Antara Buku dan Secangkir Kopi


 Cerpen:  Gigih Pebri

Cinta Pertama Pada Buku Pertama

Kecintaanku pada membaca, berlangsung sejak aku menemukan buku paling misterius di dunia. Bagaimana tak misterius? Buku itu telanjang tanpa sampul, tanpa daftar isi, tanpa pengarang, tanpa keterangan penerbit dan tahun terbit. Hanya tulisan-tulisan. Bahkan, untuk menyebut nama buku itu pun aku kesulitan, karena memang tanpa judul.

Untuk memudahkan penyebutan, kutulis sendiri judul buku itu. Sebuah buku “Paling Misterius di Dunia”. Melihat judulnya, aku makin tak sabar membaca isinya, untuk mengetahui tentang apa saja ia akan bercerita. Apa ia akan membawaku ke dalam perjalanan asing, penuh tantangan, dan berakhir dengan air mata? Aku tak tahu. Seingatku, karena waktu itu masih SD, aku hanya melahap halaman demi halaman. Buku itu berisi dua eksperimen yang membuat mataku terpana.

Eksperimen pertama adalah membuat klakson dari kaleng susu. Konsepnya, kaleng susu bekas dipaku di atas sebuah papan. Dengan sedikit konstruksi listrik yang agak rumit, saklar dihubungkan dengan kabel, dua baterai besar, dan sekrup. Saat saklar dinyalakan, kedua sekrup yang menggapit sisi kaleng akan memiliki daya magnet, sehingga akan saling tarik-menarik. Saat itulah sisi kaleng akan bergetar, dan mengeluarkan bunyi nyaring seperti klakson mobil. Sungguh, merupakan penemuan yang adi luhung!

Aku mencobanya beberapa hari kemudian. Saat semua bahan terkumpul. Dan saat klakson buatanku sudah jadi. Aku memencet saklar berharap sesuatu terjadi pada percobaan ini. Hasilnya sungguh mengagumkan! Terdengar suara seperti orang mendengkur dari dalam kaleng.

Tak puas dengan percobaan pertama, aku mencoba eksperimen kedua. Percobaan kali ini adalah membuat lampu untuk sepeda ontel. Lampu ini memiliki prinsip yang sama seperti penggunaan lampu pada sepeda ontel tua –yang pernah dipakai kakek waktu perang melawan Jepang. Konsepnya, sebutir lampu kecil dihubungkan dengan kabel panjang, yang ujungnya sudah disambungkan dengan dinamo. Dinamo akan berputar seiring perputaran roda ketika dikayuh. Saat sepeda dikayuh itulah, lampu akan menyala.

Tak perlu ditanyakan lagi bahwa percobaanku ini gagal juga. Saat pedal dikayuh, lampu hanya menyala redup. Mirip mata orang sekarat, yang nyawanya timbul-tenggelam ditarik malaikat, seolah ia berada di perbatasan dunia dan akhirat. Aku pun menyerah sampai eksperimen kedua itu.

Pada waktu-waktu berikutnya, aku hanya menyimpan buku itu di rak meja belajar. Berpuluh tahun lamanya, tak kubaca lagi setelah dua eksperimen yang tak berhasil. Kendati demikian, buku itu telah membuka jendela kecerdasan bagiku. Ia menyibak tirai dengan ruang-ruang baru, membuka dunia yang di dalamnya segalanya ada. Dunia yang membuatku kecanduan pada buku-buku selanjutnya, di masa mendatang.

Itulah buku pertama yang membuatku menemukan jati diri: suatu hari aku akan tinggal dalam sebuah perpustakaan. Sehingga, saat terbangun dari tidur, akan kutemukan di sampingku tumpukan buku. Saat keluar dari kamar mandi, tumpukan buku menghadangku. Dan saat membuka lemari, tumpukan buku memelukku. Ya. Inilah jati diriku. Aku akan menikah dengan buku!

Cinta Pertama Pada Kopi Pertama

Sejak menemukan buku pertama, aku memiliki hobi baca tingkat dewa. Sehari dapat kuhabiskan 150 halaman novel, 250 halaman buku sejarah, dan 300 halaman buku filsafat. Tampaknya ini memang tak wajar! Tapi karena rasa cinta, daya baca menjadi sangat kuat. Aku seolah-olah bekerja sama dengan buku.

Seperti sepasang  sahabat yang saling curhat. Buku bercerita dan aku  mendengarkan. Tak terhitung lamanya berjam-jam.

Aku sering membaca buku di Warung Depan Kampus, sendirian, tak ada yang menemani. Hanya aku dan buku. Kami duduk saling berinteraksi. Buku berkisah, aku memperhatikan. Kami bagaikan pasangan yang mesra, ketika segalanya tiba-tiba berubah.

Suatu saat, seorang ibu penjaga warung menuju mejaku. Dia bertanya kepadaku, “Mau pesan apa?” Ingin kukatakan kepadanya kalau aku tak bernafsu memesan apa-apa, karena berfokus membaca. Tapi buku yang bijak justru memberiku saran.

“Kasihan ibu itu, pesanlah sesuatu!” Ujarnya. Awalnya aku bimbang. Tapi setelah kupertimbangkan bahwa pasangan terbaikku selama ini adalah buku, maka kuturuti permintaan itu. Aku pun memesan kopi.

Berada di atas meja, kami bertiga saling berinteraksi. Aku, buku, dan secangkir kopi. Aku masih menyimak sebuah buku yang sedang ceramah masalah moral. Sementara kopi menguarkan aroma sedap nan hangat. Meski baru berkenalan, rupanya ia mencoba menarik perhatianku. Mungkin ia mulai jatuh cinta padaku.

Dalam meja itu, kukenalkan kopi kepada buku. Kopi menyambut dengan baik, meski sebetulnya ia tidak suka buku. Aku mengetahuinya saat beberapa lama kemudian, ia tak lagi menguarkan kesedapan dan kehangatan. Ia menjadi dingin, dan perlahan-lahan habis.

“Apakah kamu cemburu?” Tanyaku kepada kopi. Ia tak peduli. Aku membiarkannya, sambil tetap membaca buku yang tebalnya minta ampun. Tak seperti kopi yang cepat habis, buku sungguh menikmati waktu berduaan antara dirinya dan diriku. Dia sulit sekali dihabiskan.

Meski pertemuan kami banyak diam, lama-kelamaan kami terbiasa. Aku mulai bercengkerama dengan kopi, saat tak mengajak buku di Warung Depan Kampus. Aku hanya berduaan dengan kopi, dan kami saling berbagi cerita. Ia bercerita kepadaku tentang siapa yang pernah mencecapnya. Apakah perempuan atau laki-laki. Apakah mahasiswa atau tukang becak. Siapapun, ternyata, pernah mencium aroma kopi.

“Kurasa kau lebih populer daripada aku?” Tanyaku kepada kopi. Kemudian, ia menggeleng.

“Sebenarnya bukan aku yang populer di sini. Tapi temanku!”

“Temanmu, siapa?”

“Kopi susu!”

Aku terperangah, ternyata ada jenis kopi lain di sini yang menjadi saingan kekasih gelapku. Karena meminum kopi hitam, aku tak begitu mengenal kopi susu. Telah kubayangkan bahwa kopi susu tak lebih dari blasteran kopi dan susu. Ibarat orang Indonesia yang menikah dengan Bule, maka itulah kopi susu. Pantas saja! Aku pernah melihat peranakan Belanda yang memang sungguh cantik melebihi ras asli keturunan mereka. Ras Indonesia dan Belanda paling mengagumkan yang pernah kutemui.

“Bersabarlah, Kopi Hitam! Aku tetap mencintaimu.” Kataku kepadanya, sambil menggenggam erat pegangan cangkir. Kopi itu menguarkan bau sedap. Asap kehangatan menyembul, tanda bahwa ia siap kuminum. Maka bibirku menyentuh bibir gelas.

Kenangan lainku bersama kopi hitam adalah saat hujan deras menjebak kami. Lagi-lagi aku tak mengajak buku di Warung Depan Kampus, sehingga itulah momen selingkuh paling indah yang pernah kurasakan. Warung saat itu hanya diisi beberapa pengunjung yang berkumpul di beberapa titik. Mereka melakukan diskusi dengan buku, ditemani secangkir kopi hangat. Sedangkan aku hanya berduaan dengan kopi hitam, dan kami saling diam. Saling malu-malu karena tak ada bahan untuk dibicarakan.

“Hujan yang dingin,” kata kopi menghadap ke atas. Kemudian ia melanjutkan dengan nada yang sendu. Ia berkata, “Minumlah aku agar kau hangat! Aku ingin menghangatkan tubuhmu!”

“Bagaimana jika aku meminum kau, kemudian kau tiada?” Sanggahku, “Aku ingin kita tetap bersama di bawah hujan ini.”

“Habiskan aku, atau kau akan kedinginan?”

Sungguh persoalan yang rumit, saat gigiku gemeletuk kedinginan sedangkan kopi hangat terletak di depan wajah. Kopi itu berulang kali mendesak, tapi aku melawannya. Saat itu kami bertengkar tentang persoalan sederhana. Tentang siapa di antara kami yang mau berkorban dan tidak saling menyakiti. Aku rela

kedinginan di antara suhu hujan, di bawah bunyinya yang terus berjatuhan di atas atap seng. Sedangkan kopi rela mengorbankan apa pun yang dimilikinya, demi menghangatkan tubuhku. Hanya untuk membuatku tak menggigil.

“Minumlah, cepat!”

“Kau yakin dengan keputusanmu?” Tanyaku ragu.

“Aku akan kecewa jika kau tak meminumku!”

“Baik-baik, aku akan meminummu. Tetapi,” mataku berkaca-kaca, “Tetapi

mungkin setelah itu aku tak bisa tidur karena terus memikirkanmu!”

Kuminum perlahan-lahan kopi itu sambil merasakan air mataku meleleh. Selingkuhanku yang baik hati, maafkan aku yang terlalu merepotkanmu. Kini gelas itu sudah kosong, dan hanya tersisa jejak aromanya. Ia menyisakan ampas kopi di dasar gelas yang lebih mirip abu orang meninggal setelah dikremasi. Ia rupanya meninggalkan ampas itu agar aku tetap mengenangnya.

Maka seperti orang yang baru saja kehilangan keluarga, aku membawa ampas kopi itu ke tempat kost. Ampas itu kubungkus pulang, kuletakkan di sebuah tempat samping kasurku. Di samping ampas itu kupasang foto secangkir kopi, dan benar-benar mirip orang mati yang baru saja dikremasi. Aku mematikan lampu kamar, dan menyalakan lilin untuk merenung berhari-hari. Benar perkataan waktu itu, bahwa aku tak tidur selama beberapa hari setelah meninggalnya kopi. Aku benar-benar kehilangan dia.

“Kemana saja kau selama ini?” Tibalah suatu saat buku mendampratku habis-habisan. “Lihat, matamu cekung dan kau seperti habis menangis. Apa yang kau tangisi sebenarnya?”

Buku itu menudingku dengan galak. Aku tak bisa berkutik karena tak tahu harus menjelaskan mulai darimana. Jika kujelaskan bahwa aku menangis karena telah kehilangan kopi, ia akan cemburu, dan ia  akan menangis juga. Aku tak inginitu terjadi.

“Atau jangan-jangan....,” dia mencoba menebak pikiranku. “Kau menangisi kopi hitam yang telah kau minum? Benarkah?”

“Bukan itu!”

“Kau bohong, lalu kemana saja kau selama ini? Kau,” katanya tersendat,

“Kau tak pernah membaca sejak bertemu dengan kopi.” Ia menitikkan air mata.

Kini semua rahasiaku telah terbongkar. Buku sudah tahu bahwa sejak itu aku mengaggumi kopi. Kukira, antara buku dan kopi bisa bersatu. Ternyata mereka juga bisa cemburu, seperti dua perempuan yang memperebutkan seorang lelaki, dan akulah lelaki itu. Dua perempuan yang sungguh berbeda. Yang satu penikmat kopi. Yang satu kutu buku. Entahlah, aku akan memilih yang mana. Bagaimana menurutmu?

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7623288813271830918

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item