Puisi-puisi Ika Cahya Adiebia

 


Ika Cahya Adiebia
, adalah mahasiswa semester III Tadris Bahasa Indonesia IAIN Madura di Pamekasan


******

Untuk Manca Tak Berpematang

;Olle ollang

Serupa asinnya air di laut
adalah seusai lepas dari wangi tembakau
masa malaise kolonialisme Belanda.
Paraona alajere
Kau perkasa, bersama sakeramu
yang tegak di garda terdepan.
Kau kemasyhuran, dengan karapan sapimu
yang membudaya.
;Olle ollang
Pantulanmu serupa penjuru mata angin.
Siapapun bebas melihat dari segala arah.
;Alajere ka madhure
Maduraku.
Kau senyata keberagaman yang menyatukan sepakat
untuk tak lagi berselisih paham.
yang kontroversi bukan pemantik api
Sebab kultur milik yang memeluk erat syahdumu.
Jangan undang setetes saja merahmu, atau lihat
bagaimana celurit menampilkan sorot tajam matamu.
;
Tambak garammu,
Tembakau melimpahmu,
adalah wangi yang dibawa desir angin hingga manca
yang tak berpematang.
;Olle ollang alajere ka madhure



Penipu Semesta Kita

Tak ada yang nyaman
dari melihat pantulan keakuan.
Sebab membidik titik,
tepat pada sasaran inti penciptaan
adalah menyentuh sentimen perasaan.
Bila segala cipta berlomba mendongak,
payahlah pertiwi ini.
Di bawah gugusan pembelot riang yang tertawa
Puas benar menipu semesta kita.



Demi Baik-baik Saja (yang) Padahal Tidak


Kau saja yang terlalu sering limbung kala mendaki
Fisik yang lelah, pun bawaan berat dipikul. Belamu.
Kakimu meranggas.
Pecah.
Berdarah.
Bagaimana tidak?
Untuk sebuah kelayakan.
Katamu.
Aku mulai berpikir tentang pepohonan
yang seolah menari di sepanjang tebing yang kau lewati
bersenandung kisruh yang kaprah.
Paradoks, memang.
Namun bukankah dunia ini memang tidak sedang baik-baik saja?
Setelah pepohonan ditebang
digemborkan penanaman ulang.
Seusai hutan dibakar
disuarakan penghijauan secara besar.
Semua.
Demi kebaik-baik sajaan.
Padahal semua tetap tidak baik-baik saja.



Deskripsi Aksara Rasa

Rambut ikalmu jalan yang membentang di antara dua samudera.
Matamu pengawasan di keramaian pasar rasa.
Pundakmu, sekat sepanjang tebing curam dan rawa.
Dua benua menyatu dalam senyum yang (dengan tamak)
hendak kudekap seorang diri.
; Atau dua kisah,
yang menyatu dalam debar mengakar
pada sebuah romantika aksara.
Lalu atas nama waktu,
; Sementara,
untuk kesementaraan sementara yang lain.

    

Gigil Kenangan

Sesekali,
bermainlah di tengah lapangan,
di bawah terik mentari yang menyengat
agar usai segala gigil kenangan.
Atau bersembunyi dari rumah ke rumah
menghindari kejaran rindu
yang bertanggung jawab atas banyak temu.
Permainan selalu penuh kebohongan
dustanya merebak
membanjiri pelosok negeri.
Berkejaran banyak ingatan
di antara riuh sorak
di pinggir halaman
Atau yang memburu
Singgah ke rumah-rumah
demi temukan sebuah pengharapan.
Sesekali, bermainlah sesuka hati
Sebab disaat yang lain
Ada yang tak boleh sekadar bermain-main.
;merawat ingatan.
Misalnya.



POSTING PILIHAN

Related

Utama 7908602453539156227

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item