Sebelas Menit Waktu Kritis



Cerpen: Nur Kholilah Mannan

Critical Eleven, begitu kiranya istilah paling tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Berbicara di depan ratusan kepala dengan seluruh pandangan hanya tertuju padaku, setelah beberapa detik mata mereka beralih dari moderator yang membacakan Kurikulum Vitaeku dan mempersilahkan aku menyampaikan materi.

Sedetik dua detik aku terdiam menetralisir adrenalin yang mulai naik turun, membuat tubuhku terasa panas namun kedinginan, peluh mulai mengalir di tengkuk belakang pertanda aku sedang grogi berat. Bagaimana tidak? Baru seminggu lalu aku diminta berbagi pengalaman literasi dengan adik-adik mahasiswa di Perguruan Tinggi ternama di kotaku, Universitas Wiraraja. Ini karena tahun lalu aku meraih lima besar Ubud Village Jazz Festival 2019.

Meski sudah lama aku bergelut dengan literasi tidak lantas membuatku pede berbicara di depan publik, hal ini berbeda dengan kemampuan lain, harus sering dilatih agar menjadi kebiasaan kemudian tidak lagi mengalami Critical Eleven.

Oya, biarkan kuberi tahu kalian yang belum mengenal Critical Eleven, ini adalah istilah dalam dunia penerbangan yang menggambarkan waktu kritis di sebelas menit, tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Di waktu-waktu ini biasanya para pramugara maupun pramugari akan menyibukkan penumpang dengan peringatan memakai sabuk pengaman, masker oksigen, baju pelampung, kartu keselamatan dan jalur pintu evakuasi serta rakit keselamatan. Tujuannya mengalihkan ketegangan para penumpang dengan hal yang informatif.

Oke, biar kujelaskan lebih lanjut di lain waktu.

Sekarang aku akan fokus pada mic di tanganku, mengucapkan salam pada mereka dan mulai basa-basi tak lain untuk menutupi kegugupanku. Tapi tetap saja di sebelas menit pertama ini aku tetap gugup meski kata seorang teman selepas acara aku nampak biasa saja layaknya politikus berorasi saat kampanye persis seperti biasa aku berbicara, berapi-api.

Aku lanjutkan dengan pertanyaan mengapa mereka berminat pada dunia tulis-menulis. Satu mahasiswa berdiri dan menjawab

“Saya ingin abadi,” mahasiswi di pojok ruangan menjawab dengan tegas penuh keyakinan

“Saya ingin meniru para ulama yang menghasilkan banyak karya,” kata mahasiswa yang memakai jasket abu tua juga berdiri, sepertinya ia agak ragu dengan jawabannya

“Saya ingin menghasilkan uang dari tulisan saya”.

“Oke, tepuk tangan untuk semua tujuan setiap kalimat kalian”

Menit keempat, kegugupanku berkurang karena mendapat feedback dari audiens yang artinya mereka rensponsif terhadap kalimat pembukaku. Konon, semua kata pembuka baik tulisan atau pembicaraan adalah penentu ketertarikan pembaca/pendengar sampai akhir kata. Mas Iqbal pernah bercerita saat pelatihan menulis, seorang penulis (aku lupa siapa namanya) rela berhari-hari hanya berkutat pada halaman pertamanya. Bukan hanya, karena ia adalah kunci apakah halaman selanjutnya akan dibaca atau tidak. Setelah 75% yakin pada halaman pertamanya, barulah ia melansirnya.

Kukatakan pada mereka, khususnya untuk mahasiswa yang terakhir berdiri. Bahwa tujuan langkah kita tak harus mulia versi agama sedari awal. Syekh Az-Zarnuji penulis kitab Ta’lim Muta’allim pernah berkata, banyak perbuatan yang nampaknya duniawi tapi sesungguhnya bernilai ukhrawi dan sebaliknya banyak juga perbuatan yang secara kasat mata ukhrawi namun aslinya duniawi. Yang menentukan adalah niat.

Kau pernah melihat seorang lelaki salat di masjid, saat itu ia bersama dengan seorang bapak yang dua hari lagi akan menjadi mertunya, ia salat dengan menunduk seakan merapal doa dengan begitu khusuk padahal tujuannya hanya untuk meyakinkan bapak itu bahwa ia lelaki yang tepat untuk putrinya. Bukankah itu duniawi yang bertopeng ukhrawi? Kau juga pernah lihat  atau mengalami seorang yang mencari rupiah sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Uang bersifat duniawi tapi ia bisa berubah nilainya menjadi ukhrawi saat diniatkan untuk kepentingan keluarga, untuk sekolah anak, pengobatan bapak-ibu dan lains sebagainya.

Selanjutnya aku bercerita pada mereka tentang motivasi menulis, tantangan dan masa depan penulis di masyarakat. Banyak hal yang berubah karena tulisan. Saat menjadi relawan literasi aku pernah diajak menemani seorang pengacara dari pelaku tindak pidana narkoba, ia menyodorkan koper kecil berisi uang 100.000.000. Ya, sejumlah uang yang tak pernah kulihat sebelumnya, kuperhatikan lagi jumlah nolnya, benar, seratus juta rupiah. Lumayan menggiurkan untuk ukuran diriku yang masih pengangguran. Tawarannya sederhana, mengubah teks hukum untuk meringankan hukuman pelaku tindak pidana tersebut. Tanpa piker panjang aku menjawab dengan tegas “Tidak, guruku selama ini tidak pernah mengajariku demikian”  

Tak terasa sudah menit ke empat puluh. Ternyata benar belajarmu tak akan sia-sia, jika tak berguna sekarang, besok atau lusa, ia akan muncul saat kau membutuhkan. Seperti saat ini di atas panggung, mustahil mempersiapkan materi seminggu sebelum hari H, nyatanya yang berguna adalah pengetahuanku belasan tahun silam.

Di akhir acara entah sudah menit ke berapa aku tak menyadarinya, tidak seperti sebelas menit pertama tadi- sesi diskusi berjalan lancer dan asyik. Materi yang kusampaikan bukan hanya tentang literasi tapi tentang kehidupan yang harus selalu bergerak maju menjadi pribadi tangguh dan unggul sebab dunia tak akan melihat orang yang biasa-biasa saja, pilihannya hanya dua, menjadi unggul di atas rata-rata orang-orang sekitarmu atau tertinggallah sekalian agar kau dilirik sebagai sosok yang patut dikasihani. Oh no.

*****

Nur Kholilah Mannan, lahir di Sumenep 4 Januari 1994. Melewati masa kanak-kanak dengan riang gembira tanpa TK krn belum ada TK d desa saya. Lanjut di MI Nurul Islam (2006), lalu diuzlahkan ke pondok Al-Amien Prenduan Sumenep (2012), tak puas di satu guru berpindah ke pondok Salafiyah Syafiiyah Situbondo (2020). Sekarang ikut-ikutan para senior aktif di Rumah Literasi Sumenep.



POSTING PILIHAN

Related

Utama 7754099726488892016

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item