Pendidikan Selamanya: Sebelum dan Sesudah Hidup


 M Faizi

Saya pernah mendengar slogan “long life education” (pendidikan seumur hidup) atau “lifelong learning” (belajar sepanjang hayat). Dalam pemahaman saya sebagai muslim, kedua istilah tersebut merupakan ejawantah hadis yang (terjemahannya) berbunyi “mencari ilmu itu wajib bagi muslimin dan muslimah” atau “carilah ilmu sejak dari ayunan hingga liang lahad”. Intinya, baik pendidikan maupun belajar, harus dilaksanakan seumur hidup karena penjenjangan dalam pendidikan itu (dari SD sampai S3) hanyalah kelakuan manusia untuk memudahkan pengurusan ijazah dan ke kotak mana kita akan dijebloskan.

Jika di dalam transportasi ada Antar-Kota Antarprovinsi (AKAP), maka dalam lektur-lektur dan khazanah kewalian dan kisah-kisah ulama, terdapat istilah Belajar-Mengajar Antardimensi (BMAD). Pernah mendengar kisah Syaikh Yasin bin Isa Al-Padangi mengonfirmasi perihal kesahihan suatu hadits langsung kepada Kanjeng Nabi, bukan? Ya, kira-kira sejenis itulah metode pembelajarannya. Banyak cerita tersiar perihal “ngaji kepada orang tua atau kiai di dalam mimpi” atau “diajari oleh kiai/sesepuh yang sudah mati”. Dalam metode seperti ini, sejak masih berupa janin pun, bahkan bayi yang dikandung sudah dipersiapkan untuk menerima pelajaran berbagai macam ilmu, tentu saja melalui perantara orang tuanya, khususnya sang ibu, seperti dengan membaca shalawat, mengaji Alquran, didoakan, diperdengarkan hal-hal yang baik dan indah, dan seterusnya.

Nah, yang berikut ini ada sebuah kisah yang baru saja terjadi…

Malam Kamis, 25 Agustus yang lalu, 16 hari sejak kewafatan istri saya, Nyai Makkiyah, melalui sambungan telepon, Pak Thayyib menghubungi saya.

“Ada titipan dari Nyai Makkiyah untuk Panjenengan.”

“Oh, iya, Pak Thayyib? Apa itu?”

“Ning Ayok dan Lora Ahid agar diurus .”

Oh, iya, Pak. Terima kasih. Oh, iya. Kapan beliau yang ‘datang’?”

“Dua hari yang lalu, dalam mimpi saya,” balas Pak Thayyib.

Iya, Pak. Terima kasih.”

Pak Thayyib termasuk orang yang membantu kami di kala Nyai Makkiyah sakit. Beliau datang hampir tiap hari untuk mengaji, membacakan Alquran. Biasanya, kalau mengaji, duduknya di ruang tengah rumah sehingga beliau ini sangat paham sama anak-anak kami karena mereka sering berseliweran. Tapi, rupanya, ada sesuatu yang mengganjal di hati Pak Thayyib. Beliau tidak mentutup telepon, melainkan kembali bertanya.

“Terus, Lora Salim dan Lora Sohib kok tidak ditanyakan, ya? Kok cuman Ning Ayok dan Lora Ahid?”

Saya jelaskan kepada Pak Thayyib, bahwa Salim dan Sohib selalu ada di rumah, Ayok di pondok, sedangkan Ahid justru sering main dan tinggal dalam waktu lama di rumah pengasuhnya, di Pragaan, bahkan jauh hari sebelum umminya sakit. Saat wafat, barulah si bungsu kami ini mau pulang ke rumah, itu pun tanpa bermalam.

“Mungkin karena masih kecil dan berada jauh dari saudara-saudaranya itulah yang dikhawatirkan oleh umminya,” kata saya kepada Pak Thayyib, memberikan dugaan.

Saya sudah diingatkan oleh ibu, bibi, dan famili yang lain, agar Ahid diajak pulang saja. Tapi, sampai saat ini saya kewalahan, Ahid selalu menolak, bahkan pernah bilang “Nanti Acid pulang sendiri, tidak usah dijemput” kepada saya. Dalam hati saya gelisah, anak usia 4,5 tahun kok omongannya kayak anak remaja!

Di sisi lain, sudut pandang almarhumah Nyai Makkiyah sendiri memang rada berbeda dengan kebanyakan teman dan saudara sebayanya. Katanya, suatu saat, kepada saya: “Yang penting kita bertanggung jawab, Kak, tapi bukan berarti kita harus jagain anak terus-menerus, tidak harus selalu memandikannya, tidak harus selalu mempupurinya, mengikutinya terus-menerus ke manapun dia pergi.”

Saya paham, jawaban ini sebetulnya merupakan respon terhadap komentar rekan-rekan sebayanya ketika beliau digojlokin “ta’ eddhep” (tidak perhatian; cuek) terhadap anaknya. Kami memang sering diledek “sok bergaya anak muda, suka pergi berdua tanpa bawa anak”. Tentu saja, karena kami sudah sepaket, maka respon kami hanya ha-ha-hi-hi saja sama mereka.

Lagi-lagi, ini masih menurut pendapat Nyai Makkiyah:

“Toh sama saja, kan, dengan ketika kita menyekolahkan anak? Aslinya, yang wajib ngajari anak itu ya bapak-ibu anaknya, bukan bapak guru dan ibu gurunya. Cuman, karena orang tuanya tidak sanggup melakukan itu karena mereka harus bekerja dan menyelesaikan tugas yang lain, maka pendidikan anak dipasrahkan ke sekolah atau ke pondok. Dengan begitu, orang tua telah dianggap bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya meskipun tidak mengajarinya secara langsung.”

Saya sih sok iyes saja. Oke, deh. “Kita tidak perlu bertengkar soal tanggung jawab ini,” jawab saya sok dewasa. Yang penting kita pegang prinsipnya dan harus siap menerima risiko terhadap keteguhan tekad dalam memegang prinsip itu.

***

Nah, kabar pesan lewat mimpi dari Pak Thayyib itu saya teruskan kepada Pak Yasin, orang tua dari pada inang pengasuh anak kami yang bungsu itu. Eh, kok ternyata klop, nyambung. Pak Yasin malah curhat tentang kejadian yang berhubungan dengan mimpi Pak Thayyib, pada hari dan tanggal yang insya Allah berurutan.

Menurut Pak Yasin, Senin siang, 23 Agustus, Ahid tiba-tiba pergi ke mushalla. Melihat gelagat yang aneh itu—karena biasanya Ahid berangkat bersama Rifki, cucunya yang pertama—Pak Yasin pun bertanya karena penasaran.

“Mau ke mana, Lora?”

“Mau ke masjid.”

“Loh, kok tidak bareng Kak Rifki?”

“Iya, Acid disuruh shalat sama ummi.”

Tentu saja Pak Yasin kaget karena Nyai sudah wafat 13 hari yang lalu. Pak Yasin lalu mencoba bertanya lagi.

“Memang ummi ada di mana?”

“Barusan di sini, bicara sama Acid.”

“Apa katanya?”

“’Cii...id, solat, ya, Ciiiid! Sana ke masjid!’ Begitu katanya…”

Mendengar cerita itu, saya tertawa. Pak Yasin ikut tertawa. Tapi, tanpa terasa, ada genangan pada kornea. Saya menitikkan air mata sembari menundukkan kepala supaya Pak Yasin tidak tahu dan tidak melihat perubahan air muka, tidak tahu bahwa sebetulnya saya ingin berkata-kata:

“Nyai, terima kasihku untukmu sejumlah detik sejak kita pertama kali bertemu hingga kelak kita kembali bersatu. Nyai, telah engkau bayar tunai janjimu untukku dan anak-anakmu dengan cinta dan perhatian yang tak sekadar: cinta yang bukan sembarang cinta, bukan cinta yang mekar hanya karena kita tinggal serumah, melainkan cinta tanpa batas, bahkan hingga sekarang saat kita telah terpisah.”

Sumber: akun FB M. Faizi


POSTING PILIHAN

Related

Utama 8389135773224804839

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item