Ketika Mimpi Pun Tak Bisa Kita Pilih


Cerpen:  Nur Hidayah Selviyanti

Mataku kabur, serangkaian cerita seperti telah menghilangkan kesadaran. Menepi di tengah kenyataan, mengambang di dunia hayalan. Rasanya baru kali ini aku terengah-engah melihat kehidupan, merangkai kenyataan yang tidak seharusnya aku fikirkan.

 " Assalamu'alaikum, ada Masyira kak??? " Tanya seseorang dari luar. Kak Ega menyahutinya sepertinya ada hal penting.

" Ada, silahkan masuk. "

" Ada dimana? " Katanya lagi, sayup-sayup ku dengar nada suaranya.

" Di ruang istirahat. " Tak ada jawaban, mungkin dia datang untuk menemuiku.

" Hai ra, " Sapanya. Ternyata Afifah, teman sebangku. Dengan wajah sumringahnya dia datang. Tapi aku malah agak meringis karna ini tidak biasa.

" Hai juga fa, ada apa? Tumben kesini?. Memangnya tidak ada pekerjaan di kantor mu? "

" Ada, aku hanya sebentar. Pengen ketemu kamu dan ada perlu juga sama Nanda.

" Ada apa? " Tanyaku lagi. Karena dia seperti ragu untuk mengatakan nya.

" Tapi jangan marah ya? "

" Iya, kenapa? "

"Selamat ulang tahun ra. Nih, buat kamu. " Kata Afifah, namun langsung pergi. Dia menyodorkan sebuah kotak kecil kepada ku. Aku ingat kembali tanggal lahir ku, hari ini tanggal 06 September. Iya benar aku tidak salah melihat kalender di HPku? Atau HPku yang Error. Nah, ku rasa tidak mungkin. Ini baru aku ganti. Lah masak iya langsung error.

Kalau Afifah bilang hari ini adalah hari ulang tahunku, aku pikir tidak. Karena aku lahir tanggal 12 Desember 2002. Masih lama. Tapi kenapa?. Kulirik sebentar, ada note kecil di sisi kiri nya. Kecil tapi aku bisa melihat nya. " Semoga suka" Itu tulisan nya. Tidak mungkin ini dari Afifah. Dia kan cuek kepada yang beginian, mana mungkin bisa seromantis ini.  Bukan nya senang aku malah curiga.

" Ada apa? " Tiba-tiba Nanda menanyaiku, aku kaget karena dia datang tanpa sepengetahuanku.

" Entahlah, Afifah bilang selamat Ulang tahun sama aku Nan, tapi hari ini bukan ulang tahunku. "

" Eh iya. Itu dari kak Damar, Teman sekantor nya Afifah. Katanya dia suka  Kamu. Tapi takut yang mau bilang ra, abis kamu cuek. " Jelas Nanda, mungkin Afifah yang tadi cerita.

Damar?  Siapa sih dia? Aku juga tidak begitu tahu. Kenapa bisa tau aku?, kapan ketemu aku dong?. Mimpi apa aku semalam akan mendapatkan kejadian seperti ini. Oh Allah, ini bukan impian cinta ku, di kasih hadiah lalu diminta jadi kekasih nya. Apa iya?

"Nggak usah ngacok deh ah! Ini jaman apa kali masih main ginian. Laki-laki macam apa yang jatuh cinta  tapi nggak tau orang nya. Dan anehnya malah nyuruh orang bukannya ngasih langsung. Ah, nggak jentel ini Nan. " Kata ku berapi-api. Padahal jengkel karena dia seenaknya kepada ku.

" Ya makanya dia nggak mau ngasih sendiri. Karena pasti kamu akan ngomel-ngomel nggak jelas kayak gini nih ujung-ujungnya. "

" Kita umur berapa sih?? "  Tanyaku tanpa sadar.

" Oh my good! Kali ini kamu bener bener nggak waras deh ra. Ayo kita pulang. Udah siang. " Ajak Nanda menarik tangan ku.

" Males ah, disini aja Nan. Buru- buru amat. Ada apa sih di Asrama??"

" Ya nggak ada apa-apa ra. Emang salah kali ya aku ngajak pulang kamu kalau waktu nya udah pas" Dia menjawab sambil mendelik kan mata nya karena kesal. Aku langsung berdiri sebelum dia  bereaksi. Kita memang harus pulang untuk istirahat.

Sesampainya di kamar aku terkejut tiada tara.  Ibu ku, bude astri dan seorang perempuan lain juga ada disana, kira-kira seumuran  budeku menatap kedatanganku. Aku menyalami dari setiap mereka dengan rasa heran.

" Duduk dulu nak." Kata ibu, aku mengangguk membiarkan Nanda pergi setelah menyalami mereka satu persatu.

" Kenapa bu? "

" Ini kenal kan nak, ibu Nimas?” Aku hanya mengangguk menatap wajah ibu yang menegang. Ada apa sih ini. Jangan buat aku seperti ini.  Bingung! Mungkin kalimat itu yang ada di otak ku. Berkeliaran manja tanpa aku minta.

" Masyira indah Nur Aminah"

" Wah, cantiknya.... , kenalkan nak. Saya Nimas Ibu nya Bintang Damara syahputra. Panggil saja dia Damar. Anak ibu, yang hari ini resmi  menjadi tunangan kamu. " Ini bukan hanya bikin aku kaget, dimana sudah jantung ku mendengar kabar ini. Apa yang bisa aku pikir kan saat ini.

" Dia melamarku. Laki laki yang mengirim kan hadiah tadi. Kenapa cepat sekali?, kenapa tidak menunggu jawabanku terlebih dahulu. Keputusan macam ini. Aku ingin dia datang setelah  aku mengenalnya lebih dekat, bukan malah seenaknya begini terhadap ku. Lalu apa yang bisa ku lakukan kalau keluarga ku sudah bertindak.  Aku berbicara sendiri dalam hati. Kesal, dan shock.

" Pernikahannya akan di laksanakan 3 bulan lagi nak. " Lanjut ibuku. Apa-apaan ini. Ini sudah diluar dugaan ku. Aku menangis sejadi-jadinya, biarpun  di depan semua orang. Rasanya ingin ku keluarkan isi air mata ku sebelum aku benar-benar gila.

"Ra, bangun ra. Masyira... bangun!!! " Suara remang remang milik Nanda mengganggu ku. Ada apa? Kq malah bilang bangun, seharus nya dia kan bilang berhenti nangis ya. " Masyira..... Bangun dong.. Ini sudah jam setengah tujuh. Nanti kita terlambat loh!" Cecar nya kembali.

Astaghfirullah.... Ternyata ini hanya mimpi. Ini mimpi yang bikin aku gila. Kata ku dalam hati, ku hapus air mata ku tapi tak ada. Ku lihat sekeliling ku, tak ada ibu, bude atau siapa lah itu yang mengaku ibu nya mas Damar. Berarti benar, ini hanya mimpi.

" Aku nggak dapat hadiah Nan? " Ku tanya sekali lagi untuk meyakinkan.

" Hadiah apa Ra, boro-boro kamu dapat hadiah. Kamu kan tidur, dapat dari siapa cobak? " Tanya Nanda keheranan.

"Hadiah dari Mas Damar, kamu juga yang bilang. Gimana sih masak kamu lupa?"

"Ih , nggak usah ngaco ya ra. Masih pagi juga, Kita udah telat kali. Tumben-tumbenan kamu nih kayak gini. Cepet bangun dan mandi. Aku bilangin ke pengurus Asrama kalau kamu izin lambat. Dan ingat, besok besok jangan tidur setelah subuh lagi. Biar nggak ngacok ngomong nya" Katanya berangsur pergi.

Astaghfirullah.. Aku lupa kalau tadi setelah subuh tidur lagi, mungkin saking capek nya aku lupa baca Basmalah. Apa ini yang disebut mimpi nya syaitan???.biasanya kan langsung persiapan atau nggak belajar dulu untuk materi hari ini. Ini nih pasti gara gara tidur nya kemaleman ngerjain tugas dari ibu Anisah. Tugas persiapan Olimpiade  se kabupaten itu.

Kring,....... Kring.... Kring........

Yap itu suara bel semua santri harus berangkat ke sekolah, untung saja ada Nanda. Kalau tidak, matilah aku nanti.

Lagian.... Kenapa juga mimpi nya jadi jalan kemana-kemana. Coba aja  mimpinya  aku dapat juara Olimpiade fisika se kabupaten. Pasti seneng nya MasyaAllah, meskipun cuma mimpi aja.

Seandainya takdir bisa kita pilih, meskipun hidup memang harus lah memilih. Bahkan Mimpi pun tak bisa kita tentukan sendiri. Apa yang bisa kita banggakan dari ketidakmampuan sebagai manusia. Jangan berhenti mengejar pilihan baik yang akan membuat kita bahagia.

Nur Hidayah Selviyanti, Mahasiswi Program Reguler Semester V Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

POSTING PILIHAN

Related

Utama 3570545326546532819

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item