Cerita tentang Lapar (Dihimpun dari Kisah-Kisah Nyata, dengan Diimbuhi Pemanis Buatan)


Bernando J. Sujibto

1.

Dia tahu kami dilanda kelaparan. Sudah dua hari kami tidak menikmati aroma nasi hangat. Untuk keluar dari cengkraman rasa lapar begini, dia punya cara sendiri. Lapar bagi kami sudah biasa; tak makan dua hingga tiga hari bukan perkara sakral. Usaha mencari makan bisa kami selesaikan dengan berjualan koran, kerja menjaga angkringan, nge-sring buku, dan menawarkan kerja apa saja, angkat ini-itu dan segala bentuk kerja lainnya.

Tapi dia, Si Jenjai ini, bertekad mencari cara berbeda. Jenjai keluar menuntun sepeda. Kami menatapnya dengan gamang.

"Sebentar lagi kita makan," yakinnya.

Meski nyaris tidak percaya, kami mendoakannya bahwa ucapannya betul-betul terlaksana. Dia pergi dengan menyisakan derit rantai kendur yang menggesek rangka pengapit ban. Kreeek..... Kreeek... Kreek. Semakin mengecil dan menghilang.

Kami hanya saling berpandangan. Setelah itu kembali mencumbui buku-buku di pangkuan kami.

Sejam sudah, Si Jenjai tak ada kabar. Mungkin perutnya sendiri sudah berisi dan lupa kami. Tapi itu bukan mental kami. Kami lapar bersama, kenyang bersama!

Sekarang saya yang beranjak dan berkemas. "Saya ingin nge-sring," tukasku. "Ada yang mau ikut?" Si Najaj berdiri. Sepertinya dia sudah lelah membaca. Dua orang kerja nge-sring setengah hari cukup untuk makan nasi kuah kami bertujuh.

"Ayooookk, makan ke Bu Dining," teriak Jenjai di ujung halaman. Saya antara ragu menaruh kembali sepeda. Kami terperangah. Saya dan Najaj mendekati Si Jenjai. "Bungkus aja, yok," tukasnya.

Setelah nasi lima bungkus yang tak bisa disteples--dengan es teh manis--itu kami lahap, Si Fakir melongo. "Kenapa benjol-benjol, Jenjai?"

Saya ikut mengorek wajah Si Jenjai. Ada yang tak beres di bawah hidungnya. Sejak datang dan makan tadi, Si Jenjai memang irit bicara. "Ini uang 50 ribu tadi hadiah dari mobil yang menabrakku, katanya buat beli obat," suara Si Jenjai antara meringis kesakitan dan tertawa miris.

Kami tertawa dengan menahan air mata.

2

(Si Jenjai sudah ngekos).

Fathul tidak menyangka sepagi itu teleponnya menjerit, seperti bunyi perut keroncongan. Ternyata, si Jenjai menelepon.

"Ada di mana?"

"Di Kutub."

"Kamu lapar?"

"Ya," sergap Fathul.

"Sini ke kos."

Jarak dari Kutub ke kos Si Jenjai berkisar 7 km, ditempuh dengan ontel digenjot kesetanan 30 menit; disponsori perut keroncongan.

Sepeda diparkir ditempelkan begitu saja di dinding samping kos Si Jenjai. Fathul terbayang-bayang makanan sajian khusus dari Jenjai. Sepertinya ada aroma khas menyeruak dari dalam kos.

Tanpa salam, masuk kos. "Gimana, Bung?" tanya Fathul basa-basi yang sebenarnya mau tanya "di mana makanannya?"

"Ya, duduk di sini. Kita ngumpul sama-sama lapar."

(diangkat dari akun FB:  Bernando J. Sujibto_


POSTING PILIHAN

Related

Utama 3148732792645469634

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item