Sajak-sajak MH. Dzulkarnain Annuqayah


MH. Dzulkarnain
nama pena dari Noer Moch Yoga Z. Pemuda kelahiran Sumenep, 16-06-2003. Alamat rumah Desa Gunung kembar Kec. Manding Kab. Sumenep, Santri PP. Annuqayah Daerah Lubangsa , Siswa kelas akhir MA 1 Annuqayah, Aktif di Organisasi Daerah ‘IKSAPUTRA’ (Ikatan Santri Pantai Utara), dan salah satu Masyarakat  ‘Majelis Sastra Mata Pena’. Buku Antologi bersamanya a.l.: Menjadi Sajak dan Jarak (Tazik zona barokah, 2020); Ajher (Keraton, 2020); Antologi DNP 11 KHATuLISTIWA (KKK, 2021). Dan beberapa karya lainnya pernah dimuat di Koran Jawa Pos Radar Madura (JPRM); Majalah Sidogiri (Sya’ban1442). dan beberapa puisi juga bisa di lihat di media Online : NU Online Sumenep; Takanta.id; dll.  Bisa dihubungi lewat E-mail: mh.dzulkarnain2003@gmail.com, Instgram: @yoga_dzlkrnn. Nohp/WA: 081911213026

*****
 

Wanita Di Ujung Pena
;Sherli

Saat senja tiba tabah bersemayang di kelopak matanya
hujan pun hijrah keladang sajadah
elok kupandang wajah tak seberapa elok mekar bunga
rupanya rahasia tuhan di bibirnyalah berada
lenting bulu mata membuat senja manja terpesona
ia wanita yang terbit di ujung pena dan tenggelam ke palung dada

Annuqayah Mata Pena, 2021


Aku, Kau dan Hujan Di Bulan Juni
;Sherly

Apa kabar Sher...
Tadi pagi aku dapat selembar risalah dari Tuhan
Setelah aku baca,
Ternyata aku, kau dan hujan adalah saudara
Kita sama-sama dilahirkan dari rahim bulan juni
Dibesarkan oleh ombak peradaban negeri
Merasakan nikmat Tuhan lewat senyum ibu sejak dini
Menyeruput pahit pekat hidup dari secangkir kopi

Pada rahim bulan juni ini
Mari kita berdo’a mengepalkan tangan kanan-kiri
Semoga hari demi hari bukan sekedar mimpi sunyi
Dan setidaknya,
Di hari esok kita bisa merealitakan mimpi kemarin hari

Bersama hujan di rahim bulan juni ini
Kau dan aku adalah puisi
Mengalir dari sawah ke sungai mencari jati diri
Dari muara ke palung samudra mencari titik tepi

 Annuqayah Mata Pena, 2021


Setangkai Kisah Beranting Puisi  
;daduwi nh.

Nuansa baru pagi itu aku menemukanmu di balik bilik mimpi
Etika tingka dan senyum yang tak pernah alpa sempurna mekar bunga
Nafas yang kau lepas berdesir meraba dada
Gincu seakan tak berguna pada kedua pipimu yang telah lebih dulu merona   

Nostalgia bersama malam tak cukup mengobati goresan kenang
Ingatkah kau, dulu kita pernah pasang wajah di jendela Tuhan
Hampir dua puluh empat jam kita hitung bersama di kening malam
Aku dan kau memang diksi Tuhan yang larut dalam secawan peradaban
Laila dan majnun pun adalah bukti profil dari kisah kita yang terlarang

Lupakah engkau saat kata terucap pilu padaku?
Untuk apa kau menerima lelaki lain, jika kau masih menerimaku sebagai butiran debu di pipimu
Nestapa air mata yang berlinang deras disela-sela pipi itu, aku tak rela melihatnya jatuh

Nama kita telah diikrar oleh Tuhan dalam setangkai puisi
Alam pun gembira mendengarkannya
Desir ombak di laut sana akan hening seketika
Andai kata kita bertatap muka mencuci luka

Annuqayah Mata Pena, 2021


Lembaran Waktu

Lembaran waktu terus terbuka
Burung-burung hinggap di pundak rumah
Meratapi jejak subuh merangkul do’a
Becericit menyambut rona bagaskara

Aku masih berada di tepi gubuk mati
Menjemput segala yang surga pada lekuk tubuhnya

Aku pun terbangun dari ranjang Tuhan
Dengan serpihan angan menempel di tembok ruang
Cericit para burung masih tetap bersenadung
Memberi kabar, bahwa waktu telah membawanya pudar

Ternyata, di gubuk mati itu
Seorang perempuan
Yang selama ini menjadi penghuni detak waktuku

Annuqayah Mata Pena, 2021


 

Mata Air Dan Air Mata Tanah Air Kami

Mata air tanah air kami
Mengalir dari sungai ke pinggir sawah
Dari muara ke palung samudra
Kita dapat melihat
Padi-padi merunduk menguning
Pada petani yang sedang duduk mengusap kening
Kita juga dapat melihat
Ikan-ikan lokan berlomba-lomba mendo’akan
Para nelayan yang sibuk memeluk angin dan angan

Sedangkan...
Air mata tanah air kami
Tersia-sia tumpah di pundak peradaban buana
Membasahi sajadah yang luas terbentang di dada
Menjelma hujan obituari di sudut koran atau di pojok majalah  
Tangisan anak-anak, suara demontrasi pelajar menggema
Hingga celoteh-celoteh terngengeh para kaum lansia
Menampar wajahnya sendiri hingga mereka tak menyadari
Bahwa saudara sedarah sendirinya yang mengotori bumi ini

Aku seorang kawi hanya bisa meratapi alam buana ini
Ketika sunyi dan sepi bersetubuh di ranjang mimpi

Annuqayah Mata Pena, 2021


Sekilas Cerita

Aku hanya seorang kawi muda
Tiap hari meluangkan waktu bersama sisa kata
Dari IG, FB dan WA
Dan mereka pun setia membiarkan pintunya terbuka   
Demi kata dan waktuku  yang tersisa

Annuqayah Mata Pena, 2021


Kampung Halaman

Tuhan...
Perkenankanlah hamba pulang
Untuk liburan dan lebaran
Di kening dan bibirnya
Kampung halaman yang tak pernah hamba singgah

Annuqayah Mata Pena, 2021


Di Ruang Ini

Di ruang ini
Raung riang kami
Adalah mimpi esok hari
Adalah langkah yang diucapi
Adalah teka-teki yang telah kami pecahi

Bukan omong kosong kaos kaki
Bukan cerita humor si Kancil dan Pak Tani
Bukan sekedar celotehan anak jalanan
Apalagi gerutuh rakyat gelandangan

Di ruang ini
Duka, tawa, lugu, gila, nyanyi suka-suka, galau tiada tara, bucin (budak makan cinta), caci-maki, saling membuka, saling menutupi
Semua kami larutkan dengan sekedar menebar senyumam dan menyulam angan

Annuqayah Mata Pena, 2021


Di Bibirmu #1
:Neng

Di bibirmu
Aku tersimpu malu
Mengeram dalam ucapan
Mendekap dalam kenangan
Jika Tuhan mempertemukan
Adam dan Hawa di baitul rahman
Maka Tuhan pula mempertemukan
Kau dan aku di baitul kalam
Tempat puisi kita bersemayang

Di bibirmu
Para malaikat
Tertidur lelap
Seakan-akan dosa tak pernah kau dekap
Jika ashabul kafi dan anjing nya
Tiga ratus tahun tidur lama nya
Demi mengelabui mereka
Maka satu detik merupakan
Awal bagimu meracik kata yang sempat luka
Demi menyimpul kisah pisah kita

Annuqayah Mata Pena, 2021    


Di Bibirmu #2
:Neng

Di bibirmu
Para penyair berzikir
Melumat nikmat Tuhan yang sempat hangat
Dan memeluk tubuh yang tabah
Dengan secerca do’a terucap indah
Kata-kata mengelus kendang telinga
Memberi kabar tentang pagi
Yang tak menyapah lagi pada seoarang kekasih

Di bibirmu
Aku melihat semacam peristiwa
Seorang perempuan yang gelebah
Dan seorang laki-laki yang menyimpan rahasia
Mereka berdua sama-sama punya rasa
Tapi tabir waktu terus menyelimutinya
Akankah mereka kembali bersua
Menyambung cerita Qois dan Laila
Atau mungkin mereka ingin membuat sejarah
Tentang ‘Asmara Kisah Pisah’  

Annuqayah Mata Pena, 2021


Dunia Layar Filterisasi

Tuhan...
Tolonglah hambamu ini
Dalam menyikapi dunia layar filterisasi
Yang menjadi tabir kedustaan mata hati
Hamba tak mau punya kekasih
Yang piawai dalam menjual diri

Annuqayah Mata Pena, 2021


POSTING PILIHAN

Related

Utama 4299612584474831699

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item