Eksistensi dan Esensi Literasi Digital Sebagai Dobrakan Mahasantri Millenial

Mahasiswa IDIA saat pembelajaran sastra bersama

Oleh: Alfiansyah

Urgensi literasi sudah mulai menjadi hal yang kontroversial di Indonesia setelah dipublikasikanya data  literasi oleh UNESCO (United Nations of Educational) indeks minat baca di Indonesia hanya mencapai 0,001%. Artinya, pada setiap seribu orang, hanya ada satu orang yang memiliki minat untuk membaca dan menulis. Masyarakat di Indonesia rata-ratanya membaca hanya satu buku per tahun. Kondisi ini sangatlah miris dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN yang lain,  Indonesia hanya membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Angka tersebut berbanding terbalik saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca sepuluh sampai dua puluh buku per tahun. kemudian, warga Jepang membaca sepuluh sampai dengan lima belas buku per tahun tingkat literasi kita juga hanya berada pada peringkat 64 dari 65 negara yang disurvei.

Indonesia sendiri melihat fenomena ini sebagai tantangan  bagi setiap lembaga pendidikan di Indonesia terlebih perguruan tinggi agar dapat mengerakan semangat literasi yang dimulai oleh mahasiswa terlebih dahulu. mahasiswa dianggap mampu memplopori gerakan literasi di indonesia namun faktanya yang sangat miris adalah tingkat membaca pelajar Indonesia hanya menempati urutan 57 dari 65 negara. Kondisi ini tidak pernah menjadi pembahasan penting didalam tataran pandangan kacamata politik dan ekonomi sehingga menjadi kegelisahan tersendiri bagi lembaga pendidikan, yang melihat tingkat kecerdasan masyarakat melalui semangat berliterasi.

Pada dasarnya mahasiswa merupakan plopor pergerakan suatu bangsa dari segala bidang, baik pada sektor ekonomi, budaya, agama bahkan pendidikan sehingga menunjang kapabalitas keilmuan serta keterampilan mahasiswa adalah tugas dari Negara itu sendiri, setiap Negara kini telah mempersiapkan solusi untuk tantangantantangan baru khususnya terhadap mahasiswa yang berada ditengah-tengah kemajuan teknologi dan budaya liberalisme yang dapat mengganggu perkembangan psikomontorik dan sikologi bagi mahasiswa. Saat ini mahasiswa dianggap tempurung telur yang teramat rapuh belum lagi kasus-kasus terbaru yang mengindikasikan mahasiswa  kerisis akan moralitas serta kirisis akan pemahaman spritualitas sehingga menimbulkan berbagai tindak kiriminalisasi, miras, obat-obatan, narkotika bahkan sampai dengan seksualitas.

Penyebab utama terjadinya krisis moralitas adalah karena kurangnya perhatian pada aktivitas berliterasi, sejatinya mahasiswa telah mampu memberikan stimulus untuk menimbang baik dan buruknya akan suatu hal. Namun aktivitas yang kurang bermanfaatlah penyebab utama meningginya angka kriminalisasi tiap tahunya pada mahasiswa saat ini. Untuk menggimbangi aktivitas tersebut, diperlunya literasi sebagai pemahaman dasar dan juga sebagai pengetahuan dasar yang merujuk kepada hal-hal positive.

Disaat bersamaan lembaga pendidikan tinggi berbasis pondok pesantren di seluruh indonesia yang juga merupakan lembaga pendidikan tertua ini telah melakukan berbagai metode untuk meretas kondisi kurangnya minat membaca dan menulis pada mahasantri, melalui membangun semangat literasi serta mempermudah sarana dan prasarana untuk mahasantri berliterasi. Bagaimana tidak permasalalahan yang terjadi sekarang adalah mayoritas lulusan pesantren masih banyak yang belum mencapai kompetensi minimal pada ranah kognitif dan psikomotorik permasalahan ini adalah karena kurangnya perhatian pada hal-hal yang berbenturan dengan rutinitas membaca dan menulis belum lagi mahasantri memiki banyak sekali tanggung jawab yang harus segera diselesaikan sebagai mahasiswa dan juga santri.

 Berbicara terkait dunia kemahasiswaan tidak terlepas atas tanggung jawabnya yang dikenal sebagai Tri Dharma Perguruan tinggi yaitu tiga tanggung jawab dasar Pendidikan dan pengajaran, Penilitian dan Pengembangan serta Pengabdian kepada Masyarakat. Pendidikan pastinya didapatkan mahasantri pada saat fase bangkuh perkuliah kurang lebih selama kurung waktu empat sampai lima tahun, penilitian adalah proses latihan analisa yang dilakukan mahasantri untuk menyelesaikan tugas perkuliahanya biasanya berbentuk makalah, jurnal atau skripsi, dan yang terakhir adalah pengabdian mahasantri kepada masyarakat yang harus bersifat multifungsi sesuai dengan kadar beranekaragamnya kekhawatiran masyarakat atas permasalahan sosial yang didapatkanya, seperti pelaksanaan KKN (Kuliah Kerja Nyata) atau PPL (ProgramPengalaman Lapangan).

Oleh karena adanya tanggung jawab tersebut mahasantri di haruskan untuk membangun karakter akdemisi yang dimulai dari berliterasi. Karena untuk menciptakan sebuah kreativitas dan inovasi diperlukanya banyak sekali bahan-bahan refrensi serta pengaktualisasian yang baik. Namun dari semua permasalahan diatas diperlukannya sebuah dobrakan besar agar dapat meminimalisir masalah literasi di Indonesia salah satu peluang yang bisa dijadikan alternatif adalah dengan berliterasi digital.

Muhadjir Effendy (Mantan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan) menyampaikan didalam kunjungan kerjanya di Jakarta pada tahun 2017 silam, “literasi digital perlu ditingkatkan di lingkungan pemuda yang berada ditengah-tengah arus globalisasi karena kemajuan teknologi sudah dirasakan dan digunakan oleh seluruh pemuda-pemudi Indonesia saat ini baik untuk keperluan pendidikan sampai kebutuhan komunikasi informasi sehari-hari”. Oleh karena itu eksistensi literasi digital pada mahasantri milenial perlu ditingkatkan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa muslim ditengah kemajuan teknologi.

Saat ini seharusnya kegiatan-kegiatan literasi haruslah di relasikan dengan teknologi karena pada dasarnya penggunaan teknolgi telah menjadi kebutuahan primer kita saat ini. Tidak bisa dipungkiri alternative termudah untuk menumbuhkan kecintaan mahasantri terhadap literasi adalah dengan menghadirkan literasi dalam bentuk digital, agar mempermudah dalam pengaksesan serta dapat digunakan kapan dan dimana saja. Waktu luang yang tadinya digunakan untuk bermain game dan chatingan kini dapat dimanfaatkan dengan berliterasi.

Akhirnya tujuan kita bersama untuk meningkatkan minat dalam berliterasi di Indonesia dapat bersama-sama di aktualisasikan baik pemerintahan kepada masyarakat atau masyarakat kepada pemerintah sehingga siklus simbiosis mutualisme dapat terjalin dengan baik. Sejumlah mahasantri saat ini yang memiliki keterlibatan aktif didalam dunia literasi sudah berulangkali menginovasikan literasi dan kegiatan yang berkaitan dengan literasi dalam bentuk digital.

Dari kegiatankegiatan tersebut melahirkan mahasantri millenial yang bergerak aktif didalam merekontruksi minat baca pada pelajar Indonesia saat ini yang masih minim jumlahnya, dan dengan kemajuan teknologi kita berharap agar gerakan ini mampu untuk menumbuhkan kecintaan mahasantri terhadap literasi digital bisa merata keseluruh Indonesia dilihat dari sisi teknologi yang mampu memberikan informasi dan komunikasi yang begitu cepat.

Tentunya penulis sebagai mahasantri aktif IDIA (InstitutDirosat Islamiyah AlAmien) juga memliki harapan besar kepada pihak penyelanggara kompetisi Semarak Literasi mampu untuk menumbuhkan dan menanamkan kecintaan literasi bagi seluruh mahasantri IDIA baik yang dikemas dalam bentuk digital ataupun dalam bentuk print out. Menulis dan membaca pada dasarnya memiliki keterikatan satu sama lain, penulis yang baik berasal dari pembaca yang baik sehingga literasi merupakan kunci penting bagi kedua aspek tersebut, untuk kalangan mahasantri IDIA yang lebih kondusif dan produktif nantinya dalam menuangkan gagasan-gagasan nantinya.

 ***    
Alfiansyah, lahir di  Sebatik Kalimantan Utara, 10 November 1997, kini belajar di IDIA Prenduan Sumenep, Prodi : Aqidah dan Filasafat Islam  Email:  alfiansyah2780@gmail.com, MOTO : Be Your Self, Yakin Usaha Sampai
 

 
 
 



POSTING PILIHAN

Related

Utama 4321879471608366685

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item