Siput dan Wijen

Cerpen: Naning Hendrayati

Pagi yang cerah. Dengan suka cita Putri membuka jendela kamarnya dan membiarkan cahaya matahari pagi menembus kamarnya.

’’Hemm, sejuk sekali udara pagi ini,” ucap gadis itu  sambil menghirup udara.
”Ting,” notifikasi handponemua yang tergeletak di meja berbunyi tanda pesan singkat masuk. Seketika Putri langsung mengambilnya dan membuka pesan. Ternyata dari Wijaya teman Putri.
”Put, hari ini bisa tidak kita bertemu?,” bunyi pesan singkat itu. Ternyata dari Wijay
 ”Ada acara apa?,” balas Putri penasaran.
”Sudah, nanti datang saja jam 10, aku tunggu di lapangan ya?”  balas Wijay kembali.
’’Baiklah,” balas Putri.

Setekah meberesi segalanya, Putri pun langsung mempersiapkan diri untuk datang menemui Wijaya di lapangan. Ia segera mandi, dan setelah itu berdandan. Ketika Putri akan memakai baju, ia bingung ingin mengenakan baju yang mana. Dipilihnya baju berwarna ungu dengan motif bunga-bunga, celana putih, serta jilbab berwarna senada. Setelah puas dengan apa yang ia kenakan, ia pun segera turun ke bawah untuk menemui ayah dan bundanya di meja makan.

”Pagi Yah, pagi Bun,” sapa Putri di meja makan pada Ayah dan Bundanya.
”Pagi Putri,”  balas meraka hampir bersamaan.
”Ayah, pagi ini Putri mau ke lapangan,” ujar Putri.
”.”Loh,mau apa?,” tanya Ayah penasaran.
”Itu, Wijay mau ketemu di lapangan jam 10 sekarang ini, ” jelasnya.

Setelah Putri menghabiskan makanan dan meminum segelas susu, Putri langsung berpamitan kepada Ayah dan Bundanya.

”Ayah Bunda,Putri berangkat dulu.”
”Iya Put, hati-hati ya,” pesan Bundanya.

Putri berangkat dengan mengayuh sepeda menuju ke lapangan. Setelah menempuh waktu kurang lebih 10 menit Putri akhirnya sampai di lapangan, lalu dicarinya Wijay kesana kemari.

”Mau apa sih ke sini?, mau mentrakti aku?” tanya Putri penasaran sesampai di tempat perjanjian.
”Ye, traktir terus sih pikirannya,” sahut Wijay.
Dari jawaban Wijay, Putri segera membalas dengan senyum
”Hem, gini loh Put, kamu ingat saat ini hari apa?
”Yah, Selasa, lalu?,” sahut Putri dengan mudahnya.
“Kok hari Selasa sih? Bukan itu maksudku,” timpal Wijay sambil berharap.
”Memangnya hari ini hari apa sih?,” tanya Putri heran dan bertanya-tanya.
”Yah Putri lupa, hari ini kan ulang tahunku,” kata Wijay dengan nada sedih.
”Oh iya, maaf aku lupa,” balas Putri dengan nada menyesal.
”Tak apa ini ada birthday card buat kamu,” ucap Wijay,sambil memberikan kartu undangan tersebut.
”Wah wah ada pesta nih kelihatannya,” ledek Putri”.
”He, he. Iya sih mumpung ada rezeki,”
”Iya, Alhamdulillah,” jawab Putri turut senang.
”Datang ya Put,?.
“Insya Allah,” janji Putri sembari tersenyum.
”Pokoknya harus datang! ” tandas Wijay.
”Loh? Siapa tahu nanti aku sampai rumah lalu lupa atau berhalangan. Makanya aku bilang insya Allah,” jawab Putri bijak.
”Kok gitu ngomongnya? Serem banget,” ucap Wijay keheranan.
”Hmm,sudahlah lupakan saja.”
Setelah selesai bertemu, Putri pun berpamitan kepada Wijay untuk segera pulang ke rumah.”Aku pulang dulu ya Jay?”
”Baiklah, “ jawab Wijay sedikit lesu.
”Bye-bye…..sampai bertemu di pesta ya,” kata Putri sambil mengedipkan matanya.
”Oke ... oke...,” balas Wijay mengedipkan mata pula..

Setelah sampai di rumah, Putri langsung membuka kartu undangan tersebut.”Emm,jam 4 sore toh pestanya”ucap Putri sambil mengangguk nganggukan kepala tanda mengerti.
”Loh, berarti aku harus membeli hadiah untuk Wijay. tapi apa yah?” ucap Putri lirih”
Tiba-tiba Bunda Putri datang menghampirinya.”Ada apa Put?
”Ini Bunda, tadi ternyata Wijay ketemu sama Putri, cuma mau ngasi kartu undangan,” jelas Putri pada bunda.
”Lalu?,” tanya Bunda tak mengerti.”
Yah bunda, Putri kan harus membeli hadiah buat Wijay.
‘Oh begitu, ya sudah belikan Wijay barang kesukaannya,”. Bunda memberi saran.
”Hemm, bagaimana kalau jam tangan Wijay paling suka sama jam tangan,” usul Putri.
“Ya sudah, nanti Bunda antar ke toko untuk membeli jam tangan ya,” ujar Bunda.
”Nanti? Sekarang lah Bunda, undangannya kan jam empat?” Putri mendesak Bundanya.
”Hmm ya udah deh, Bunda ganti baju dulu ya,” tandas Bunda menuruti permintaannya.
”Oke Bunda, jangan terlalu lama ya?” kata Putri.

Bundanya tak berkata apapun hanya membalas dengan sebuah senyuman. Setelah menunggu lebih dari 5 menit.”sang Bunda keluar dari kamar. Mereka pun berangkat ke toko setelah mengumci pintu rumah.

Sesampai di toko Putri segera bergegas menuju etalase dan melihat pajangan jam-jam tangan cantik dari berbagai merk.  Mata Puri berbinar ketika melihat jam tangan berwarna hitam.  Model jam tangannya sangat elegant. Putri segera memanggil Bundanya dan menunjuk jam tangan yang telah menarik hati.

’Bunda ,” panggil Putri.
”Ada apa?” balas Bunda sambil menghampiri Putri.
”Mau itu,” ucap Putri kembali sambil menunjuk jam tangan tersebut.
’Yang itu?’’tanya Bunda.
”Iya,” jawab Putri singkat. Setelah membayar di kasi mereka pun pulang.

Sesampai di rumah, Putri segera menbungkus jam tangan tersebut dengan kertas kado kesukaannya. Putri membungkus dengan sepenuh hati, karena hadiah itu untuk sahabat kesayangannya. Selesai membungkus kado, Putri langsung mempersiapkan diri untu pergi ke pesta ulang tahun Wijay. Putri bingung harus mengenakan pakaian yang mana.

”Bundaaa,” teriaknya.
”Ada apa Put?” tanya Bunda tergopoh-gopog mendekati Putri.
’Bundaaa, Puti tak mengerti harus memakai baju yang mana?” keluh Putri.
“Gunakan saja yang menurutmu layak untuk di pakai” saran Bunda tersenyum.

Putri pun tak mengeluarkan sepatah kata pun lalu memikirkan maksud Bundanya tadi. Mungkin memang aku harus mengenakan apa yang selayaknya, lalu tersenyum. Tak lama kemudian Putri mengambil baju berwarna putih, celana jeans hitam dan kerudung hitam. Setelah menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Putri langsung mandi dan kemudiann langsung berangkat ke rumah Wijay.

Sesampai di rumah Wijay,  ternyata sudah banyak yang datang.

”Putri,” panggil seseorang. Putri pun langsung mencari siapa yang memanggilnya tadi.Ternyata ia adalah teman sekelasnya, Nikmah.
”Ehh kamu Kem?,” tanya Putri.
“Ahh Nikem terus? jelek tau!,” sungguh Nikmah kesal.
”Iya iya deh, ada apa?” Tanya Putri.
”Tidak cuma mau nanya kamu kasih hadiah apa ke Wijay?”  
”Emm? Ada deh, kepo banget sih,” ledek Putri.
”Yee, cuma nanya saja kok pelit sih!,” celetuk Nikmah.
”Privasi dong, ”ucap Putri berbisik.  Nikmah punpergi meninggalkannya.
Putri mencari Wijay kesana kemari, namun tak ada hasil. Lelah pun menghampiri, akhirnya Putri memutuskan untuk duduk di bawah pohon mangga.
”Nih minumnya,” seseorang menyodorkan minuman tepat di depan muka Putri. Putri kaget, ternyata itu adalah Wijay.
”Huuuu Wijay ngagetin aja!” gerutu Putri.
’Iya maaf maaf,” ucapnya meminta maaf.
”Iya deh gak apa apa. Nih kadonya,” celetuk Putri.
”Wahh…terimakasih sahabatku,” sambut Wijay tersenyum manis.
”Sama-sama.,” balas Putri sambil menyulurkan lidahnya.
”Jelek,” goda Wijay.
”Oh gitu, ya sudah aku pulang!” ucap Putri ngambek.
”Jangan, ... jangan dong, aku kan cuma bercanda”

Putri tak membalas perkataannya lagi, iya hanya diam, diam dan diam. Saatnya acara tiup lilin.Wijay sudah bersiap di depan kue ulang tahunnya. Semua teman temannya serempak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Wijay. Setelah acara tiup lilin selesai, kini saatnya first cake.Ya! Wijay memberikan first cake itu untuk Bunda tercinta. tak lupa Wijay ucapkan terima kasih atas kehadiran teman teman di acara pesta ulang tahunnya.

Sebelum acaranya selesai, Wijay memberi pengumuman lewat pengeras suara.”temam teman,ini hari ulang tahunku yang sangat amat special. Karena di acara ulang tahunku sekarang ini, sahabat kesayanganku hadir di sini”

Wijay tak meneruskn ucapannya, sejenak diam mematung dan tiba tiba ia Putri memanggilnya dengan suara agak nyaring.

”Hah?’’ ucap Putri tercengang dan semua mata langsung tertuju pada Putri yang berdiri di samping Nikmah.
”Sini Put, maju ke depan,” panggil Bunda Wijay.
”Apaan sih Jen? Kok aku?,” tanya Putri tak mengerti.
”Kok Jen? Apa  lagi itu?” Wijay berbalik tanya.
”Jen…Wijen. Hahaha,” Putri tertawa geli.
“Huhh dasar Siput,” balas Wijay sembari menjulurkan lidahnya.
’’Loh? kok Siput?” Putri penasaran.
”Yoi, si Putri. Hahaha,” Wijay tertawa
”Ah, sudahlah,” ucap Putri lemas.
”Hahaha, mulai sekarang aku panggil kamu siput,” kata Wijay.
”Okee, aku juga panggil kamu Wijen!” balasnya tak mau kalah juga.
”Baik, Siput dan Wijen,” Wijay menandaskan, “Bagaimana teman-teman? Sah?”
.”Hahahaha, itu konyol!”

Tawa membahana memenuhi ruangan itu. Bunda Wijay dan Putri tak mampu menahan tawa karena Wijay dan Putri telah memberikan nama baru untuk nama persahabatannya. Sejak peristiwa konyol di hari ulang tahun Wijay, Putri lebih sering dipanggil Siput dan Wijay dengan nama baru pula yakni Wijen. Bagi teman-temannya Siput dan Wijen adalah lambang persahabatan abadi.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 6487003201738221084

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item