Mencari Jalan Pulang


 Cerpen: Murni Tiyana 

Siang terik ini, ingatan  masa kecilku demikian kuat melayang kembali seperti waktu-waktu sebelumnya, melayang-layang bersama layang-layang yang menari-nari di udara. Waktu seolah mngunciku pada satu waktu dan menegurku untuk pulang.

Dalam  suasana seperti, aku begitu merindukan hamparan sawah dengan padi yang menguning, desau angin lirih berhembus antara suara burung pipit  berebut biji-biji bernas pagi antara orang-orangan sawah yang menari seiring terpaan angin. Dan saat itu pula terdengar teriakan suara ibu karena kekhawatirannya melihatku berlarian mengejar layang-layang yang tersangkut di pohon. Sungguh, aku ingin mengulang masa itu.

"Maafkan aku Bu. Aku tahu Ibu sedang menungguku, tapi aku harus menyiapkan hati lebih dulu, agar pertemuan kita nanti ada senyum kebanggaan untuk putra Ibu,” batinku dalam senyum.

Rindu ini setia menemaniku. Selalu ada di setiap bilik hati. Namun kali ini rinduku begitu riuh dan berisik.  Hal ini diawali dari sebaris pesan singkat ponselku semalam.

Aku kini berada di tanah lapang yang terhampar di sebelah timur rumahku. Pemandangan yang sempurna, langit cerah tak berawan, tampak barisan layang-layang menghias langit biru. Di bawah pohon randu, tempatku bersandar kini, dengan jelas aku bisa menyaksikan  beberapa anak sedang mengulur benang gelasan di tangan. Mata mereka menatap ke langit biru, menikmati layang-layang menari gemulai, mungkin mereka sedang melihat mimpi-mimpinya tanpa harus tahu maknanya.

"Angin kencang akan menghembuskan layang-layangmu semakin tinggi, jangan pernah kau lepas uluran benangmu. Jika kelak kau bertambah besar, akan besar pula tanggung jawab yang harus kau pikul untuk hidupmu. Ibarat benang gelasan, maka kamu sendirilah yang harus mengontrol arah hidupmu tanpa meninggalkan aturan agama dan Tuhanmu," suaru itu kembali mendayu dalam lubang telingaku.

Pesan Bapak kembali terngiang. Ketika kubukan kembali laci kenangan itu, terasa ada dorongan untuk menjelaskan seutuhnya siapa aku? Bagaimana jika dari kerangka layang-layang yang berbentuk tanda penjumlahan atau seperti salib, ditarik dengan benang di semua sisi-sisinya? Kerangka layangan sederhana yang biasa aku buat bersama bapak. Namun, layangan buatanku tak pernah jadi, lalu bapak membuatkanku sebuah layangan berwarna merah dengan ekor sangat panjang yang aku pajang di dinding kamar. Sambil berbaring di ranjang, aku suka memandang layangan itu berlama-lama sembari membayangkannya membumbung dan menukik di udara.

Ah

Aku memang tidak mahir bermain layang-layang. Jika tak putus disambar layangan teman, pasti  tersangkut kabel listrik atau di ranting pohon. Kemudian bapak membuatkanku galah panjang untuk mengejar layangan putus, tapi teriakan Ibu selalu membuat langkahku terhenti.

"Beli saja layangan baru, dari pada anak celaka," ujar ibu

 "Laki-laki itu kudu pinter berpetualang bu, biarkan saja dia belajar meraih apa yang menjadi keinginannya. Doakan saja buat keberhasilannya," timpal bapak meyakinkan.

Waktu itu aku tak pernah memahami perkataan orang tua. Diam-diam tanpa sepengetahuan ibu  aku sering mengejar layangan putus. Hingga musim layangan berganti dengan mainan kelereng, ketapel atau umbulan gambar.

Aku masih mengeja semua kenangan sambil menyusuri setiap jalan di ujung desa. Langkah ini membawaku pada tanah makam desa, tempat bapak bersemayam. Kehilangan bapak telah meninggalkan lubang yang menganga di hati.

Dahulu pulang sekolah aku selalu ke sini, tak peduli hujan atau panas. Aku berpikir menyambangi bapak bisa mengurangi beban rindu dan penyesalan, tapi itu justru semakin membuatku berkubang dengan rasa bersalah. Bapak begitu jauh berlari, berlalu tanpa jejak yang tak mampu aku ikuti, meninggalkan hatiku yang rapuh.

Tergugu aku menikmati setiap tetes yang menghangat di pipi, mencoba merasakan dekap erat tangan laki-laki pendiam itu. Mencoba meredam lara yang berkepanjangan menguasai hatiku. Dalam ratap pilu dan serak aku teriak.

"Bapak, mengapa engkau meninggalkanku?,". Pertanyaan inim kerap menggebu dalam diri

Sesuatu yang dahulu  selalu aku lakukan. Kemudian tampak ibu tergopoh menjemputku, memeluk, dan mengajakku pulang. Namun, apa yang aku lakukan? Aku menolak uluran kasih ibu, dan aku kembali melukai ibu.

Beberapa kuntum kamboja luruh, harumnya menyapa udara, seakan menceritakan perihal lalu, saat aku dalam dekap hangat bapak. Tubuhku benar-benar menggigil merasakan rindu yang memanggil-manggil.

"Aku datang. Ini putramu telah kembali Pak, untuk mewujudkan segala harapan yang Bapak letakkan di pundakku. Maafkan jika Bapak terlalu lama menunggu," rasa harus serasa menyeliputi tubuhku.

Langit jingga bersamaan matahari kian condong ke barat. Burung-burung beterbangan untuk pulang ke sarangnya. Kukemasi tas ransel yang tadi tergeletak di tanah. Sebentar lagi surup, aku memilih jalan setapak untuk mencapai rumah, jalanan di pinggir kali yang telah merenggut kaki kiriku dan muasal penyebab nyawa bapak melayang.

Sengaja aku melewati jalan ini dan benar saja, kepalaku kini menjelma seperti halaman buku yang terbuka dan menyuruhku untuk membacanya. Satu persatu kepingan itu terurai kembali.

Kala itu aku dan beberapa teman mengejar layangan. Namun naas, aku jatuh ke parit, tempat tetanggaku merendam bambu-bambu yang akan dipakai untuk  atap rumah. Beberapa ujung bambu yang runcing menancap dengan sempurna di pergelangan kaki kiriku. Aku berteriak dan menangis menahan kesakitan. Terlihat beberapa teman dan orang-orang menolongku, aku masih menyaksikan wajah panik dari bapak dan ibu.

Namun, setelah itu aku tak ingat apa-apa. Hingga segalanya berubah. Aku tak lagi bisa berlari dengan kedua kakiku. Berjalan pun harus dengan bantuan tongkat. Dan yang membuatku nyaris gila, tidak ada lagi laki-laki pendiam dengan sepasang mata teduhnya. Menurut cerita ibu, kami mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke rumah sakit dan merenggut nyawa bapak.

Hari-hari berikutnya adalah yang tersulit dalam kehidupanku, lalu simbah datang, membawaku pergi dengan meninggalkan segala  kesakitan dan juga ibu.

Di rumah nenek, aku bersembunyi dari segala perih, belajar membuat dan bermain layang-layang, meski aku harus merelakan layangan yang tersangkut karena kakiku tak lagi bisa berlari kencang untuk menangkapnya. Perlahan aku mengerti dan paham pada petuah bapak tentang layang-layang untuk tetap menjadi pengendali benang. Bahwa kebahagiaanku adalah tanggung jawabku sendiri tanpa menutup mata pada lingkungan sekitar dan patuh pada agama.

Kakiku terhenti, tepat di tempat kejadian enam tahun yang lalu. Sungai kecil ini sekarang terlihat bersih dan jernih. Aku mengambil tempat duduk di atas batu besar. Sebelum sampai di rumah, aku ingin mencuci kaki ini di kali. Agar ibu tidak tahu betapa jauh jarak yang kutempuh, sehingga ibu mengira aku baik-baik saja.

Lamunanku teralih, saat beberapa ikan kecil mematuk kakiku membuatku tersenyum geli. Pada mereka aku bertanya. "Kau menyuruhku pulang? Aku sudah di sini,"

Ikan-ikan itu tertawa menjawab pertanyaanku.

"Berdamai dengan diri sendiri itu tidak mudah, tapi kamu harus bisa membuatnya tidak susah, karena hanya dengan rela menerima segala lara maka kau akan tulus memaafkan,"

Senja kian turun dan  langit seperti kain yang luntur warnanya dan bentuk awan seperti kapas yang terburai. Aku bangkit dari duduk, meski musim kemarau, air kali tetap mengalir karena sungai ini yang menghubungkan pengairan sawah-sawah penduduk.

Beberapa langkah lagi semakin dekat dengan rumah ibu, aku tak ingin lagi ada duka di hati ibu. Kini pandanganku tertuju pada rumah sederhana dengan pagar bercat hijau. Bangunan tua yang terawat dengan baik. Semakin dekat aroma mawar dan wewangian kembang menawarkan kerinduan yang kian gemuruh. Halaman asri dengan pohon rambutan di tengah-tengah keladi dan aneka bunga. Dua sangkar burung perkutut di sisi barat teras rumah turut menyambutku.

"Ibu berusaha tidak mengubah apapun yang ada di rumah ini,"

Seperti kata Ibu, ketika aku telah sampai di beranda. Suara yang sering hadir dalam mimpi-mimpiku, wajah yang begitu aku rindukan, tangan restu yang selalu aku pinta, mata yang tak lelah memintaku untuk pulang dan sebuah senyum yang membuatku damai.

Ibu kini di hadapanku dengan senyum senja yang indah.

"Maafkan putramu Bu. Maafkan," ujarku seraya bersimpuh di hadapannya.

Ibu meraih tanganku, merengkuhku dalam pelukan.

"Ibu senang melihatmu, Mas. Hati ibu sangat bahagia."

Sejenak ibu terdiam, lalu perlahan melepas pelukannya. Ibu tersenyum ke arahku. Gurat kecantikannya telah tersamar dengan keriput, tapi kelembutan hatinya tak pernah surut. Ia berkata padaku.

"Ada juga yang sedang menanti kedatanganmu selain ibu."

Ibu mengajakku masuk ke ruang dalam seraya kupandangi ruang sekitar, tampak telah berubah warna cat dinding yang kini terasa harmonis.

"Lihatlah!," kata ibu

Kuedarkan pandang ke ruangan yang pintunya baru saja dibuka ibu. Ranjang, meja belajar, lemari, dan jam dinding, semuanya masih sama. Hanya satu yang berubah, layangan itu telah berbingkai pigura kaca. Layangan merah buatan bapak yang tak pernah aku terbangkan, karena aku takut kehilangan jika tersangkut. Kenangan indah yang tetap abadi dalam hatiku.

Mojosari, 130821

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5697918033895868045

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item