
Sepanjang masa

Alifmu selalu berguna
Menghapus dosa
Menghapus luka
Saat kita tenggelam dengan dunia

        Sajak adalah temanku
        Kata adalah mimpiku
        Aku mau menyambung hidupku
        Dengan tinta kata menyeru

        Aku berteduh di bawah pepohonan
        Beralas tikar pandan
        Sambil bernyanyi menemani sunyi
        Mengikuti hati matahari

        Aku seorang diri
        Seperti terpenjara di perut bumi
        Lalu kutulis segurat Alif dalam puisi
        “ Rabby, Abdul Malik Saif Ababil berserah diri  ”


    
Puisi: Moch.Alfian Fariz

Ditikam Sunyi

Hujan angin kali ini
Hantarkan gigil untuk menepi
Dalam remang cahaya mentari
Aku terpaku berhalusinasi

Membayangkan kamu ada di sini
Duduk bersama menikmati segelas kopi
Lalu bercerita tentang mimpi-mimpi
Untuk bersama kita rangkai kembali

Namun aku tersadar itu hanya ilusi
Kerena nyatanya yang tercipta adalah sepi
Semakin pedih aku ditikam sunyi
Berharap pada yang tidak pasti

Sampai kapan harus seperti ini
Begitu lelah aku menanti
Mencoba tabah dalam hati
Jiwaku lemah hampir kehilangan arti



Puisi: Ika Mutmainnah

Bertahan

Hantaman itu pasti akan datang
Layaknya arus yang menghantam ketika pasang
Kita tak perlu menyerah dalam berperang
Cukup bertahan sudah cukup untuk mencapai menang.
Kawan ..
perjuangan itu tak akan pernah padam
demi terciptanya kenangan yang mendalam

    
Puisi: Faizatun Nadifatul Ula

“Awal Khayalan”

Kerap orang menganggap jiwa melayang
Kerap orang berkata dia hidup dalam kesendirian
Setiap raga tak paham akan keheningannya
Setiap raga tak mengerti akan kebisuannya
Melayang dalam khayalan
Menyaksikan tontonan dalam rupawan khayalan mata
Indah dalam kesendiriannya
Indah dalam permainan gerakan kebisuannya
Hingga tak dapat ia ungkapan dalam gerakan nyatanya
Berimajinasi dalam keheningan
Jiwa menghilang
Meninggalkan jejak kedamaian
Mereka merindukan dalam keindahan tersembunyinya
Mereka meneteskan mutiara berharganya
Kemanakah jiwa yang terkenang
Meninggalkan kami yang mengenang


Puisi: Thaifur Rahman Al-Mujahidi

Kenang Santri

ada nyeri mengiris serupa sayatan pisau
dari tepi jantung kemarau ke selatan
perlahan,
simfoni
dan konspirasi semesta
mulai bertarian di kepala
juga, sisa-sisa aksara membekas lusuh
yang mengetuk-ngetuk ulang kenangan
untuk memulangkan sekali lagi seluruh ingatan
meski bertahan menyisir ke tubirr kenang
tak kutemukan di sana tenang
andam karam,
dan, tertinggal pesona yang lalu lalang
lalu, menyapanya dengan aksara menjadi sebuah kalimat
mengundang cita rasa asmaraloka
pada balutan kisah terbungkus rapi di atas kertas

Sumenep, 7 September 2021



Puisi: Fathurrozi Nuril Furqon,

Menyongsong Kata-Kata

Sebuah peta menghantarkan sajak-sajak tentang hari esok yang diam-diam mengintip dari balik rembulan. Ia begitu malu-malu, wajahnya adalah teka-teki. Beratus gairah berlabuh di sana, hanya sekedar untuk menjenguk kata-kata.
Di tepi pelabuhan itu kutemukan dirimu, pemuda bersorban air mata. Derainya merintik mengendapkan doa-doa. “Bisakah kutemukan kata-kata mengabadi dalam puisi ini?” tanyamu. Aku tak pernah tahu, segalanya samar bagiku. Tapi kulihat sebuah lentera kau nyalakan. Hendak kemanakah kau? Ranjau-ranjau menanam rindu pada anyir darahmu, dan duri-duri, batu-batu, serta waktu menjelma keteguhanmu merawat bahasa.
Jalan-jalan berlumur darah
Kulihat di pundakmu kata-kata berdekapan
Di gendonganmu, sajak-sajak menyusu amis keringatmu
“Ingin kutemukan kata-kata mengabadi dalam puisimu”

Sumenep, 07 September 2021


    
Puisi: Isma Robiatul Munawwaroh

Cahaya Senja

Senja adalah langit yang berwarna
Rindu adalah rasa yang terpendam
Jika langit membawamu kepada kegelapan
Hembusan malam selalu menjadi ratapan

                                        Kata-kata yang terucapkan
                                        Bertumbuh rasa dalam ingatan
                                        Sebuah harapan yang ku inginkan
                                        Semoga saja terwujudkan




POSTING PILIHAN

Related

Utama 7385946502445242720

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item