Sikap Pengapresiasi Sastra


Djoko Saryono

Sikap pada umumnya dipandang mendasari perilaku termasuk sikap pengapresiasi sastra akan mendasari perilakunya. Sikapnya terhadap karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra akan mendasari perilakunya terhadap karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku pengapresiasi pada umumnya merupakan pencerminan sikapnya. Oleh karena itu, sikap dan perilaku pengapresiasi sastra penting ditumbuhkan dan dikembangkan dalam pengembangan apresiasi sastra.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sikap merupakan kecenderungan jiwa atau budi untuk mendekati atau menjauhi suatu objek. Di dalamnya terkandung unsur perseptual, emosional, dan motivasional atau unsur budi dan rasa. Ini menunjukkan bahwa sikap dibentuk oleh unsur-unsur penalaran, pemikiran, dan perasaan atau unsur kognitif dan afektif; bukan semata-mata perasaan atau afektif. Lebih jauh hal ini menunjukkan bahwa sikap merupakan kualitas psikologis dalam berhadapan dengan suatu objek. Harus dipahami, kualitas psikologis ini dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan budaya karena objek sikap terikat konteks sosial dan budaya. Karena itu, sikap bukanlah bermatra psikologis semata-mata, melainkan juga bermatra sosial-budaya

Sejalan dengan itu, dapat dikatakan bahwa sikap pengapresiasi sastra merupakan kecenderungan pengapresiasi sastra untuk mendekati dan menggauli atau menjauhi karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra. Kecenderungan pengapresiasi sastra untuk mendekati dan menggauli karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra dapat disebut sikap positif. Sebaliknya, sikap negatif merupakan kecenderungan pengapresiasi sastra untuk menjauhi karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra. Sebagaimana sikap pada umumnya, baik sikap negatif maupun sikap positif pengapresiasi sastra juga bermatra psikologis dan sosial budaya. Ini berarti sikap negatif atau positif pengapresiasi sastra ditentukan oleh matra sosial-budaya meskipun merupakan matra psikologis.

Dalam apresiasi sastra, tentulah sikap positif pengapresiasi sastra yang diperlukan. Dengan sikap positif pengapresiasi sastra kegiatan-kegiatan apresiasi sastra dapat berlangsung, tumbuh dan berkembang secara baik, dan meningkat secara bermakna. Dikatakan demikian karena sikap positif pengaresiasi dapat membentuk suatu suasana atau atmosfer dan lingkungan yang kondusif yang menunjang kegiatan-kegiatan apresiasi sastra. Sebaliknya, sikap negatif pengapresiasi sastra akan menghambat, malahan dapat merusak kegiatan apresiasi sastra karena sikap negatif pengapresiasi justru menciptakan suasana dan lingkungan yang tidak baik untuk kegiatan apresiasi sastra. Jadi, yang dibutuhkan dalam apresiasi sastra supaya dapat tumbuh, berkembang, dan meningkat serta terpiara baik adalah sikap positif pengapresiasi sastra.

Sikap negatif pengapresiasi sastra dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut. Pertama, ketidaksenangan, ketidakgemaran, dan ketidaksudian membaca karya sastra, menyimak orang membaca sastra, mengikuti kegiatan-kegiatan apresiasi sastra, dan mendorong atau menyemangati diadakannya kegiatan-kegiatan apresiasi sastra. Misalnya, Rindang Kasih tidak senang, tidak gemar, dan tidak sudi membaca novel-novel, puisi-puisi, dan naskah-naskah drama seperti novel Senja di Jakarta (Mochtar Lubis), puisi Daerah Perbatasan (Subagio Sastrowardojo) dan Sumur Tanpa Dasar (Arfin C. Noor). Dia juga tidak senang, tidak gemar, dan tidak sudi menyimak pembacaan puisi atau cerpen dalam lomba-lomba baca sastra dan mengikuti kegiatan-kegiatan apresiasi sastra seperti lomba baca puisi dan sarasehan sastra. Malah dia menunjukkan rasa tidak senang, tidak gemar, dan tidak sudi bila sekelompok anak muda (berupaya) menyelenggarakan lomba baca cerpen, sama sekali tidak mendorongnya. Ini semua ciri sikap negative Rindang Kasih sebagai pengapresiasi sastra.

Kedua, ketidakacuhan, ketidakpedulian, dan keapatisan terhadap karya sastra, orang-orang yang meminati karya sastra, kegiatan-kegiatan apresiasi sastra, dan orang-orang yang melakukan kegiatan apresiasi sastra. Sebagai contoh, Kilau Mentari tidak acuh, tidak peduli, dan apatis (i) atas terbitnya novel Burung-Burung Rantau (Y. B. Mangunwijaya), (ii) terhadap Ikram Wibisana yang suka membeli buku sastra, (iii) atas diselenggarakannya Malam Chairil Anwar atau Hari Puisi Indonesia, dan (iv) terhadap Hening Kusuma Hati yang membaca puisi Nyanyian Angsa (W.S. Rendra) dan Amba (Laksmi Pamuntjak). Keempat hal ini merupakan ciri sikap negatif Kilau Mentari dalam apresiasi sastra.

Ketiga, peremehan, penyepelean, dan pelecehan manfaat dan nilai guna karya sastra dan kegiatan-kegiatan apresiasi sastra. Karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra dianggap remeh dan sepele, malah dilecehkan manfaat dan nilai gunanya. Membaca karya sastra, misalnya petikan novel Cala Ibi karya Nukila Amal, dianggap membuang-buang waktu, melarikan diri dari kenyataan-kenyataan hidup, dan pekerjaan sia-sia. Begitu juga kegiatan-kegiatan apresiasi dianggap pekerjaan percuma, sia-sia, dan tak menghasilkan apa-apa. Contohnya sebagai berikut. Rindang Kasih selalu beranggapan bahwa dewasa ini hanya ekonomi dan teknologi yang layak ditekuni, dipelajari, dan dicurahi waktu karena memberikan manfaat dan nilai guna nyata dalam kehidupan manusia. Dia beranggapan karya sastra dan kegiatan-kegiatan apresiasi sastra ditinggalkan saja karena tidak memberikan apa-apa, hanya menghabiskan waktu saja dan membuat manusia melamun saja. Ini merupakan sikap negatif Nurani Rindang Kasih dalam apresiasi sastra.

Ketiga hal tersebut merupakan ciri dominan sikap negatif pengapresiasi sastra dalam apresiasi sastra. Ciri-ciri tersebut perlu diubah ke arah yang positif atau baik demi tumbuhnya, berkembangnya dan meningkatnya apresiasi sastra. Bagaimanakah ciri-ciri positif sikap pengapresiasi sastra?

Sikap positif pengapresiasi sastra dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut. Pertama, kesenangan, kegemaran, dan keantusiasan membaca karya-karya sastra, menyimak pembacaan-pembacaan karya sastra, mengikuti kegiatan-kegiatan apresiasi sastra, dan memberikan semangat kepada orang lain supaya menyelenggarakan kegiatan apresiasi sastra. Contoh ciri-ciri ini sebagai berikut. Hening Ambaring (misal) setiap minggu selalu membaca satu karya sastra, pada hari ter-tentu mendengarkan acara pembacaan puisi di salah satu radio swasta niaga, selalu berusaha hadir pada berbagai kegiatan lomba baca sastra dan sarasehan sastra, dan selalu mendorong teman-teman dekatnya untuk secara rutin mengadakan dialog sastra dan budaya. Ini semua merupakan ciri sikap positif Hening Ambaring dalam apresiasi sastra.

Kedua, keacuhan, kepedulian, dan kesimpatikan terhadap karya sastra, kegiatan-kegiatan apresiasi sastra, orang-orang yang meminati karya sastra, dan penyelenggaraan kegiatan apresiasi sastra. Contohnya sebagai berikut. Gilang Jemparing (sebagai misal) memerhatikan dan memantau karya-karya sastra yang terbit setiap tahun, memberikan sanjungan dan rasa salut kepada orang-orang yang rajin membaca karya sastra, berusaha mendatangi dan menyatakan simpati bila ada sarasehan sastra dan lomba baca cerpen, dan merasa tenang dan bahagia bila ada orang menyelenggarakan lomba baca cerpen atau bercerita. Ini dapat disebut sikap positif Gilang Jemparing dalam apresiasi sastra.

Ketiga, keyakinan, kepercayaan, dan keoptimisan akan manfaat dan nilai guna karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra. Di tengah kehidupan materialistis dan ekonomis, karya sastra dan kegiatan-kegiatan apresiasi sastra diyakini, dipercayai, dan dioptimalkan manfaat dan nilai gunanya: membaca karya sastra, menyimak pembacaan sastra, mengikuti sarasehan sastra, lomba membaca puisi, dan sejenis bermanfaat dan bernilai guna bagi hidup dan kehidupan. Contohnya sebagai berikut. Hening Lokasemesta (misal) setiap minggu membaca satu novel dan sering menyimak pembacaan puisi dan cerpen di berbagai tempat karena yakin, percaya, dan optimis apa yang dilakukannya dapat menenangkan dan memekakan batin dan sukmanya. Andaikan tidak demikian, dia yakin dan percaya hidupnya tidak sebermakna sekarang. Ini dapat disebut sikap positif Hening Lokasemesta dalam apresiasi sastra.

Keempat, kesungguh-sungguhan, keintensifan, dan ketotalan bergumul dan berlibat dengan karya sastra dan kegiatan-kegiatan apresiasi sastra. Ini ditandai oleh kepenuhan perhatian, perasaan, emosi dan pikiran dalam membaca karya sastra, menyimak pembacaan sastra, mengikuti sarasehan sastra, menunjang lomba-lomba membaca cerpen, dan sejenisnya. Contohnya sebagai berikut. Aulia Muhammad selalu tenang-diam, tidak gaduh, setiap menyimak orang membaca puisi, memusatkan segala perasaan dan pikiran dalam sarasehan sastra, dan menyumbangkan daya dan dana setiap diselenggarakan acara baca cerpen di kampusnya. Ini dapat disebut sikap positif Aulia Muhammad dalam apresiasi sastra.

Kelima, kemauan, kesiapan, kesediaan, kespontanan dan kesigapan memberikan penjelasan mengenai manfaat dan nilai guna karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra. Contohnya sebagai berikut. Ketika mendengar ada orang yang menyepelekan dan meremehkan manfaat dan nilai guna karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra dalam hidup sehari-hari, secara spontan dan serta-merta Nabila Kinasih menyatakan mau, siap dan sedia memberikan penjelasan kepada orang yang bersangkutan mengenai manfaat dan nilai guna karya sastra dan kegiatan apresiasi sastra dalam hidp sehari-hari. Ini dapat disebut sikap positif Nabila Kinasih dalam apresiasi sastra.

Kelima hal tersebut di atas merupakan ciri utama sikap positif pengapresiasi sastra dalam apresiasi sastra. Ciri-ciri sikap positif tersebut tentulah perlu dipupuk, dikembangkan, dan dipiara agar apresiasi sastra dapat tumbuh, berkembang, dan meningkat mutu dan kadarnya. Keterlibatan penuh dan keintensifan bergumul dalam dunai sastra dapat bermanfaat bagi apresiasi sastra.

Tulisan bersambung:

  1. Makna Apresiasi Sastra
  2. Pokok Persoalan Apresiasi Sastra
  3. Wilayah Garap Apresiasi Sastra
  4. Status Kehadiran Apresiasi Sastra
  5. Tujuan Apresiasi Sastra
  6. Fungsi Apresiasi Sastra
  7. Keterpaduan Fungsi Apresiasi Sastra
  8. Kehadiran Apresiasi Sastra 
  9. Prasyarat Keberlangsungan Apresiasi Sastra  
  10. Keanekaragaman Proses Keberlangsungan Apresiasi Sastra
  11. Yang Memengaruhi Apresiasi Sastra 
  12. Proses Keberlangsungan Apresiasi Sastra
  13.  Keidiosinkretisan Dan Kemomentanan Apresiasi Sastra  
  14.  Jati Diri Pengapresiasi Sastra  
  15. Keragaman Pengapresiasi Sastra 
  16. Bekal Dasar Pengapresiasi Sastra 
  17. Sikap Pengapresiasi Sastra 
  18. Pemupukan Sikap dan Perilaku Positif Apresiasi Sastra (1)
  19. Pemupukan Sikap dan Perilaku Positif Apresiasi Sastra (2)



POSTING PILIHAN

Related

Utama 3376404341527408989

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item