Politik Dalam Sastra


Mashuri Ahamdulillah

Politik tidak tabu dalam sastra. Almukarom Don Octavio Paz sendiri, sudah menggurat soal itu dalam sebuah esainya, bahwa sumbangan terbesar sastra pada ilmu politik adalah sesuatu yang agung tetapi rapuh, yaitu memori. Entah kenapa, saya suka dengan kutipan tersebut. Mungkin ini juga politis. Ehm!

Dalam minggu ini, saya mengudap ulang dan mengutak-atik tiga novel, yang menempatkan politik, dengan segala medan makna di dalamnya, sebagai bahan ceritanya. Ketiganya memang bukan novel gres.

Pertama, “Short History of Tractors in Ukranian” karya Marina Lewycka”, terbitan Gramedia, 2008. Kedua, “Candra Kirana” karya Ajip Rosidi, terbitan Pustaka Jaya, 1972. Ketiga, “Max Havelaar” terbitan Narasi, 2008. Ketiganya kuyup dengan politik, meskipun dengan cara dan penafsirannya sendiri-sendiri.

Tentu bila kita bicara dalam kerangka di atas, judul ngablak ini sungguh bombastis. Tetapi, era kini adalah era yang gandrung dengan “bom”, apalagi "bom" yang beraroma asolole. Uhui! Sori ngepot, Coy!

Dilihat dari judulnya, yang dalam bahasa Indonesia "Sejarah Singkat Traktor Dalam Bahasa Ukraina", sesuai yang tertera di covernya, novel pertama terasa ringan. Menapaki awal kisahan, terasa pula enteng dan renyah, seperti mengudap pop corn pada saat kencan pertama dengan si doi. Bahkan, ada kesan lucu di dalamnya.

Namun, begitu alur mulai menanjak, dan konflik mulai terbuka, hmmm, ternyata novel tersebut sedang membicarakan sesuatu yang ‘sensitif’ sebenarnya –apalagi di Tanah Air tercintah. Tentu bukan karena Nikolai ingin kawin lagi dengan seorang janda mudah yang hmmm setelah ditinggal mati oleh isterinya Ludmilla. Namun, ihwal memori yang begitu lebam ketika Ukraina di bawah cengkeraman kekuasaan rezim komunis –sebagaimana beberapa nasib negara-negara lain di Eropa Timur.

Memori masa lalu itu kembali menjadi persoalan masa kini, karena para tokoh novel yang sudah menjadi warga Inggris kesulitan untuk lepas dari kenangan pilu –yang terejawantahkan pada sikap dan kehidupan kekinian mereka. Novel ini memang berkumpar pada persoalan keluarga, tetapi dari sana mengungkap banyak hal terkait dengan imbas politik masa lalu. Hebatnya, hal itu dikemas dengan cara ringan, bahkan humoris.

Novel kedua, "Candra Kirana", begitu basah-kuyup dengan politik. Novel ini merupakan saduran dari salah satu Cerita Panji, yang versi dan variannya, bikin kepala puyeng karena saking banyaknya. Adapun ketika saya telisik, yang disadur oleh Ajengan Ajip Rosidi adalah versi Serat Panji Angreni.

Memang, ada pembelokan-pembelokan yang disesuaikan dengan tuntutan alam pikir modern dan tuntutan alur novelnya sendiri agar berterima di kalangan pembaca dari generasi pasca-Indonesia merdeka. Novel ini menceritakan upaya Prabu Jayantaka, raja Jenggala, untuk menikahkan Raden Panji, anaknya, dengan puteri Daha, Dewi Sekar Taji, dengan cita-cita politik yang ngidap-ngidapi: membentuk negara kesatuan Janggala—Kediri.

Yup, kedua kerajaan adalah pecahan Kahuripan, yang telah dipecah oleh kakeknya, Prabu Airlangga, dengan bantuan Empu Bhadara yang dikenal sakti mandraguna. Meski berbabon Cerita Panji, yang sejatinya berbicara soal cinta, tetapi intrik politik tergambar dengan rinci di dalamnya. Tentu saja, perjodohan yang dilakukan oleh kedua raja tersebut dalam kerangka perkawinan politik. Yang tidak boleh dilupakan adalah Rosidi sendiri ketika menulis ulang Cerita Panji juga politis! Ups!

Novel ketiga, “Max Havelaar” yang merupakan warisan sastra Belanda, dan terbit pertama dalam bahasa Belanda pada 1860, sangat-sangat politis. Multatutil menulis novelnya sebagai ikhtiar untuk membeberkan ‘realitas’ negeri jajahan. Di dalamnya, terdapat ungkapan-ungkapan yang demikian eksplisit terkait dengan tujuan itu. Tak heran, Pramudya Ananta Toer, dalam wawancaranya dengan New York Times pada 1999 melabeli novel tersebut sebagai pembunuh kolonialisme –meskipun ihwal novel dan penulisnya mendapatkan sorotan beragam di negeri asalnya. Di dalam novel ini, gambaran terkait dengan politik kolonial di negeri jajahan, sungguh gamblang.

Selain ketiganya, tentu sangat banyak lagi novel-novel sejenis. Namun, dari ketiganya, dalam membicarakan persoalan politik, saya pegang yang pertama. Saya kira penulisnya tak bermaksud politis dalam mengungkapkan tentang politik. Selain itu, ada cerita esek-eseknya juga, lho. Ups! Yeah, politik dalam sastra memang bukan politik tentang kekuasaan semata.

MA, On Sidokepung, 2021


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2213725841845829750

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item