Nonton Bioskop Gratis

 


Rusdi Zaki

Saya sejak kecil punya hobi nonton bioskop. Bagaimana tidak? Dalam radius 1 km dari rumah orangtua saya ada sekitar 10 gedung bioskop. Dari arah utara ada bioskop Bima, Jaya, Kusuma, King, Queen, Kranggan, Wijaya, Garuda, Gita Tamtama, Irama, Arjuna, dan Presiden. Wabilkhusus saya paling suka nonton bioskop gratisan. “Kok nyimut,” kata arek Surabaya. Ya, iyalah.

Selain faktor ekonomi—masak nonton gambar hidup saja harus bayar—hobi nonton gratisan juga iseng bettualang tipis-tipis. Bahkan sampai kini. Kecuali kalau nonton bersama keluarga. Untungnya, anak –istri saya tidak suka nonton bioskop. Jadi, hobi nonton gratisan pun perlahan berhenti dengan sendirinya. Kalau ada yang kasih free pass, lain perkara. Itu pun sangat amat jarang sekali.

Bagaimana kiat nonton gratis? Marilah kita praktikkan sejenak.

Waktu gambar gedung bioskop Jaya—di bawah ini—muncul di grup WhatsApp banyak orang langsung nostalgia. Mendaurulang kisah bioskop sebelum digusur televisi, lantas dipersekusi media sosial. Tentu saja bukan hanya bioskop Jaya yang jadi topik. Merembet ke gedung bioskop lain di Surabaya. Mulai bioskop jalur A di tengah kota hingga bioskop jalur C/D di pinggiran. Sayang ndak ada komentar tentang bioskop misbar—gerimis bubar—alias layar tancap.

Saya punya kesan tersendiri dengan bioskop Jaya sebagai kawah candradimuka nonton gratis. Bioskop ini berada di perliman Jalan Pahlawan, Tembaan, Pasar Besar, Kramat Gantung, dan Pasar Besar Wetan. Gedungnya menghadap timur berseberangan dengan bioskop Bima. Bersebelahan dengan Tugu Pahlawan di utara. Di sisi barat ada gedung bioskop lagi yaitu Kusuma. Kini bioskop Jaya dan Kusuma tinggal nama. Sudah rata dengan tanah tergusur pelebaran jalan.

Pembagian jalur bioskop bukan karena untuk kenyamanan nonton film. Belum ada air condition, yang ada beberapa kipas angin besar menggantung di plafon, belum ada layar lebar untuk film 70 mm, juga tidak ada tata suara surround, atau kursi lipat empuk. Penonton hanya disediakan kursi kayu atau rotan, alih-alih bangku panjang diberi nomor urut sesuai karcis. Di beberapa bioskop jalur B ke bawah ada bonus duduk gelisah karena diserbu kutu busuk yang sembunyi di sela bangku. Menyaksikan film sambil menggaruk dan mengangkat pantat karena gatal. Sampai rumah pantat bintul-bintul.

Bioskop Jaya termasuk jalur A. Kalau ada film baru, jalur ini memutar duluan. Kusuma termasuk jalur B. Setelah sepekan-dua film diputar jalur A turun ke jalur B, dan seterusnya, sampai jalur misbar di desa atau pinggiran kota. Meskipun bertetangga, tidak selalu film yang diputar Jaya turun ke Kusuma. Setiap bioskop punya kategori film sendiri. Ada yang selalu memutar film bikinan Holywood (dan negara Eropa-Amerika), ada yang khusus memutar film buatan India, atau juga yang sepanjang zaman memutar film Cina. Sedangkan film Indonesia wajib putar di semua jalur, meskipun hanya sehari-dua naik layar.

Beberapa bioskop jalur A dulu pernah mengadakan pertunjukan ekstra pada hari Rabu siang. Usai jam kantor. Waktu itu orang kerja mulai pukul 07.00 sampai 13.00 enam hari dalam sepekan. Penonton pertunjukan siang hari adalah tentara, kebanyakan Angkatan Laut (AL) dengan KKO-nya (Korps Komando Operasional sekarang Marinir). Mungkin karena Surabaya base camp AL. Bagi saya tak penting siapa yang menonton. Yang penting kami—anak-anak kampung seusia sekolah dasar—dapat menonton dengan pura-pura jadi anak tentara. Istilah kerennya: nyerobot!

Saat pertunjukan siang penonton datang berbondong-bondong diangkut beberapa truk AL dari pangkalan Ujung. Mereka di-drop di bioskop yang memutar film siang hari. Kalau tak salah ingat, bioskop-bioskop tersebut adalah Jaya, Wijaya (seberang Pasar Blauran), Ria (Jl. Kaliasin, sekarang Jl. BasukiRahmat), dan Arjuna (Embong Malang). Para penonton tidak perlu antre karcis. Mereka langsung masuk gedung. Karcis mereka adalah seragam yang dipakai. Kalau ada penonton tidak pakai seragam tentara, baru dicegat porter. Setelah masuk penonton langsung mencari kursi yang disukai.

Film yang diputar sama dengan film yang diputar untuk umum pada hari tersebut. Bukan film penyuluhan produksi Departemen Penerangan atau PFN (seingat saya dulu singkatan Perusahaan Film Negara—kemudian jadi BUMN bernama Perum Produksi Film Negara/PPFN). Pada saat diputar film untuk kategori semua umur, ada tentara yang membawa anaknya. Mumpung gratis. Bagi kami menonton siang hari tidak dibatasi umur. Dulu memang diberlakukan batasan umur penonton. Selain film semua umur, ada untuk remaja atau 13 tahun ke atas, dan 17 tahun ke atas untuk dewasa. Saya pernah ditolak menonton film 13 tahun ke atas karena pakai celana pendek.

Pada pertunjukan ekstra itu, kami memanfaatkan para “orangtua” yang tidak membawa anak. Begitu tentara-tentara turun dari truk, kami langsung nyamperi sambil merengek. “Lik, melu, lik! (Oom ikut, oom!)” kata kami berulang-ulang dengan suara dimelas-melaskan seperti anak tidak pernah menonton bioskop.

Bisa jadi yang kami sambati pernah juga nyerobot, karena pasti ada saja yang langsung menggandeng kami masuk bioskop. Tentu saja sambil menyelidik. “Omahmu ndi, kok saben Rebo nontok? (Rumahmu di mana kok setiap hari Rabu nonton?).” Di dalam gedung kami berpisah mencari kursi sendiri-sendiri. Biasanya gerombolan kami memilih duduk di deretan paling depan. Kalau kebetulan diputar film koboi pasti kena tembak duluan. Para tentara kebanyakan memilih duduk di balkon—lantai dua—atau deretan belakang. Mungkin lebih aman. Kalau ada adegan adu mulut di layar mereka tidak kecipratan ludah bintang filmnya.

Toh, di dalam gedung tetap tidak aman. Biasanya harus kucing-kucingan dengan petugas bioskop. Mereka hapal dengan para penyerobot. Jika kepergok, tanpa ampun kami diusir keluar. Pekan depan kami ulangi lagi ritual nonton gratis itu.

Kisah nonton gratis yang lain di bioskop Kranggan, tetangga bioskop Wijaya. Kedua bioskop ini kini dilebur menjadi pertokoan serba ada bernama BG Junction. Bioskop Kranggan spesialis film India. Penontonnya mayoritas rakyat pulau jiran Madura yang berjualan di Pasar Blauran dan kaki lima Jl. Kranggan. Modus menyerobotnya pun berbeda. Tidak nunut tentara yang murni gratis, karena bioskop ini tidak mengadakan pertunjukan ekstra untuk aparat. Maka, nonton di Kranggan tidak benar-benar gratis, harus punya modal barang serupiah-dua rupiah. Kami patungan dulu, dan duit patungan itu kami pertaruhkan agar “beranak-pinak” cukup untuk beli dua-tiga lembar karcis.

Pertaruhan yang dimaksud benar-benar pertaruhan profesional. Berjudi—kelas kaki lima. Kami menyebut “kolas endog”. Lapak judi ini menempel di dekat gerbang bioskop. Berderetan dengan pedagang rokok, warung kopi, penjual obat kuat, parkir becak, dan sejenisnya. Selain anak-anak, kolas endog juga diminati tukang becak, pedagang asongan, gelandangan atau pengemis yang punya sedikit duit untuk dikembang biakkan. Namanya kolas endog tapi tanpa hadiah endog alias telor. Kami bertaruh pakai uamg dan berhadiah uang. Nilainya sesuai gambar yang ditebak. Ada yang berhadiah sama dengan nilai nominal tombokan, sampai paling banyak 30 kali nilai tombokan. 

Gambarnya berlian. Kalau duit kita taruh di gambar berlian, beruntung, dapat menang dua-tiga kali berturut-turut cukup untuk beli karcis kelas tiga. Apa bisa? Namanya judi, apa kata takdir. Toh, kami sering menang. Dengan kemenangan tersebut lantas kami segera meninggalkan arena kolas karena film segera diputar dan pintu gerbang ditutup. Combe—pembantu—pedagang kolas biasanya menghalangi kami dan membujuk agar terus bermain. Dengan tubuh kecil kami menyelinap. Jika duit ludes di kolas, ya gak jadi nonton. Besok atau lusa diulangi. Selow aja, kata anak milenial. Yang penting kami nonton gratis dibayari bandar kolas endog.

Bioskop Kranggan punya keunikan. Di dalam kompleks bioskop banyak warung penjual makanan. Di tengah pertunjukan ada rehat. Petugas proyektor mengganti rol film atau menunggu film yang masih diputar bioskop lain. Dulu sebuah film diputar di beberapa bioskop. Apalagi kalau film box office. Padahal jumlah rol film seluloid saat itu hanya satu unit terdiri atas 3-4 segmen. Akibatnya, penonton harus sabar menunggu segmen film lanjutannya yang masih dalam perjalanan dari satu bioskop ke bioskop lain.

Saat rehat penonton keluar gedung. Mereka bisa mengudap di warung. Makanannya standar “cepat saji” ada gado-gado, nasi campur, pecel, bali, rawon—bakso dan mie ayam belum lahir. Minumnya es sirop, es degan, atau es dawet. Kalau kiriman film telat bisa ada rehat lagi. Saya pernah nonton film "Sakuntala" yang berdurasi 5-6 jam. Sehari dua kali show time. Pertunjukan pertama dimulai pukul 13.00. Penonton full house. Pertunjukan kedua selesai dini hari. Juga penuh. Para pedagang makanan panen, karena rehat sampai 4-5 kali setiap pertunjukan. Penonton pun pulang kekenyangan.

Ajang penjarahan nonton gratis lain adalah bioskop kembar King dan Queen di Jl. Alun-alun Contong. Mereka adalah salah-dua bioskop yang mulai menggunakan air condition (AC atau pendingin ruangan). Selain ini, pemain baru bioskop ber-AC adalah Surabaya Theater—di Jl. Pahlawan seberang gedung Bank Indonesia, Internasional Theatre—Jl. Pecindilan, dan Presiden Theater di Jl. Embong Malang. Ciri bioskop baru, di belakangnya dicantumkan kata “theater”.

Bioskop King dan Queen menempati satu gedung berlantai dua. Lantai atas King Theater. Lantai bawah Queen Theater. Kekhususan King dan Queen sejak launching hingga gulung tikar--karena kebakaran pada 1980an, konsisten memutar film Cina, khususnya produksi Shaw Brothers, Hongkong. Penontonnya pun kebanyakan orang Tionghoa.

Modus penyerobot di bioskop ini memanfaatkan kerumunan penonton di pintu masuk. Terutama pada pertunjukan Sabtu malam dan/atau Ahad pagi-sore. Penonton kerap crowded. Gak tertib. Tidak mau antre. Berebutan masuk. Di sela penonton yang “menyerbu” pintu masuk kami nyemplung di tengahnya. Jika beruntung kami terbawa arus masuk gedung. Jika terhambat porter kami pun terlempar keluar lagi.

Belakangan sejak saya kenal tokoh seniman Bambang Sujiyono (alm) nonton gratis di bioskop King atau Queen lebih nyaman. Beliau ternyata berkawan akrab dengan manager bioskop itu. BS—biasa kami panggil—juga suka nonton film. Apalagi film Hongkong. Beliau sampai tergila-gila pada aktris bernama Cheng Pei Pei. Seringkali kami malam-malam datang ke bioskop King-Queen dan cukup memberi tabik kepada porter untuk menonton. Kenyamanan tersebut justru menurunkan adrenalin saya. Tidak ada lagi ketegangan saat bersiasat bagaimana nonton gratis. Bahkan berkali-kali saya kepergok manager bioskop tersebut ketika melihat orang main jackpot di lobi dan ditawari nonton. “Masuk saja, Mas, King apa Queen?” katanya.

Saya pun berkilah karena sungkan, “Saya tadi mau ngopi di seberang, Koh!” Dia malah mengajak saya ke kantin bioskop. Biasanya setelah duduk dan memanggil pelayan kantin, dia memesan secangkir kopi, tentu saja untuk saya. Setelah basa-basi sejenak, dia pamit untuk ngurusi bioskopnya. Tidak lama kemudian pelayan tadi muncul, bukan cuma membawa kopi, tapi juga nasi goreng, es jus, dan rokok satu pak. Gratis!

Sesungguhnya kisah nonton gratis masih berlanjut. Itu tadi edisi kanak-kanak dan remaja. Belum lagi edisi dewasa yang lebih terstruktur dan sistemik. Bagi penyerobot dan penyuka nonton gratis mari berbagi. Mumpung zaman normal. Belum new normal—beneran. Dengan atau tanpa PSBB tetap stay at home—sampai bosok! Sekian dulu...

Sumber: akun FB Rusdi Zaki

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7098114908351426162

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item