Sajak-Sajak Raudlatul Makiyah dalam “Cermin Tak Berbayang”


Raudlatul Makiyah.
Dia adalah seorang wanita yang lahir di tanggal empat belas bulan enam tahun seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan. Panggilan sayangnya adalah Kiki. Selain menulis dia juga senang traveling dan memiliki hobby membaca. Dia senang sekali menulis fiksi, baginya fiksi merupakan tempat untuk bercurhat. Dia bertempat tinggal di Jalan Trunojoyo Desa Kolor-Sumenep tepat di jantung kota. Sekarang Dia mengabdi di Lembaga SMPIT AL-HIDAYAH Sumenep dan sudah bergabung menjadi anggota Rulis Sumenep. Karyanya yang masih seumur jagung sudah terbit dalam bentuk antologi, baik bersama maupun secara mandiri. Diantaranya “ Goresan Pena Guru Bahasa Kala Pandemi Korona”, “ Kisahku di Masa Pandemi “, “ Surat Untuk Ibu”, “ Perahu Kehidupan”, “ Rindu”, dan buku  kumpulan puisi terakhirnya “Cermin Tak Berbayang” (September 2020)

*****

Kelabu

Bukan mimpi yang ingin ku bangun
Nyata yang kokoh berpelupuk rindu
Mengernyitkan harapan palsu
Purna dalam lingkaran setan

Tertusuk hingga relung dada
Menapaki galian jalan kesucian
Tak mampu membendung aura kegelisahan
Yang akan musnah dalam dua musim

Kemaraumu sungguh indah
Hingga panahan sakit ini biru menganga pilu
Tertaburi ludah jingga sang penguasa
Mati di tengah parau musim gugur

Lihai jerarimu mengelus dada
Terpanah kaku dalam cerita maya
Hingga lebah tak tampak menghisap madu
Dan kupu-kupu menghisap bunga layu

Sungguh kelabu kehidupan ini
Malam tanpa cahaya terang
Terlena dengan kerlipan bintang
Hingga berteduh menghela nafas biru

Terengah dalam ketidak pastian
Melepuh dalam rindu diri
Berkolaborasi asa dan rasa
Mengubah kelabu menjadi merah terang



Amunisi Bathin

Selangkah maju menuju terang
Menyelami deretan hijaiyah
Teranalisis dalam benak merona
Menuai tuntas sahaja
Menyusuri jejak tingkahmu
Melambaikan kemenangan
Damai diri tak teragukan
Dingin hati menanti sukses
Paras meronamu menuntut ilmu
Membangkitkan nafsu batin
Menghias amunisi bak bunga mekar
Harum menyengat kalbu
Kau terus berlari mencari amunisi bathin
Hingga kolam ilmu kau penuhi ikan
Bermacam warna
Bentuk tujuh koma lima dimensi
Boneka Kemarahan

Jangan kau ukir aku dalam memorimu
Hingga hentakan jiwa ini memar
Melontarkan sunggingan rasa
Melepuh dalam lampion bekasmu

Aku bukan boneka kemarahanmu
Yang kau tarik ulur dengan rasa
Meniupkan kebosanan dengan lembutku
Menyodorkan luka ketidak pastian

Gemuruh itu terus kau gaungkan
Melemahkan citra rasa aroma kelaten
Hingga tiupan baunga menyerang keputus asaan
Meneparkan semangat juang keilmuan

Bonekamu sudah lenyap terkikis waktu
Musna terbawa sejarah
Jejaknyapun hilang tak berbekas
Hingga tinggal nama terpampang kaku



Setangkai Harapan

Ku mulai taburi ruang hampa ini dengan aroma doa
Ku terus lantunkan syair ini dengan isyarat kata
Ku lemparkan ketidak puasan ini dengan tangisan malam
Ku telusuri semangat juang ini dengan setangkai harapan

Gemuruh kerinduan mulai bersua
Mengantarkan kegelisahan pada kamar tak berpenghuni
Mengepakkan bantal guling dan selimut
Menorehkan kegalauan dalm hantaran kasur

Ayat –ayat berdatangan memintaku ikut bernyanyi
Melunglaikan asa tanpa rasa
Menelusuri mahligai harapan
Hingga aku tertunduk kaku memantrakan deretan surat

Setangkai harapanku
Setangkai doaku
Setangkai rinduku
Setangkai kebahagiaanku
Hanya untuk Mu



Disini Karena Cinta

Sinar lelah di pelupuk mata semakin tampak
Tuangan kerdip memuncar air mata yang jatuh
Raut merunduk tak kuasa menahan letih dan beranak pinak
Hingga cucunya terus meraung kesakitan
Sakit yang tergambar di sudut sketsa raung rehatmu

Sayang,
Lelah ini milik kita
Kita yang terus terjun dalam dakwah cinta
Menyuburkan mimpi dari berjuta mimpi yang mampu menuai gambar dari sketsa tawa dunia akhirat
Itulah arti "disini karena cinta"
Cinta yang akan membawa kita ke syurgaNya.


Tentangmu

Ketika gemericik air mata mengaliri jiwamu yang sesak
Bendunglah dengan rentetan do'a
Peluklah kekosongan dengan keyakinanmu
Lemparkan semua kegundahanmu bersama musim
yang tak pernah akan kembali
Sambutlah musim baru dengan kapas putih tak bernoda
Hilang penat harapanmu adalah takdir
Takdir yang tak bisa kau eja dengan angka dan huruf
Lirik auramu mengantarkanku melonjak pada dunia yang biru
Yang kau buat dengan warna pelangi

Sabarlah wahai saudaraku
Setiap kegundahanmu sekarang akan indah pada waktunya
Dengan dzikir bibirmu yang tak kan pernah pudar oleh waktu
Senyumlah di setiap langkahmu
Ukir kebahagian itu dengan ketabahan dan keikhlasan
Yakinlah pada jiwa yang tenang akan terdapat jiwa yang kuat
Jangan biarkan kelabumu berubah hitam pekat tak berbentuk
Menerjang kleopatra masa depan yang telah kau bangun
Bangkitkan semangat juang mu melawan segala melankolis dalam jiwa ragamu

( Salam Satu Jiwa )

*****

Puisi-puisi diatas terakum dalam buku kumpulan puisi “Cermin Tak Berbayang” (Penerbit: Rumah Literasi Sumenep, September 2020)



POSTING PILIHAN

Related

Utama 1682683829134272936

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item