Rumah Saya Sering Kebanjiran


Addarori Ibnu Wardi

Tiap kali hujan turun, hati saya selalu degdegan. Bagaimana tidak, di saat itu saya degdegan seraya berguman dalam hati "Banjir gak... Banjir gak...". Persoalan banjir, tentu sudah menjadi masalah tahunan di kampung saya. Ketika mencari solusi, jawabannya selalu sama. Bahwa rumah saya atau lebih tepatnya rumah keluarga saya lebih rendah dari jalan. Jika dilihat ke sekeling saya, rumah maupun pertokoan memang lebih tinggi.

Awalnya saya menerima pernyataan itu. Tapi setelah dilihat akta dan sertipikat, di mana bangunan itu berdiri sejak tahun 70an atau bahkan sebelum itu, saya berpikir, kenapa persoalan Banjir ini muncul belakangan? Saya tipe orang yang gak mau menerima pernyataan orang lain yang menyalahkan saya, atau dalam kasus ini, si pembuat rumah atau desainer rumah kali pertama. Saya mencari tahu, membongkar peta dan dokumen di rentang waktu 50-90 an, bahkan 2000 awal.

Alhasil, persoalannyan bukan di kesalahan desain. Tetapi ternyata, depan rumah saya itu ada kanal yang cukup besar untuk saluran pembuangan air. Namun, entah siapa yang hendak disalahkan, sudah beberapa tahun kanal itu 'hilang', berganti selokan kecil. Sedangkan kanal besar itu sudah berubah menjadi sebuah bangunan. Sedangkan pemerintah, tiap tahun menambah tinggi jalan dengan pengaspalan baru. Tapi saya pikir, hal itu tidak masalah jika kanal besar masih ada. Karena ternyata, kali depan rumah kalau sudah tidak mampu menampung debit air, maka akan tumpah ke rumah saya. Kalaupun saya tinggikan, ini kan hanya memindah luapan air dari rumah saya ke jalan, atau ke rumah orang yang tidak mampu menunggikan pondasinya.

Jika kita mencoba menerawang masa depan, dan persoalan ini dibiarkan begitu saja, setinggi apa pondasi rumah saya harus saya buat? Toh debit airnya tiap tahun bertambah!

Lalu, saya mencoba menganalisa lebih jauh lagi. Karena saya percaya, tidak mungkin suatu peristiwa datang begitu saja turun dari langit, tidak! Suatu persoalan akhirnya muncul lagi. Wilayah serapan di Kampung saya mulai menyempit. Ia sudah diganti oleh bangunan berupa perumahan, hingga bioskop yang sempat bermasalah. Semua itu hanya mempunyai satu alasan, yaitu, Kemajuan. Entah maju untuk siapa, yang jelas, saya pikir kemajuan yang didengungkan itu tidak akan pernah sepadan dengan konsekuensi negatif yang ditimbulkan. Mau bicara lowongan pekerjaan? Seberapa besar menampung pekerja? Bicara pendapatan daerah, lebih besar mana dengan 'kerugian' yang ditimbulkan?

Selanjutnya, persoalan sampah yang tidak kunjung usai tertangani. Jelas masalah ini masalah bersama. Karena, jangankan pola pikir untuk mengurangi produksi sampah, pola pikir memindah sampah aja belum selesai. Ada hal yang harusnya berjalan beriringan, antara perilaku manusia (warga), pun juga kebijakan pemerintah. Sebelum ngomong soal kebijakan pemerintah, saya hendak bicara perilaku manusia lebih dulu.

Sebagaimana gambar di atas, ini ketika saya menambah tinggi batas pagar rumah. Sebab, setelah sekian tahun tidak disambangi, ternyata banyak tumpukan sampah, terutama Popok, baik untuk bayi/balita, maupun popok manusia dewasa (Pembalut). Padahal, saya masih belum mempunyai anak, kenapa bisa banyak popok? Bahkan sebelum dibakar, kalau diangkut dengan Truck, yakin tak cukup sekali angkut. Jelas, ini ulah warga sekitar yang pemalas untuk buang ke tempat sampah yang seharusnya. Oleh sebab itu, saya tinggikan pagar agar tidak bisa membuang sembarangan, persetan dianggap gak bersosial dengan tetangga.

Maksud saya bercerita, ini masih 'untung' membuang ke lahan tetangga macam saya. Itu pasti karena jauh dari kanal/sungai. Bayangkan perilaku semacam ini hampir merata, termasuk warga di sekitaran sungai/kanal. Mereka semacam punya kekompakan untuk membuang sampah sembarangan ke sungai atau kanal sisa-sisa belanda yang semakin mengecil itu. Bahkan, beberapa waktu lalu saya sempat memposting foto tumpukan sampah di bawah tulisan "dilarang membuang sampah". Kalau menggantungkan ke pasukan kuning, ya mereka bekerja sesuai Jobdes mereka berdasarkan anggaran. Mereka mau membersihkan sampah karena dibayar, dan entah, bayaran untuk mereka sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup laik atau tidak.

Mereka bekerja memindah (Membuang) sampah ke TPA 'hanya' yang ada di tempat sampah pinggir jalan. Lah ini di jalan yang ada tulisan dilarang malah buang sampah, ya itu bisa jadi masuk job tambahan. Artinya kalau gak ada 'perintah' ya gak dibuang, makanya sampek berhari-hari.

Nah, perilaku semacam ini kadang membuat saya timbul pertanyaan. Kok nyaman ya mereka ini? Apa gak takut, anak-anak mereka sakit? Apa mereka gak capek kalau tiap tahun banjir? Karena kan, sampah itu bisa menyumbat selokan-selokan, dan membuat dangkal sungai. Apalagi sampah plastik, pembalut, maupun popok sekali pakai. Kalau gak percaya, coba masukin ke WC kalian masing-masing, dan lihat hasilnya bagaimana.

Selain itu, semakin bertambahnya kemajuan, beriringan dengan semakin berkurangnya penghijauan di tengah Kota. Pohon-pohon sudah banyak berganti menjadi bangunan. Dan itu juga persoalan yang harus dipikirkan bersama.

Kenapa saya memilih dipikirkan bersama? Karena kita gak bisa menyalahkan satu pihak, pemerintah saja misalnya. Karena seperti kasus kanal yang mulai menyempit, pemerintahnya selalu melakukan pelebaran jalan, rumah warganya semakin mepet jalan. Liat saja, banyak tiang listrik ada di rumah warga, padahal seharusnya, tanah di batas tiang itu milik pemerintah. Sama halnya terkait kasus sampah yang masih saja menjadi problem sampai saat ini. Perilaku warganya begini, pemerintahnya juga kurang serius.

Coba saja pemerintah serius urusi persoalan ini, misal dimulai niru daerah yang kalau ke Minimarket di larang menggunakan plastik. Lebih ekstrem lagi, tidak boleh berbelanja menggunakan plastik. Sementara masyarakatnya diedukasi bagaimana tentang sampah dan antisipasi banjir. Selain itu, pemerintahnya juga jangan dikit-dikit pembangunan di wilayah serapan dengan alasan kemajuan.

Saya pikir, persoalan Banjir itu bisa dihitung pakai Ilmu, kok. Toh dasarnya adalah rumus debit air, atau rumus Input air dan Output air. Kalau misalnya nih, input airnya maksimal 1000 liter, maka harus buat serapan yang lebih dari itu. Tentu para ahli yang bisa menghitung.

Urusan sampah juga saya bahas yang dangkal-dangkal saja. Karena saya sendiri sampai saat ini bisanya memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Dari yang berserakan ke tong sampah. Kalau mau lebih dalam, silakan belajar ke Annuqayah daerah Sawajarin. Mereka sudah memulai untuk tidak produksi sampah.

Jadi, dari persoalan rumah saya sering kebanjiran, saya menadapati pelajaran di atas. Kalau hanya sebatas mau bicara tinggikan saja pondasi rumahnya. Ya itu tadi, mau setinggi apa? Saya berpikir, Belanda meskipun menjajah kadang mereka menurut saya lebih humanis dalam membangun. Mereka membangun lengkap dengan serapannya, ketahanannya, hutannya, dsb. Tengok saja kalau tidak percaya, masih banyak bangunan atau pembangunan seperti dam, kanal, jembatan yang masih berdiri kokoh hingga kini. Beda dengan kita yang membangun. Aspal saja setahun udah rusak, kok.

Diangkat dari akun FB Addarori Ibnu Wardi



POSTING PILIHAN

Related

Utama 5396958693250320548

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item