Pentigraf Sosialita Kampung


Pentigrafis: Lilik Rosida Irmawati

Ketika Kuncup Merekah

Bertemu dan mencuri-curi pandang ternyata sangat mengasyikkan. Rasa itu menyelinap di hati Astri, merayap ke segenap tubuh dalam aliran darah lalu bercokol kuat di hati. Setelah itu debarannya membuat hatinya berdegup kencang, membuai memabukkan. Kini Astri kembali merasakan debar-debur yang menggetarkan dan menggelorakan. Meski dimabuk asmara Astri masih mampu mengendalikan diri. Rasa itu dinikmati diam-diam di kesunyian jiwa dan hanya bisa menyimpan rindu itu di kedalaman hati. Rindu yang melenakan, melelahkan dan menyakitkan.

Enam tahun hidup sendiri bukanlah hal mudah. Sejak melepaskan genggaman tangan Sentot di pengadilan Astri menutup pintu hati demikian rapat. Trauma mengayuh biduk bersama, kemudian menanggung penderitaaan secara fisik dan psikhis. Lelaki cinta pertama yang dipujanya menjadikan tubuhnya pelampiasan murka. Biduk itupun kandas hanya dalam hitungan tahun. Meski dihujani kekecewaan serta sakit Astri mendidik dirinya untuk tidak marah. Menerima penuh keikhlasan garis takdir.

Kuncup hati yang kini mulai merekah pada sosok Farid, managernya semakin merekah. Sosok laki-laki idaman, baik hati, santun dan religius. Ditengah-tengah kesibukan yang demikian padat senantiasa mengingatkan semua rekan kerja beribadah. Seringkali Farid menjadi imam sholat, kefasihan serta suara merdunya sangat menyejukkan relung hati, dan getaran di hati Astri semakin membuncah. Kalau saja rasa malu demikian besar tidak menyelimutinya, Astri ingin mengutus seseorang yang dipercayainya untuk menyampaikan rasa. Meminang. Namun hal seperti itu masih tabu, kultur tidak memungkinkan. Tentu saja dirinya tidak ingin di cap sebagai perempuan murahan. Astri pasrah, dan benar-benar terluka ketika Farid menjamu semua tim kerja. Di sampingnya seorang perempuan berhijab, cantik diperkenalkan sebagai istrinya. Keesokan hari Astri resign dari tempat kerja yang telah dijalaninya selama lima tahun. Jalan inilah yang terbaik bagi dirinya.

Sumenep, Juni 2019

Jejak Mimpi Kelabu

Sara menatap sekeliling, tak ada jejak yang tersisa. Hamparan sawah dan kolam ikan sudah tidak ada, berganti pohon-pohon menjulang, tegak, bayangannya semakin memanjang. Sore yang teduh. Langkah Sara terayun menapaki jalan setapak yang kini dipenuhi pohon mahoni. Gemericik air mulai terdengar sayup sampai akhirnya Sara menemukan kembali dam. Pohon salam yang dulu sepadan dengan tubuhnya kini sangat tinggi. Bunga liar ungu dan pakis-pakis muda melingkar membentuk ornamen mata berjejer di sepanjang tanah pinggiran sungai.

Tak ada yang berubah, menenangkan. Dulu sekali di masa kanak-kanak tempat ini adalah sahabat sejati. Ketika lelah mendera oleh rasa sakit di sekujur tubuh, bilur-bilur memerah menyisakan perih satu-satunya yang bisa menenangkan kegusaran dan kemarahan hanyalah berendam di bening air. Luka-luka bernanah akibat cambukan di sekujur kaki menjadi santapan ikanikan kecil. Selalu dan selalu seperti itu, berjalan sampai hitungan tahun. Sejak usia tujuh tahun beban kerja sebagai tukang angon itik, membersihkan kandang, menimba air membentuk Sara menjadi sosok tangguh. Mbak Ningrum kakak iparnya telah menjadikan dirinya pembantu untuk mengurus dua keponakannya yang masih kecil.

Kembali Sara melangkahkan kaki menelusuri bangunan tua bekas gudang kopi Belanda yang dijadikan area kantor dan rumah. Tiga gudang samping rumah tinggal lahan kosong. Semua telah di renovasi. Sumur tua di samping dapur dirabat. Jejak yang tersisa hanya dapur, teralis kayu, tungku berwarna jelaga dan ranjang besi. Sara merebahkan diri serta merasakan kembali kedatangan Emak dan bulir air mata yang menganak sungai ketika Sara sakit tak kunjung sembuh. Emak datang menjempunya lalu membawa pulang semua mimpi buruknya. Semua luka disembuhkan penuh perjuangan sampai akhirnya Sara sukses menapaki masa depannya. Sara tidak pernah melupakan tempat masa kecilnya yang demikian kelabu. Bilur-bilur cambukan yang kini masih membekas menjadiksa dirinya setangguh karang.

Bondowoso, Juni 2019

Perempuan Berambut Putih

Ayu mempererat pelukan karena rasa takut mulai menjalar menggigilkan tubuh. Untuk mengurangi rasa takut wajahnya disurukkan ke punggung Bagio. Bagio menggeliat-geliat, geli menganggu konsentrasi lalu sepeda motor yang dikendarainya sedikit oleng. Bagio berteriak ketika hampir saja berbenturan dengan sepeda motor dari arah depan. Sesaat hening kembali dan bayangan lampu jalanan bergoyang-goyang. Ayu tetap saja menempelkan wajah ke punggung sua-

minya. Meski mereka hampir terjatuh tetapi rasa takut mengalahkan. Pelan-pelan Ayu melepaskan rangkulan dengan tetap memejamkan mata. Sejak awal Ayu memang keberatan melewati jalan baru yang baru saja resmi dibuka awal lebaran. Namun Bagio tetap bersikukuh karena memperpendek waktu satu jam. Sejak melewati pertigaan yang ada dua pohon Nyamplong besar Ayu merasakan hal yang aneh dan horor.

Ayu kembali memejamkan mata takkala melihat ada 3 sosok dalam bayangan kendaraan yang melaju di sisi kiri, perempuan berambut panjang. Tiba-tiba motor yang dikendarai oleng terperosok lubang menganga di tengah jalan. Teriakan Bagio dan Ayu memecah keheningan. Bagio tertindih motor sedangkan Ayu terlempar mencium aspal jalan. Ketika akan menolong Ayu, Bagio melihat perempuan berambut panjang menyeringai disertai sorot mata merah menyala. Badannya melayang di atas tubuh Ayu, rambut panjangnya rontok dan perlahan menyelimuti tubuh Ayu. Bagio tersadar kemudian berteriak mengalunkan takbir serta adzan. Ketika ada sorot lampu menyala dari arah jalan berlawanan tubuh Ayu melayang lalu terhempas tepat di depan mobil yang berdecit ketika sopirnya menginjakkan rem sekuat tenaga. Suara tawa perempuan memecah keheningan dan lamat-lamat menghilang. Bagio kemudian berlari menghampiri Ayu yang tergeletak, mengibaskan rambut panjang putih di sekujur tubuh istrimya. Sementara si sopir hanya termangu menyaksikan kejadian aneh didepannya. Malam kian senyap.

Probolinggo, Juni 2019


Mengadu Peruntungan

Ainun menangis tersedu ketika Farhan anak sulungnya meminta uang pelunasan perpisahan. Jumlah empat ratus ribu  sebenarnya tidak terlalu besar, namun kondisi keuangan sudah tidak terkendalikan. Pemilihan legislatif sudah semakin dekat, dan ini benar-benar menguras dana. Handan suaminya bahkan mulai urung-uringan serta sulit untuk diajak berembuk berkaitan dengan kebutuhan anak-anaknya,

 Sebenarnya semua sudah terkendali karena persiapan selama hampir lima tahu. Tim work kepercayaan Hamdan turun bekerja keras mensosialisasikan program serta janji. Bahkan enam bulan sekali pasangan HamdanAinun hadir di pertemuan-pertemuan rutin. Hamdan di kelompok pengajian, arisan dan kegiatan budaya. Pun sebaliknya Ainun secara berkala bertatap muka, menjalin kemitraan dengan tokoh masyarakat di daerah Dapil. Dukungan mengalir dengan deras, tinggal menunggu saat mempersiapkan amunisi terakhir di hari H. Amplop serta isinya,

Ainun kembali tersedu ketika melihat angka-angka yang mesti dibayarkan Farhan di awal kuliah. Tidak ada lagi dana yang tersisa. Semuanya sudah terkuras bahkan mobil serta sebidang tanah yang ada terjual belum bisa menutupi hutang-hutang. Untuk meminjam pada keluarga Ainun tak mempunyai keberanian. Sejak awal bapak, ibu dan Toni kakak satu-satunya  sering menegor bahkan marah melihat betapa konsumtifnya Ainun. Toni bahkan menentang keras  ketika Ainun ikut mencalonkan diri. Namun semuanya sudah terlambat. Saat benar-benar membutuhkan dana untuk menyongsing masa depan Farhan koleksi baju, dan tas mahal tak berharga ketika dilego. Kesedihan bertubi-tubi mendera Ainun ketika Farhan  mulai menyalahkannya sebagai ibu yang ambisius tidak bertanggungjawab, ditambah kondisi Hamdan yang depresi berat karena untuk kedua kalinya gagal mengadu peruntungan menjadi wakil rakyat,

    Sumenep, Juni 2019   

Sosialita Kampung

Arum tergopoh-gopoh menyambut perempuan semampai nan cantik. Senyumnya merekah, menyambut hangat, memeluk dan cipika-cipiki. Aroma harum dari tubuh Nyai Masruroh meruap membawa kebahagiaan. Ini suprise seperti mendapat durian runtuh. Bagaimana tidak? Nyai Masruroh menyempatkan diri mengunjungi rumah Arum. Sepuluh menit kemudian foto selfie Arum dan Nyai Masruroh sudah terpampang di akun Instragam dan beranda Face Book. Dalam sekejab ratusan like disertai komentar bersliweran memuji keberuntungan Arum. Tentunya kunjungan tokoh publik patut untuk dipublis.

Di lingkungan tempat tinggal, Arum dikenal sosok ibu muda berselera tinggi, sombong dan angkuh. Dibandingkan ibu-ibu penghuni perumahan yang mayoritas sebagai ibu rumah tangga dan karyawati, gaya keseharian Arum sangat wah dan heboh. Meski hanya berkutat di area domestik penampilan ibu dari 3 anak ini selalu modis serta fashionable, serasi dari ujung penutup rambut sampai kaki. Sang suami, demikian memanjakan, memenuhi kebutuhan Arum akan barang-barang branded. Tentunya supaya tidak kalah pamor dengan istri-istri relasinya.

Sejak mengendarai mobil baru Mitsubishi Xpander, penampilan Arum semakin membikin ngiler teman-teman sosialitanya. Ajang aktualisasi diri semakin intens di medsos di setiap gerak dan langkah kesehariaan, tak ada yang terlewati. Namanya semakin dikenal bak selebriti. Ibuibu di perumahan menjuluki si sosialita kampung sembari cekikikan dibelakangnya. Mendapat julukan seperti itu Arum sama sekali tidak marah, justru sebaliknya rona kebahagiaan memancar dan bersuka-cita. Arum semakin sering mengumbar senyum dan tawa tanpa melihat tempat dan waktu takkala perlahan usaha suaminya semakin menurun, akhirnya semua barang-barang berharga dan mobilnya dilego.

Sumenep, Juni 2019

Diangkat dari buku: Kitab Pentigraf "Tikaman Penuh Senyum" Penulis Lilik Rosida Irmawati, Penerbit Rumah Literasi Sumenep 2019
 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7180133244752794039

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item