Puisi Joko Rabsod Pamekasan


J
oko Rabsodi, Lahir di Pamekasan, 11 Juni 1981. Kini tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura. Karyanya terbit di beberapa media massa nasional seperti Horison, Bali Post, Pikiran Rakyat, dan lain-lain. Puisi terbarunya terkumpul dalam antologi “Palestina dan Humanity” terbit bulan Agustus 2021. Pernah juara III dalam LMKS (Lomba Mengulas Karya Sastra) yang dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional 2007. HP: 087866146509. Email: nikmahsyukuri@gmail.com.


*****

Ada Hati Yang Tersiksa

Tivani, surat-surat  darimu masih rapi tertata
meski  isinya serupa keranda berantakan
aku datang padamu untuk mengemas rindu dan
berusaha bicara beberapa saat, namun ujungnya
tenggang waktu meneriakkan rasa sakit yang amat dalam
andai engkau mengerti saat itu tak seharusnya kau bawa dupa
demi membungkam dadaku yang runtuh
keyakinan untuk saling melipat rasa barangkali bisa dipertaruhkan
seandainya  keputusanmu tetap tinggal di kota ini
biarkan samudra surut, angin dan topan derukan kabut
mereka takkan setuju ada hati tersiksa di malam larut

Tivani, kini kau biarkan aku dalam beku yang pilu
menjelang cinta patah dipelupuk kamboja
kucoba pejamkan bayangmu di pucuk kemarau
agar hujan pekan nanti tidak lahir dari airmata
rasanya percuma, gemuruh yang diam-diam kuusung dari gerimis
ternyata menjelma banjir bandang yang mengerikan
bagaimana aku akan berlayar menjemput wajahmu
kalau di atas permukaan air itu kau undang beribu gelombang?

Tivani, tidakkah kau iba melihat jerih payahku
menjadikan namamu taman agar dapat tumbuh
bunga-bunga dalam jantung
kulepas burung-burung dan kuselipkan rindu
agar berderai di tiap helai mimpimu
lantas dengan cara apa menggetarkan daun seroja
untuk membujuk kesediaanmu?
Sudah aku merasa  putus asa
maka kubiarkan melati menghias diri
menanti kekasih di gerbang suci
barangkali dirimu hadir merubah pikiran
seraya menyambutku, “aku masih menyimpan fotomu!”

Madura, 02 agustus 2021


Malaikat Akan  Malu Bertanya

Belum usai luka sudah kusemai airmata
kembali kuhisap pahit empedu di luar gerimis
kenangan yang kupupuk rindu
menjelma derap cuaca yang asin
cemas makin merayap karena tak jelas
kemana kutuangkan kecamuk setelah kepergianmu nanti

Kawanku, Ra.Thohir
mata masih hangat memelukmu
tangan ini masih dahaga mengelus pecimu
sayang keburu kau bawa keteduhan jiwa
dalam aroma surga yang kau titipkan
jangan tanyakan lagi tentang luka
karena takkan ada lagi hujan yang bisa dideraskan langit
sebab langit sendiri kehilangan luas dan pecah diantara
gelombang doa yang disulut

Kawanku, Ra.Thohir
kelak bila matahari angslub ke dasar mahsyar
sudi kiranya kenalkan aku pada Rasulmu
antologi cinta yang kuserat barangkali tak mampu
menggetarkan nahkoda
aku ingin terus bersamanamu, meski hari ini
hilang langkah
bukan apa-apa, aku terlanjur menyiapkan rebana
untuk menarasikan rindu

Ra. Thohir, kawanku
selamat menikmati cinta abadi
aku takkan bertanya bekal menuju baka
karena malaikat pun juga malu untuk bertanya


Pamekasan, 29 Juli 2021





Waktu

“Aku senang membaca surat-suratmu
meski tak pernah kau kirim untukku”, tukasmu

Kepercayaan yang kukemas diam-diam
hangus seperti sepetak daun terinjak
kemarau

Aku laki-laki yang belum birahi menafsirkan
selokan waktu
apalagi menggagahi wajahmu yang belum
sempurna menurut ukuran spesiesmu

Beri aku kesempatan untuk datang dan berteduh
di lubuk matamu, kutanam sisa cinta
yang kubayangkan tengah paruh baya
di batinmu bakal kucipta senja yang sulit
terhapus walau pada akhirnya aku harus jatuh

Beri aku ruang mengendapkan hatimu
ke tengah wajahku
“cinta tak mengenal kasta”, tapi kenyataannya
sebagai laki-laki tak pernah paham bagaimana melukis
seluruh musim diantara kedua bibirmu
¬
Izinkan aku berfikir meski keterbatasan
dan kelimpahruahan sulit diputuskan
untukmu!
 

Madura, 27 Juli 2021




Nasehat  

Jauh menjemput, terluka mengingat usia cinta
geger. Kemarahan itu nasehat tak semestinya
menimpa luka di dada kirimu

Apa kurangmu, anakku
hari bagimu tentu getir
akan ketidaksempurnaan
aku lupa, engkau manusia
kenakalan suatu anugerah agar aku
mampu menggelar status ayah
rintihmu terkait uang jajan merupakan
hidup yang sewajarnya
tak perlu menambah darah

Sempat berjanji pada tuhan
sekali lagi aku khilaf, aku bukan harddisk
bisa mengingat apa yang dijanjikan

Seberapa besar kilahmu, seyogianya
kupuja dengan bunga. Kuhampiri setangkai asa
sebab kau mutiara yang kusimpan dalam tungku

Pamekasan, 26 Juli 2021




Temui Tuhanmu Malam Ini
- ila

Kuintip senyum masih sumbing
sebab putri bungsunya berenang di telaga
    “terima kasih, ma. kau buatkan aku kolam
    untuk sampai ke negeri tuhan”.
    
Temanku, tutuplah airmatamu
urailah malam ini menjadi sajadah
atau pun tasbih agar engkau ranum
memandangi putrimu yang bermain
di tanah jauh
ia tidak sendiri teman, ada dzikir terbungkus
melambai disetiap jengkal kafan
putrimu akan baik-baik saja meski salak anjing
merobek telinga dan pikiranmu

Berapa banyak helaan yang akan engkau
dustakan bila maklumat ini engkau ingkari
qodar dan ikhtiar dua sisi yang kadang rumit
kita celupkan dalam mimpi

Teman, tidak semua luka adalah perih
bila kita mampu membalutnya dengan sunyi
segala desah yang mewabah
sebenarnya kealpaan yang mendidih
temui tuhanmu malam ini, hanyutkan
segenap gerah dalam telagaNya
barangkali putrimu sedang berdandan disana

Madura, 25 Juli 2021


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2012966565537854529

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item