Tubuh yang Tertinggal


Cerpen:  Navila An-Nuri

Alhamdulillah, ibu kembali tersenyum setelah kebahagian direnggut darinya. Ya sangat terasa, setiap pagi, ibu nampak tersenyum dan akupun membalas senyumannya. Hanya ada bekas luka yang tak terlihat oleh panca indera. Aku merasa berdosa karena masih terlalu dini dan tak mengerti untuk mengusap darah dari luka itu, yang masih menyimpan bekas sampai hari ini, bahkan detik ini.

Setelah tujuh tahun lamanya menyimpan tragedi misteri yang suram, aku berbisik padanya,

“Bu, besok pagi akan aku ajak ke tempat yang ibu rindukan,” ujar dengan suara lirih namun jelas.

 Pagi-pagi sekali, setelah subuh beranjak, ibu menggandengku sepanjang jalan lantaran bebatuan yang tak habis hingga  ujung jalan tempat yang kami tuju. Setelah perjalanan kurang lebih 10 menit, Ibuku tersenyum ketika melihat nisan dari kejauhan. Ya Tuhan, sebelumnya aku tak pernah melihat pandangan mata yang begitu menyejukkan, senyum yang begitu ikhlas. Sebelum waktu tujuh tahun berlalu, Aku hanya melihat pandangan mata yang pedih, namun ibu selalu menyembunyikannya di balik senyuman palsu. Hatiku bergumam, “Yah, aku benar-benar melihat  senyum itu, senyum yang sempat hilang.”

Sejak ayahku meninggal tujuh tahun silam, kedua kakakku putus sekolah dan hanya lulus Sekolah Dasar karena ibu  tak bisa membiayai bahkan makanan sehari-haripun masih sering berhutang pada tetangga. Sejak saat itu pula, ibu mengambil alih peran ayah sekaligus ibu dalam membesarkan anak-anaknya. Ibuku mengajarkan tentang kedisiplinan, bangun sebelum subuh untuk salat tahajud, dan mandi pagi untuk mempersiapkan diri ke sekolah.

Aku tahu bahwa ibu menginginkan anak-anaknya sekolah, namun apalah daya keadaan tak mendukung keinginannya. Setelah aku lulus SD, aku bertekad untuk melanjutkan sekolah meski tak memiliki biaya sepeserpun. Namun, Tuhan mengabulkan keinginanku. Ketika aku sekolah di MTs 1 Pamekasan, biaya yang dibutuhkan hanya untuk  uang seragam dan perlengkapan lainnya. Saat itu, tetangga yang membantu untuk membayar seragam agar aku bisa sekolah seperti anak-anak lainnya.  

Setiap pagi aku  berangkat  ke sekolah bersama temanku yang sekolah di SMP, karena jarak antara MTs dan SMP cukup dekat. Pukul setengah tujuh aku sudah menunggu temanku untuk berangkat,namun sering kali aku terlambat lantaran jam masuk sekolahku dan sekolah temanku beda 15 menit. Jam pulang yang tidak sama membuatku haru pulang berjalan kaki. Saat sampai di rumah, ibuku kerap kali menangis melihat aku berjalan terbata-bata.

 “Bu, jangan menangis. Aku baik-baik saja. Ketika aku bisa sekolah, itu  sudah nikmat luar biasa. Aku kuat meski harus menempuh jarak dengan jalan kaki. Sudah bu, jangan menangis lagi dan tak perlu khawatir,” bisikku pada ibu sambil merangkulnya.

Hari demi hari kulewati dengan penuh kesabaran dan ketekunan akan ujian hidup yang datang menghampiri. Ibu yang selalu menguatkan aku ketika aku letih. Beliau menjadi orang tua yang berperan ganda. Sungguh, keadaan seperti ini bukanlah hal mudah karena harus mengurus anak seorang diri. Ibu merawat dengan kelembutan kasih sayang sepenuh hati. Kepergian ayahku sangat menyiksa batinnya, namun hal itu tak bisa menjadi penghalang dalam mengemban amanah sebagai orang tua.

Kelulusan MTs telah tiba. Waktu tiga tahun dalam mencari ilmu akan segera berlalu. Lagi-lagi Aku kebingungan lantaran tak punya biaya untuk melanjutkan. Ibuku menyuruhku untuk berhenti sekolah karena sudah merasa tak mampu lagi untuk membiayai sekolah yang tentu membutuhkan biaya semakin besar. Akhirnya, Aku berusaha sendiri untuk mengikuti tes masuk sekolah tingkat akhir. Walhasil, aku lulus di MAN 2 Pamekasan dengan jumlah biaya Rp 105.000 tiap bulan dan uang pembangunan sebesar tujuh ratus ribu Rupiah. Ketika Aku mengetahui bahwa aku lulus, Aku mencoba berbicara pada ibu dan meyakinkannya bahwa akan ada jalan untuk mempermudah dalam mencari ilmu. Lagi-lagi takdir bergaris lurus dengan keinginanku. Tuhan memberikan jalan sehingga ibu bisa membayar SPP dan tinggal uang pembangunan.

Pagi ini aku dipanggil guru ke kantor sebelum masuk kelas. Guru tak banyak berucap, hanya menyodorkan amplop putih yang berisi surat pemanggilan orang tua. Sepulang dari sekolah, aku menyampaikan surat itu pada ibu. Surat itu berisi pemanggilan orang tua karena tidak membayar uang pembangunan yang seharusnya sudah dibayar di awal semester. Keesokan harinya, ibu langsung menemui guru di kantor. Ibuku hanya bisa menangis dan mengatakan beberapa kalimat dengan terbata-bata.

 “Mohon maaf pak, saya tidak punya uang untuk membayar uang pembangunan. Sebelumnya saya sudah meminta dia untuk tidak melanjutkan sekolah, karena saya tidak punya biaya.  Namun, dia tetap ingin sekolah. Ia memiliki semangat belajar yang kuat,” ucap ibu sambil menangis.

Semua terharu sekaligus terenyuh mendengar penjelasan ibu. Hingga akhirnya sekolah mengartiskan uang pembangunan dan memberikan bantuan siswa miskin padaku.  Tiga tahun kemudian kelulusan telah tiba. Lagi-lagi Tuhan menedegra semua doaku. Aku lulus di Universitas Trunojoyo Madura melalui jalur undangan. Akupun bicara pada ibu dan menyampaikan kelulusan tersebut, hanya ibu tak mengizinkanku untuk pergi jauh ke Bangkalan. Ibu ngin agar aku tetap di rumah bersamanya. Tak ada pilihan lain, akhirnya aku patuh pada keinginan ibu. Aku mencari berbagai informasi tentang beasiswa karena biaya kuliah tidak murah. Akhirnya aku mendapatkan info bahwa di kampus IAIN Madura ada jatah beasiswa full biaya kampus dan biaya hidup yang hanya diperuntukkan untuk lima orang.

Harapan dan doa sering dipanjatkan agar takdir kembali bergaris lurus dengan keinginanku. Sebelum berangkat tes beasiswa di IAIN Madura, Aku meminta ibu untuk mendoakanku.

“Bu, doakan Tuhan mengijabah keinginan kita.”

“Iya nak, semoga kamu bisa lulus,”  jawab ibu sambil tersenyum.

Beberapa hari kemudian, pengumumanpun telah tiba. Dengan penuh rasa syukur dan bahagia, aku lulus mendapatkan beasiswa tersebut. Aku beruntung, sebab dari sekian ribu mahasiswa  hanya lima orang yang dipilih.

Siapa sangka orang sepertiku dapat mendapatkan peluang yang sangat besar. Bahkan, aku tidak pernah membayangkan sebelumnya. Ibu telah menguatkanku dan mengajarkanku perihal hidup yang selalu dijalani dengan sabar. Memang, kenyataan kadang tak sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Hidup memang proses, hasil hanya hadiah kecil dari proses tersebut. Aku, seorang anak bungsu yang mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan, meski biaya mejadi penghambat kegagalan. Hanya saja, ketika seseorang berani untuk melangkah, ketika itu pula takdir akan berjalan beriringan dengan apa yang kita lakukan. 

*****

Navilatun Naimah yang dilahirkan tanggal 23 Juli 1998 di Desa Lenteng Timur, Sumenep. Orang tuanya bernama Helmi dan Nurhayati. Penulis pernah menempuh lembaga pendidikan di TK Pelita Hati, SDI Pelita Hati, MTs Al-Amien Jambu, SMK Siding Puri, dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura dan menjadi santri di Pondok Pesantren Ziyadatut Taqwa 


POSTING PILIHAN

Related

Utama 5076732291231180330

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item