Peran Literasi Digital Santri di Era Post Truth

 

Santri TMI Al-Amien Prenduan saat mengikuti pelatihan literasi digital

Oleh Nur Hidayah Selviyanti

Saat ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berjalan dengan cepat, sesuai dengan karakteristiknya yang dinamis dan iteraktif sehingga memudahkan manusia dalam memenuhi setiap kebutuhan hidupnya.

Dengan kata lain kita berada dalam dua sisi dampak media digital, dalam sisi positifnya kita diuntungkan dalam pemenuhan kebutuhan secara tepat dan cepat, sis negatifnya kita menjadi korban, di mana perubahan global yang serta merta mengalami perubahan hamper dari semua bidang kehidupan manusia, Ketika kehidupan manusia mengalami pergerasan yang sebelumnya diimplementasikan didunia nyata kemudian berpindah pada dunia maya, di mana masyarakat bisa terkoneksi dengan jaringan internet dan menerima semua bentuk informasi yang masih masif.

Adanya berbagai macam bentuk informasi termasuk didalamnya informasi tentang agama islam juga terdapat secara terbuka dalam mesin pencarian tersebut,dalam keterbukaan aksess internet itu akan menawarkan informasi dengan simbol-simbol yang berupa gambar, tulisan, video maupun sura yang harus diintrepretasikanoleh pembaca.

Kehati-hatian dalam melihat konten tersebut akan memberikan kemantapan yang diikuti kebenaran konten tersebut, utamanya dalam melihat penulis dan pembuat konten karena dunia maya sering menjadi pelarian identitas seseorang, di mana terjadi tumpeng tindih identitas untuk menutupi identitas aslinya. Pada era post truth ini pengaburan identitas sudah menjadi suatu yang biasa, sebagai contoh seseorang bisa menyamar menjadi warga korea sekaligus menjadi muslim yang taat agama.

Mereka yang gelisah dan dahaga dengan informasi seputar agama islam  akan terpengaruhh di era post truth ini. Pada saat itulah terjadi pergeseran dalam berburu kebenaran, di mana teks (Al-Qur’an, Hadis, Ijma dan Qiyas) yang selama ini menjadi rujukan bergeser pada sumber informasi islam melalui cybermedia yang tersaji secara cepat dan instant, yang isinya mudah dimengerti dan simpel.

Menurut Lyotard era post truth merupakan era kepakaran ilmu pengetahuan dengan ditandainya pergeseran kekuasaan kepemilikan oleh ahlinya. Sehingga sulit untuk ditemukan siapa ahlinya, hampir semua isu bidang kehidupan diproduksi di media sosial dan menjadi konsumsi dalam konsensus yang tanpa batas, siapa saja bisa menginterpretasikan, tidak harus terikat oleh apapun dan tanpa menggunakan metode ilmiah yang sesuai dengan aturan.

UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah dalam hal literasi dunia, artinya minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan dan jika dipresentasekan hanya 0,001%, artinya dari seribu orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Dinamika masyarakat yang miskin literasi ini menjadikan masyarakat tidak mampu dalam mengukur, mengklasifikasi atau bahkan memperhitungkan mana informasi yang benar dan mana yang berpotensi pada hoax. Hal ini selaras dengan data yang didapat dari Kominfo.go.id. menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi atau berita bohong.

Masyarakat belum memiliki bekal yang kuat dalam memilih kelompok informasi kategori benar (real news), palsu (fake news), dan atau keliru (false news), era ini di mana orang modern menyebutnya sebagai post truth atau era pasca kebenaran. Era Post truth sering dimaknai sebagai era di mana semuanya adalah kenyataan padahal dalam faktanya adalah informasi bohong atau ada manipulasi didalamya, seperti: hoax, fake news, kabar palsu atau sebutan lainnya.

Lebih sederhana lagi dalam permasalahan perkembangan teknologi dan isu bohong tersebut menjadi peluang santri untuk mengembangkan keilmuannya melalui literasi digital dalam meretas beritmisa bohong di era post truth tersebut, karena pesantren adalah komunitas dan lembaga pendidikan yang sangat berperan aktif dalam dunia Pendidikan utamanya dalam mecetak karakter yang religius. Pesantren pada realitanya sudah mampu mencetak tokoh-tokoh yang selama ini menjadi pemeran aktif dalam mempertahankan kemerdekaan. Pada realitanya setiap Pendidikan dalam pesantren menuntut setiap santri memiliki kemampuan dengan pemahaman yang kritis  (critical understanding) dan kemampuan komunikatif (communicative abilities).

Pemahaman kritis atau Critical Understanding merupakan ketangkasan dalam analisis dan evaluasi informasi secara luas dan berperan. Kriteria pemahaman kritis merupakan tangkas dalam memahami isi dan fungsi media, mempunyai pengetahuan tentang media dan aturan atau regulasi media, dan perilaku pengguna media dalam memanfaatkan media.

Santri harus memiliki kemampuan untuk memfilter informasi dan membedakan kategori informasi hoax atau bukan, walaupun tidak terlalu kritis. Santri harus mampu memahami konten dan fungsi media serta bisa memanfaatkannya untuk kegiatan pembelajaran dan dakwah sebagai bentuk solutif meretas hoax yang sudah merajalela meskipun notabenya sebagai santri yang hanya tinggal dipondok.

Kemampuan komunikatif (communicative abilities) yaitu ketangkasan dalam berkomunikasi dan berkontribusi melalui saluran media. Kemampuan komunikasi merupakan kecakapan dalam membangun hubungan sosial kemasyarakatan untuk ikut berpartisipasi melalui saluran sosial media, tidak hanya itu kemampuan komunikasi juga meliputi kecakapan dalam menyusun konten atau isi media. Kemampuan komunikasi di internet tidak hanya terbatas pada kegiatan update status di media sosial seperti millennial sekarang tetapi harus mampu membuat konten yang ada kaitannya dengan proses pembelajaran, melakukan kritik media sosial diluar materi pembelajaran, dan update berita dari internet untuk kepentingan peningkatan informasi pada dirinya sendiri dan peretasan berita bohong.

Dengan kemampuan literasi yang  dimiliki oleh santri, tentu informasi yang dibaca akan difilter terlebih dahulu, di sinilah peran serta transformasi ilmu keagamaan dan keterampilan literasi mengambil jalan untuk menghadapi informasi yang berpotensi terhadap hoax, sehingga santri adalah agent of change dengan mengubah pola pikir masyarakat yang melek informasi dan tekenologi komunikasi dengan tepat.

Potensi santri dalam transformasi digital literasi memasuki era post truth dalam era industry 4.0 sangat perlu diberi pembekalan untuk ikut berpartisipasi dan tidak kalah jauh dan kalah saing dengan generasi millenial dalam menggunakan internet tanpa ada pembatasan dalam penggunannya. Karena, pada revolusi industry 4.0 tidak hanya kecerdasan emosional yang dituntut. Akan tetapi harus mampu dalam berliterasi khususnya digital literasi.

Selain peran pengembangan potensi, santri bisa berperan dengan menerapakan strategi dakwah melalui literasi digital sesuai Pendidikan di pesantren, diantaranya yang pertama penerapan kepribadian yang kuat, jiwa sopan santun, berprilaku baik dan beretika karena dengan hal tersebut kepribadian akan berintegritas dan mampu mengendalika diri dalam pemanfaatan teknologi.

Kedua, sebagai pelaku dakwah santri harus memiliki keahlian dalam mengambil dan menggunakan informasi yang tersebar agar bisa memfilter secara tepat.  Dengan strategi literasi digital dakwah era post truth yang dasarnya sudah ada dalam Pendidikan pesantren berupaya dalam dakwah amar makruf nahi mungkar melalui kegiatan membaca dan menulis pada konten media digital sebagai medianya utamanya untuk meretas berita hoax. Terakhir pesan penulis yang harus diingat generasi millennial di era post truth adalah “Saring Sebelum Sharing dan Thinking Sebelum Clicking”

Nur Hidayah Selviyanti- Program Reguler Semester V Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Institut Dirosat Islamiah Al-Amien Prenduan

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8167389331162273794

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item