Ketika yang Ditunggu Telah Tiba

M. Faizi saat berziarah dan berdoa di pusara istrinya, Makkiyah

 .(Catatan 40 Hari Wafat Nyai Makkiyah)

M. Faizi

“Jika saya meninggal, kuburkan saya di ujung bujur kaki aba (mertua).”

“Iya, karena tepat di bawahnya, itu rencana tempat kuburanku, biar berdampingan denganmu.”

“Tahlilan cukup dengan santri dan famili saja, ya, Kak. Saya tidak ingin nanti bikin kerumunan karena sekarang masih pandemi.”

“Baiklah.”

“Kak, saya minta maaf benar, ya, Kaaak. Saya mohon ridhonya Kakak.”

“Iya, aku sudah maafkan bahkan sebelum kamu mengucapkannya!”

Semua yang dipintanya saya iyakan. Semua yang dikatakannya saya tanggapi, semuanya. Perasaan saya sudah benar-benar tak enak. Rasanya, waktu yang dinantikan itu sudah dekat sekali, begitu firasat saya di dalam hati. Meskipun tatanan hati saya berasa kocar-kacir saat mendengar wasiat-wasiatnya yang tidak lagi menggunakan bahasa kiasan, tapi langsung tanpa tedeng aling-aling, saya berusaha tegar, tetap mengiyakan semua kata-katanya.

Persis satu bulan sebelum wafat, sejak 10 Juli 2021, Nyai Makkiyah telah memberikan tanda-tanda itu, menggunakan bahasa-bahasa kiasan dalam memperkirakan ajalnya. Misalnya, dia mengatakan bahwa: “baju saya sudah jadi, Kak, berwarna putih. Sekarang masih ada di Surga, sudah hampir selesai dijahit”. Lalu, tak lama setelah itu, baju-bajunya dikasihkan kepada orang-orang tertentu. Di antaranya para guru. Beberapa hari sesudahnya, beliau meminta saya menutup akun Facebooknya. Masih ada beberapa kejadian lain yang mengarah ke sana.

Akan tetapi, tiga hari sebelum wafat, bahasa kiasan sudah tidak digunakan lagi. Ia katakan semua pesan dan wasiatnya dengan jelas sekali.

Pagi itu, beliau menjulurkan tangan dan saya menyambutnya.

“Sekali lagi, saya mohon ridho Kakak. Maafkan saya, ikhlaskan saya.”

Dia menarik punggung tangan kanan saya, menciuminya lama sekali.

“Maafkan saya, ya, Kak.”

“Iya, sudah kumaafkan bahkan sebelum aku ke sini,”

Hampir tengah malam, tanggal 1 Muharram, dia memanggil-manggil ibunya.

“Nyai... nyai... saya mau pulang, Nyai...”

“Kiirimi Al-Fatihah saja ummimu...” kata saya.

“Bu’ Luuum...Bu’ Luuum...”

“Bi Azizah, Bi Azizah...”

“Adiik, adik....”

Semuanya dipanggilnya, mulai dari ibu, bibi, hingga adik-adiknya, juga sepupu-sepupunya.

Besok paginya, hari Selasa, 1 Muharram atau 10 Agustus 2021, dia memanggil saya agar mendekat. Lalu, seperti kemarin, dia kembali minta maaf.

“Kak, saya minta maaf, mohon ridho Kakak.”

“Iya, aku maafkan dan aku ridho.”

“Saya mau pulang, Kak..”

“Lah, ini kan rumahmu?”

“Bukan, Kak. Ini bukan rumah saya.”

“Oh, kamu mau pulang ke Pamekasan, tah?”

“Ndak, Kak. Itu juga bukan rumah saya. Saya mau pulang...”

Sebetulnya, saya paham apa maksud semua itu. Saya hanya menghibur diri dengan tetap menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Hati saya berdebar. Sepertinya, waktu yang ditunggu-tunggu itu benar-benar tidak lama lagi akan datang.

“Tolong antarkan saya ke rumah Bibi Sum.”

“Yung, begini saja. Karena kondisimu sangat lemah, biar Bi Sum saja yang ke sini. Aku mau menjemputnya ke kediamannya.”

“Saya tidak ingin disambangi. Saya mau sowan, mau nyabis. Jadi, antar saya pergi ke sana.”

Akhirnya, demi memenuhi keinginannya, tetapi di satu sisi saya kasihan pada kondisi tubuhnya, saya melakukan rembukan kecil dengan para pendamping dan keluarga. Diputuskan: kami mengantarkan beliau ke Larangan, Pamekasan, ke rumah bibinya. Saya meminajm ambulans milik pesantren.

Selama perjalanan 19 kilometer itu, dia sama sekali tidak mengeluh, berbeda dengan malam sebelumnya saat minta antar saya ke Rubaru yang akhirnya putar balik di Gaddu karena dia merasa kesakitan. Benar, tiba di Pamekasan, dia menjumpai bibinya, bersalaman, dan minta maaf, dan langsung minta pulang. Tentu saja, saya tidak langsung mengiyakan, tapi menunggu agak lama, sekitar 3 jam berselang. Maksud saya adalah agar tubuhnya tidak terlalu capek.

Sehabis duhur, kami pulang dan sejak tiba di rumah, beliau sama sekali tidak berbicara lagi. Pandangan matanya berpindah-pindah, ke kanan dan ke kiri, melihat dan memperhatikan siapa pun yang ada di dekatnya. Orang-orang sudah berkumpul mengelilinginya. Ada yang mengaji, ada yang membaca Burdah, ada pula yang membaca kalimat-kalimat thayyibah.

Pukul 21.00, beliau menatap saya dengan tatapan kosong. Saya menggelitiknya. Ternyata, dia merespon, malah mencubit lengan saya, cubitan yang keras sampai-sampai saya merintih setengah tertawa. Sungguh, ini kelakar yang tidak biasa, kelakar di tengah ketegangan menyambut ajal. Disimpulkan: ‘orang ini ternyata sadar. Hanya saja dia tidak mau bicara,’ kata saya dalam hati. Soalnya, ketika diajak bicara dia diam, tapi ketika saya gelitik, dia balas mencubit.

Pukul 21.45, saya mendekat, persis di sisi kepalanya. Lalu saya bacakan “Hasbiyallah” tiga kali, “Syahadat” tiga kali, dan setelah itu, saya berkata dengan nada rada tinggi.

“Ya Allah, saya kasihan sekali melihat sakit adinda ini. Saya benar-benar ridho jika Engkau hendak mencabut nyawanya. Namun, jika masih ada kesempatan untuk sembuh, maka saya akan menunggu waktu itu sampai kapan pun dan berapa pun lamanya. Akan tetapi, jika Engkau menghendakinya sekarang, maka saya ridho dan pasrah menerima.”

Sontak, nafasnya berubah, semakin pelan, semakin jarang. Maka, pada saat itu pula saya bisikkan lafad “Allah” pada telinganya, dibarengkan dengan setiap keluarnya nafas dari hidungnya.

“Allaaah...”

“Allaaah...”

“Allaaah....”

Alhamdulillah, beliau menirukannya. Hal itu tampak pada gerakan bibirnya yang kering. Tegang tak terhingga hati ini menyaksikan orang yang sedang menunggu ajal, tapi juga bahagia karena menyaksikannya mampu menirukan panduan Lafdul Jalalah yang saya ucapkan.

Kira-kira 10 menit kemudian, kisah panjang perjuangannya telah tiba pada titik penghabisan. Matanya terpejam, nafas berhenti, dan tidak ada lagi denyut nadi. Kala itu pula jantung saya seakan terhenti sesaat ketika saya tatap wajahnya: masih sama seperti dulu manakala saya melihatnya untuk yang pertama kali, tatapan pertama untuk cinta pertama: beliau meninggal dalam keadaan cantik sekali.

***

Ditulis dalam rangka memperingati 40 Hari Almarhumah Nyai Makkiyah binti Ashim, Jumat, 17 Septermber 2021

POSTING PILIHAN

Related

Utama 495211074951171199

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item