Status Kehadiran Apresiasi Sastra


Djoko Saryono

Meskipun dapat dilakukan secara komunal artau kolektif, apresiasi sastra bekerja secara subjektif, individual, internalistik, momentan, tanpa harus perlu dipandu oleh teori tertentu, dan tak evaluatif. Hal ini berarti bahwa kehadiran apresiasi sastra di tengah-tengah dunia (penghadapan) sastra bukan sebagai ilmu. Dikatakan demikian karena ilmu justru menuntut objektivitas, kolektivitas (sebab mesti bisa diuji oleh orang lain!), rasionalitas, dipergunakannya teori tertentu, dan evaluatif atau eksplanatif. 

Padahal semua ini tak bisa dipenuhi oleh apresiasi sastra. Meskipun demikian, kehadiran apresiasi sastra juga tidak dapat dikatakan sebagai keterampilan karena keterampilan selalu mekanistik, penuh keberulangan, dan cara-caranya tergolong baku. Padahal semua ini juga tak terdapat dalam apresiasi sastra. Hal ini menunjukkan bahwa apresiasi sastra bukanlah suatu ilmu dan bukan pula suatu keterampilan.

Jika demikian halnya, lalu kehadiran apresiasi sastra sebagai apa? Status kehadirannya bagaimana? Daripada distatusi sebagai ilmu atau keterampilan, kehadiran apresiasi sastra sesungguhnya lebih tepat distatusi sebagai seni atau kiat, art. Mengapa demikian? Beberapa alasan dapat dikemukakan sebagai berikut.

  1. Secara primer terbukti apresiasi sastra dapat berlangsung tanpa harus disangga oleh teori tertentu. Asalkan ada kemauan, kesudian, kesungguhan, dan itikad baik pengapresiasi (bisa dibaca: apresiator), maka apresiasi sastra sudah dapat berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pengapresiasi tidak harus menguasai suatu teori sastra dan atau teori apresiasi sastra lebih dahulu sebelum dia berhak mengapresiasi sastra.
  2. Secara sekunder apresiasi sastra dapat berlangsung dengan ditopang oleh teori tertentu baik teori apresiasi sastra maupun teori sastra. Meskipun bukan conditio sin qua non, teori linguistik, stilistika, estetika resepsi, formalisme, dekonstruksionisme, feminisme, dan sebagainya bisa membantu berlangsungnya apresiasi sastra. Keberlangsungan apresiasi sastra yang ditopang oleh teori tertentu ini sesungguhnya merupakan kelanjutan apresiasi sastra taraf literary enjoyment.
  3. Meskipun apresiasi sastra berlangsung secara individual, subjektif, dan momentan, percobaan terus-menerus dan berulang-ulang dapat memantapkan keberlangsungan apresiasi sastra. Jika melisankan (poetry reading) Jante Arkidam (Ajip Rosidi), kita bisa berlatih melisankan secara berulang-ulang dan terus-menerus sambil mencari kemungkinan-kemungkinan terbaik pelisanan Jante Arkidam itu.
  4. Perwujudan kegiatan apresiasi sastra bisa bermacam-macam darisatu saat ke saat lain dan dari satu orang ke orang lain walaupun sastra yang diapresiasi sama dan dengan latihan-latihan yang sama pula. Meskipun Rindang Kasih dan Teduh Bumi (bukan nama sebenarnya), misalnya, terus berlatih melisankan puisi Suta Mencari Bapa (W.S. Rendra) dengan cara yang sama, pelisanan atau pembacaan keduanya dapat dipastikan berbeda; bahkan pelisanan Rindang Kasih (bukan nama sebenarnya) atas puisi Suta Mencari Bapa pada kemarin dan hari ini berbeda meskipun orangnya sama.

Dengan keempat alasan tersebut di atas, sekali lagi, kita dapat menegaskan bahwa status kehadiran apresiasi sastra adalah sebagai kiat atau seni, bukan ilmu atau keterampilan semata-mata. Sebagai suatu kiat, apresiasi sastra tentulah mengandung unsur-unsur ilmu dan unsur-unsur keterampilan; dapat dikatakan merupakan pemaduan dan pengkristalan unsur ilmu dan keterampilan. Ini menunjukkan bahwa dalam apresiasi sastra ada unsur-unsur yang bisa dipelajari dan unsur-unsur yang harus dilatih. 

Unsur-unsur yang bisa dipelajari bisa dikuasai dengan membaca berbagai buku yang berkenaan dan berhubungan dengan apresiasi sastra. Unsur-unsur yang harus dilatih hanya bisa dikuasai dengan jalan bergelut dan bergumul dengan berbagai hal yang berkenaan dan berhubungan dengan apresiasi sastra. Hal ini berarti bahwa terdapat aspek keberencanaan pada unsur yang bisa dipelajari dan aspek kesopansantunan-kepekaan pada unsur yang harus dipelajari.


Tulisan bersambung:

  1. Makna Apresiasi Sastra
  2. Pokok Persoalan Apresiasi Sastra
  3. Wilayah Garap Apresiasi Sastra
  4. Status Kehadiran Apresiasi Sastra
  5. Tujuan Apresiasi Sastra
  6. Fungsi Apresiasi Sastra
  7. Keterpaduan Fungsi Apresiasi Sastra
  8. Kehadiran Apresiasi Sastra 
  9. Prasyarat Keberlangsungan Apresiasi Sastra  
  10. Keanekaragaman Proses Keberlangsungan Apresiasi Sastra
  11. Yang Memengaruhi Apresiasi Sastra 
  12. Proses Keberlangsungan Apresiasi Sastra
  13.  Keidiosinkretisan Dan Kemomentanan Apresiasi Sastra  
  14.  Jati Diri Pengapresiasi Sastra  
  15. Keragaman Pengapresiasi Sastra 
  16. Bekal Dasar Pengapresiasi Sastra 
  17. Sikap Pengapresiasi Sastra



POSTING PILIHAN

Related

Utama 6338615755449685805

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item