Bila Ku Harus Mati


Cerpen: Ahmad Hodri (KI_DYS)

Pandanganku hampa saat kau sedang asik memeriahkan sebuah kemenangan diri. Bagiku tanpa sadar kau telah menyakiti bilik hatiku.

Tak bisakah kau dapat mengontrol gerak hatimu yang semakin kaku. Di tengah keangkuhan malampun kumulai membaca seberapa bodohnya aku mau mengabdi menjadi budak cinta. Sepenggal imaji mulai membentukku menjadi makhluk paling sederhana, merayap dalam mimpi jibril di malam pekat. Sedang bisikan rembulan mulai mengacau membran ketulusan ku.

Kau buat diriku merasa bosan dengan kebohonganmu, hingga ku merasa inilah karma bagiku yang telah melanda. Sebelumnya aku tak pernah merasa sadar dengan sikapmu yang semakin memilukan ku, hingga akhirnya aku pun lapuk dengan sebuah rasa yang tak pernah akan menjadi pedoman hidup lagi. Semuanya musnah, hancur, dan gelap. Rindu ini semakin menggebu memetik ketabahan sebuah ketersiksaan batin yang tak pernah merdeka. Kau tetap saja diam melihatku hampa tanpa sosok yang dulu mampu menjadi pemimpin. Gelombang tangis mulai mengisakkan raut kekecewaannya dengan hadirnya dua perahu yang kau tumpangi sekarang, bahkan perahu itu sudah membawamu ke ruang pelangi.

Masih ingatkah kau pada perahu kayu yang dulu sengaja kita buat dengan sangat sederhana, untuk bisa melewati gelombang besar dan mampu membawa kita pada sebuah pulau kejayaan dengan usaha sendiri dan penuh perjungan. Kini hanya aku yang duduk melakoni perahu itu agar bisa mengejarmu ke pulau pelangi. Sekalipun aku harus mati tenggelam bersama harapan. Banyak kenangan yang tak mampu aku buang dan akan tetap ku selami sekalipun nyawa taruhannya.

“Mimpi tak jadi nyata karena hati tak konsisten,”.

Itu yang ku tangkap dari rabi’ah wajahmu, meski kau tak pernah bisa berkata jujur padaku.Tapi sikap dan pandanganmu yang telah membisikkannya padaku tentang sebuah harapan yang lumpuh. Karena kau tega membiarkan perjuangan kita terkapar kaku di tengah maraknya perselingkuhan, bahkan kau pun sendiri melakukannya. Bukan maksud aku untuk menentang semuanya, tapi kau yang mengajarkanku bagaimana hidup harus di jalani.

Pernakah kau berpikir bagaimana perasanku saat kau pertontonkan ku di depan banyak orang, karena sebuah ketidakberdayaanku terhadap sebuah perasaan. Muka dan harga diriku aku gadaikan tanpa sadar dan hanya sebuah resah yang ku dapat. Benarkah sebuah ketulusan selamanya akan abadi? Berkaca pada pengalaman tak ada yang abadi kecuali sebuah kekokohan hasrat dan komitmen. Aku berjuang demi cinta tapi kehancuran yang ku dapat, begitu juga sebaliknya terhadap balas budi yang kau berikan padaku. Aku hanya berharap kau tak selalu menuntutku untuk bisa terus membalas semua pengorbananmu, sedangkan pengorbananku terhadap mu tak pernah kau hargai bahkan kau anggap semuanya semu. Sudah tak mampu lagi aku seperti ini, hidup tanpa tujuan yang jelas dan tanpa arah, kau membiarkanku terkapar.

*****

“Kapas putih telah kau nodai, hati tulus telah kau sia-siakan,”.

Aku tak bisa lagi hidup tanpa dayung karena aku harus berjuang tanpa nahkoda dan menari tanpa melodi. Dengan sejuta harapan dan keyakinan aku pasrahkan semua kendati kita padamu sekalipun “aku harus mati” berjuang demi cinta yang tak akan pernah terbalas seperti yang kau lantunkan awal perjanjian kita. Kau pun harus tahu kalau aku sekarang tak dapat lagi menutupi bau busukmu yang telah tertoreh di depan muka keluargaku.

Mungkin kau tak dapat merasakan apa yang sebenarnya terjadi, karena kau menutup mata hatimu. Bahkan hati nuranimu telah teracuni. Kata maaf yang ku lantunkan tak lagi kau hiraukan melainkan kau semburkan. Sudah sejauh mana kau tak menghiraukanku,sejauh kau pergi ke pulau pelangi dan membiarkannku terdampar di pulau kesakitan.

Kutuliskan sebuah puisi untukmu, namun hati kecilku berbisik jika kau tak akan membiarkan puisi itu abadi. Syair-syairnya tak sempurna. Masih teringat jelas yang kau ucapkan di saat kita baru memulai memaknai apa arti cinta. Dan kau memintaku untuk membuatkan puisi tentang sebuah kembang harapan.

”Cinta itu tak perlu di ungkapkan, cukup di rasakan,” . Kata itu yang selalu kau ucapkan padaku. Begitu pula dengan perasaanku yang selalu sakit dengan sikap mu, tapi kau tak pernah menghiraukanku.

Ku masih teringat dengan sangat jelas ocehan orang tentang kau di malam nifsu sya'ban. Betapa gerahnya kau akan membiarkanku meluapkan semua kenangan ini. Seketika itu pula aku linglung melihat tingkahmu yang sok jagoan di depan kesakitan batinku, aku hanya diam dan memohon kepada Sang Kuasa agar semuanya dapat balasan.

”Bagaimana keadaanmu?”

Ocehan pertanyaan penyakit hati dikala kau takut lapuk bersamanya. Dalam hati ku bersabar menafakuri semua yang terjadi. Mungkin ini karma bagiku. kau membuat ku mencoba untuk menerima sedangkan kau menghancurkan semua harapan kita yang sudah di bangun setengah tahun yang lalu. Kau sempat ucapkan janji pada semua orang jika tak ada lagi yang dapat memisahkan kita kecuali maut. Tapi seorang bidadari dunia mampu mematahkan janji itu yang kemudian kau juga menghancurkan ku.

Semuanya kelam saat kau sendiri yang mengkhianati janji yang keluar dari bibir manis mu. Jika aku harus mati untuk tetap mengabadikan semua kata yang telah ku lontarkan, maka dengan hati terbuka aku akan melakukannya. Aku tidak suka di panggil seorang pengkhianat yang hanya mengumbar janji seperti pepatah mengatakan” habis manis sepah di buang” begitulah dirimu saat ini. Selamat tinggal masa lalu, selamat datang masa depan.

 Sayang mengejar cinta
dikala siang datang malam tiada


Sunyi, Februari 2021

Ahmad Hodri (KI_DYS).  Dia adalah seorang laki-laki yang lahir di tanggal satu bulan lima tahun seribu sembilan ratus delapan puluh delapan. Panggilan viralnya adalah Hodri. Selain menulis dia juga senang traveling dan memiliki hobby di seni musik. Dia bertempat tinggal di Jalan Trunojoyo Desa Kolor-Sumenep tepat di jantung kota. Sekarang Dia mengabdi di Lembaga SDIT AL-HIDAYAH Sumenep. Dia masih belajar menulis fiksi karena pada dasarnya lebih suka nulis non fiksi. Semangatnya untuk menulis menjadi benteng dalam berproses dan berkarya. Kata demi kata dieja, disusun hingga menjadi sebuah ilustrasi tulisan yang dapat mengapresiasi sebuah ide pada dirinya. Jika kita tidak bisa menjadi orang yang bisa dipandang, setidaknya tulisan kita jadi saksi keberadaan kita.



POSTING PILIHAN

Related

Utama 5847985706471535544

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item