Sang Tangan dan Mural


"Kenapa aku hendak kau hapus dari lapang dinding-dinding kota?" tanya mural kepada tangan-tangan gemetar, yang kanan gentar memegang kuas dan yang kiri mengeratkan kaleng cat warna gelap. "Salahku apa?" sang mural bertanya -- dua tangan tergeragap, lalu tertegun -- kuas nyaris lepas, kaleng hampir jatuh. "Kami hanya menunaikan tugas," kata dua tangan serempak, "dari kepala yang tak pernah kami tahu. Kami hanya mendengar suara cemas!" Pandemi terus merangsek, kekuasaan makin sensitif. Orang kebanyakan blingsatan: disalahkan dan dirumahkan.

"Apakah engkau menolak kuhapus, dan aku bakal diputus dari tubuh rakus?" tanya dua tangan kepada mural yang gelisah bersandar di dinding kota. "Cepat, hapuslah aku, hapus aku, sebelum orang-orang tahu!" perintah si mural tegas. "Cepat, hapus bersih aku dari dinding kota ini supaya aku dalam ketiadaan secepatnya!" pinta mural. "Kehadiranku boleh jadi memang membahayakan -- menjadikan orang-orang terlupa wajah-wajah cemas yang dicantikkan dan ditampankan demi meraup kekuasaan. Ketiadaanku akan melapangkan baliho-baliho di penjuru kota untuk dipandang orang-orang!" urai mural.

Dua tangan tertegun, terjebak jeda, gentar hendak menyapukan kuas di tubuh mural. "Hapus aku! Jangan tunggu waktu. Segera! Baliho-baliho itu cemas orang-orang melengos karena aku! Biarkan aku sirna agar baliho bisa masuk kornea mata!" Tangan kanan itu agak gugup menyapukan cat di mural -- tangan kiri itu nyaris melepaskan kaleng cat warga gelap. "Biarkan aku tiada demi baliho-baliho orang ternama," doa mural sebelum tertimbun cat yang pasrah. Malam terdiam, matanya nyalang. Langit meredam blingsatan. Pandemi masih tetap membayang.

@ kekuasaan itu memang keras kepala walau tak cendekia -- kecendekiaan malah biasa jadi musuh kekuasaan yang tak tulus. (Djoko Saryono)



POSTING PILIHAN

Related

Utama 1228545249178836941

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item