Catatan Sederhana Tentang (Kontroversi) Film The Santri

 

Salah satu adegan yang dipermasalahkan dalam film The Santri

Addarori Ibnu Wardi

Kenapa The Santri tuai Kontroversi? Tentu jangan hanya sekadar dianggap like or dislike. Pertama, kehidupan santri memang ada realitas kehidupan percintaan. Saya yang pernah menempa ilmu di Pesantren tak kaget dengan kehidupan itu. Hanya saja, sebagian orang khawatir jika pacaran itu 'dibenarkan' dengan adanya Film ini.

Kehidupan cinta seorang santri biasanya penuh intrik, karena mereka susah mendapat akses alat komunikasi macam HP, dimana hal itu bertolak belakang dengan yang namanya kehidupan siswa di luar Pondok Pesantren. Paling alat komunikasi mereka melalui Surat yang diselipkan di buku atau majalah, bahkan kalau saya di Kitab Bulughul Marom. Dan ketika menunggu jawaban dari lawan jenisnya, hati berbunga-bunga seakan lebih indah dari orang tua yang datang menjenguk.

Apakah itu benar-benar ada? Tentu saja ada. Balik lagi, kenapa kontroversi? Sebenarnya gak perlu sih kagetan dengan kecam sana kecam sini. Gini, dulu ada buku semacam Novel judulnya Mairil. Isinya menceritakan tentang adanya percintaan sesama jenis di Kalangan Santri. Apakah itu ada? Jelas..!! Tapi, saya tidak pernah jadi korban.

Kemudian, Novel itu sempat rame (Kontroversi). Biasanya, orang-orang yang kuliah di Jogja itu yang sering membahas, wajar disana akses buku lebih mudah ketimbang di tempat saya Madura. Memang sih, kehebohan Mairil ini tak seheboh The Santri sekarang. Baru beberapa hari, langsung meledak. Padahal, Filmnya belum digarap, katanya. Dan Mairil, kenapa buku itu banyak yang mengecam? Jawaban saya, bukan karena tidak adanya realitas kehidupan Santri yang menyukai sesama jenis. Akan tetapi, hal itu dikhawatirkan penilaian-penilaian, atau anasir-anasir yang seakan-akan Pesantren membenarkan prilaku yang kemudian dianggap Gay. Tau Gay? Gay itu yang huruf awalnya menjadi sambungan dari singkatan L-BT.

Kita harus jujur bahwa itu ada, dan nyata. Tapi ketika saya mondok di beberapa tempat, kalau ada anak yang tidak terima lalu melaporkan pada keamanan Pondok, pasti pelaku 'pemerkosaan' terhadap santri Ganteng ini akan mendapat Hukuman. Tapi tak jarang hal itu dianggap oleh sebagian orang adalah bagian dari 'Romantisme' kehidupan di dalam Pondok. Bahkan, ketika itu saya terbiasa mendengar gosip-gosip yang mengatakan adanya pacaran antara santri yang sama jenis.

Nah, jika ini terus dibiarkan, dalam arti kata kita Fine-fine aja terhadap buku Mairil ini, jangan salahkan orang ketika ada yang menganggap bahwa Pesantren itu sarang LGBT. Dan itu sangat berbahaya bagi orang yang punya anak lalu ingin disekolahkan di Pesantren. Apalagi, isu macam ini menjadi super sensitif akhir-akhir ini. Sama halnya dengan film The Santri. Jika benar film itu ada tayangan Pacaran, ya bagi saya pribadi itu realitas. Tapi, ada hal-hal nyata yang sebenarnya tak bisa dengan bebas diumbar begitu saja. Khawatir jika suatu saat ada anasir yang mempertanyakan, apa bedanya Pesantren dengan Sekolah-sekolah pada umumnya jika masih ada pacaran?.

Sementara itu, di sisi lain, saya orang yang masih sangat percaya bahwa Pendidikan terbaik di Indonesia, bisa jadi Dunia, adalah Pesantren. Okelah, ada hal kecil semacam itu, yang sebenarnya Allah mau menujukan bahwa Pesantren juga dikelola oleh Manusia yang mendapat karomah mengelola Lembaga Pesantren. Apalah arti dari yang sedikit ini ketimbang nilai-nilai positif yang jauh lebih baik dari pada tempat lain?.

Dan lagi, 'kerusakan-kerusakan' seperti yang saya sebut di atas bukan di tolerir oleh Pesantren. Kalau pacaran sampai ketahuan, jangan salah, hukumannya berat. Apalagi sampai berlaku Zina. Bisa-bisa diusir dari pondok. Sementara usiran dari Pondok, oleh sebagian masyarakat yang percaya akan adanya Barokah, ya Pamali. Apa ya bahasa pasnya Tola (Madura, Red). Lebih ke kualat di kemudian hari.

Apalagi? Oia, saya contohkan aturan yang dilarang di Pondok Pesantren Banyuanyar.

1. Pacaran

2. Mencuri

3. Berkelahi

4. Kebakaran.

Dan semua pelanggaran ini di jaman saya mondok, merupakan larangan keras yang jika terjadi maka santri harus angkat kaki dari Pesantren (Diusir). Puji Tuhan selama di Banyuanyar, saya tidak pernah melakukan 4 kesalahan itu.

So, mari jangan terburu-buru dalam menghujat orang yang Pro dan Kontra terhadap suatu hal/peristiwa. Bisa jadi, yang Pro dan yang Kontra sama-sama memiliki tujuan yang baik. Yang Pro terhadap film ini merasa setuju bahwa Pesantren adalah tempat paling Toleran dan jauh dari kata Teroris serta nilai-nilai positif lainnya, yang Kontra justru karena ingin menjaga Pesantren tetap 'Sempurna' di hadapan masyarakat secara Umum.

Wallahua'lam.

 (diangkat dari akun FB  Addarori Ibnu Wardi)

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8954044016498753195

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item