Pelangi Tak Sempurna


Cerpen:  Raudlatul Makiyah

Senja di kelopak matamu mulai mengisyaratkan bahwa ada rindu yang tertanam di dadamu. Pucuk senyum itu tidak lagi terpancar megah dan beredar luas sembari gerakan hatimu yang semakin terikat kata rindu. Mungkinkah itu pertanda emosimu akan kembali berkelana? pertanyaan hatiku mulai mengumbar. Kau yang diseberang sana sudah membuatnya mengubah keasyikan dunianya.

“Kau menangis ?” tanya seorang wanita separuh baya yang tak lain adalah ibunya sendiri.

“Tidak, saya hanya kelilipan bu,” jawab gadis belia sembari menutupi rasa rindu yang mulai menyelimutinya.

Gadis itu bernama Alya, yang baru seminggu lalu ditinggal suaminya merantau ke negeri sebrang. Dia menikah satu bulan yang lalu, tapi terpaksa harus meninggalkan keluarganya lantaran harus melunasi hutang mertuanya yang tak kunjung lunas karena rentenir terus menaikkan bunganya. bagaikan pungguk merindukan bulan, itulah harapannya dalam melunasi semua hutangnya.

Dengan usianya yang masih belia, Alya harus mengorbankan masa remajanya untuk segera menikah karena jika tidak, dia akan dinikahi oleh rentenir yang sudah berusia lanjut.

Arya suami Alya adalah sepupu dari ayah alya yang tak lain dia adalah paman Alya. Namun,  jarak usia mereka tidak terlalu jauh, yakni hanya lebih tua 7 tahun dari Alya. Mereka dijodohkan karena orang tua Alya tak rela anaknya dinikahi si rentenir yang sudah berusia lanjut. Hutang keluarganya bermula sejak ayahnya sakit-sakitan dan terus berlanjut hingga beliau tutup usia. Ibu alya yang hanya seorang buruh kebun tak mampu membayar hutang dalam keluarga tersebut, hingga terpaksa Alya mengorbankan masa depannya untuk menikah dengan pilihan orang tuanya yang tak lain adalah keluarga besarnya juga.

Sudah hampir tiga bulan Arya di negeri seberang, namun hutang itu belum juga terlunasi. Alya sudah tidak bisa lagi membendung kerinduannya pada suaminya. Dia bahkan nekad akan menyusul suaminya kenegeri sebrang. Hanya Ibunya melarang karena Alya ternyata sudah hamil anak pertama. Senyum paginya sudah tak bermekaran karena setiap ayam berkongkok dia harus berjuang menahan mual yag mulai melanda dirinya. Sudah hampir dua bulan Alya berjuang melawan mual yang melandanya.

***

Sudah genap enam bulan kandungan Alya, dan genap juga kepergian suaminya yang sudah 4 bulan tidak ada kabar beritanya. Merundu nasib sang gadis yatim membuat Ibundanya merasa iba, tak tega melihat penderitaan anaknya karena hutang ayahnya yang tak mampu terbayarkan. Pilu itu juga dirasakan adik ipar alya. Aura adalah adik Arya yang sekarang duduk di bangku SMA kelas 3. Alya dan Aura adalah teman sekolah dulu sebelum Alya berhenti karena akan dinikahkan. Mereka dulunya sangat akrab. Kini, Alya sudah tak lagi memikirkan pelangi di Sekolah. Dia hanya mampu meratapi nasibnya yang akan menjadi seorang Ibu meski dia tidak siap dan tidak menginginkannya sekarang.

“ Alya, aku tahu kamu sekarang lagi menahan rindu dan beban kehidupanmu yang semakin memuncak. Tapi aku harap kamu sabar menghadapi ujian hidup ini. Bukankah dulu kamu sering bilang begitu ketika ujian, kita harus bisa menciptakan pelangi dengan warna yang indah untuk menghadapi soal ujian, “ hibur Aura yang melihat Alya semakin hari semakin tertutup dan murung. Alya yang sekarang sudah tak punya siapa-siapa karena Ibunya juga sudah meninggalkannya untuk selamanya dua bulan yang lalu. Setelah menjual ginjalnya untuk melunasi hutang-hutang suaminya.

“ Aura, pelangi itu sudah tak  ada lagi dalam kamus hidupku. Semua sirna pergi bersama masa cerah remajaku,” ujar Alya sambil meneteskan air mata. Alya dulu sangat terkenal dengan anak yang mudah bergaul, ceria, dan cerdas. Namun, semua itu sirna karena hutang ayahnya, sehingga cita-citanyapun musnah seiring dengan pernikahannya.

“ Alya, kamu itu orang yang Tangguh. Aku tahu kamu tidak akan menyerah dengan kondisi ini. Aku tahu suatu saat kau akan bangkit lagi dan kembali mencipta pelangi yang dulu kau pernah buat dibangku sekolah,” Suara Aura terus membujuk Alya agar tidak gampang menyerah dengan kehidupan yang dialaminya sekarang.

Sembilan bulan kandungan Alya, namun Arya juga tidak ada kabar. Alya hanya berharap ada mukjizat pada kehidupannya. Dia hanya berpayung doa dan berbantal ibadah untuk menutupi kesedihannya. Sajadah selalu menemani malamnya. Ketegarannya kembali bangkit setelah ayahnya seakan masuk pada mimpinya dan menangis meminta maaf, karena hutang dialah kehidupan Alya menjadi gelap. Ayahnya meminta Alya agar bisa tegar dan kembali bangkit membangun kehidupan barunya hingga pelangi indah akan muncul bersamanya.

Tiba saatnya Alya melahirkan. Tepat hari Rabu, dimana hari itu sama persis dengan hari pernikahannya. Alya sekarang sudah menjadi seorang Ibu, tanpa ada sosok Ayah di tengah anaknya.  “ Hari rabu saya mulai derita ini, dan hari rabu pula saya harus mengakhiri derita ini,” ujarnya dalam hati. Alya bertekad akan memulai kehidupan baru bersama putri kecilnya. “ Raya adalah nama gabungan antara Alya dan Arya, “ pikirnya dalam hati. Akhirnya Alya dan Raya menjalani hidup berdua. Rajutan kehidupan barunya akhirnya bisa memusnahkan penderitaannya selama ini.

***

Raya sudah berumur tujuh tahun dan tumbuh sesuai usianya. Dia adalah sosok yang kuat, serta tak mudah putus asa. Raya selalu bertanya tentang kehidupan Ayahnya. Namun, Alya selalu menutupinya karena tak ingin kembali membuka catatan kehidupan yang sudah dia tutup rapat. Alya selalu menghibur Raya dengan cerita dan dongeng yang dapat menginspirasi dirinya agar selalu tegar dan kuat dalam menghadapi kehidupan ini.

Pelangi yang Alya ciptakan tak sempurna karena tanpa ada sosok suami yang tak lain adalah sosok Ayah bagi Raya. Namun, pelangi itu terus dirajut hingga kekurangan kesempurnaan warnanya tak lagi tampak. Kehidupan masa lalunya sudah menjadi guru bagi Alya bagaimana menjalankan kehidupan barunya. Alya sudah tak lagi membingkai kebahagiaan dirinya. Dia hanya melukiskan kehidupan Raya agar menjadi kaligrafi yang indah. Penuh dengan sudut, garis, dan gabungannya menghasilkan kesatuan yang bermakna.

Pelangi kehidupan Alya dan Raya menjadi wadah yang menampung segala warna hingga mampu merapatkan keharuman nyata tanpa merusak pelangi orang yang mulai sempurna.

“ Aku tak akan membiarkan anakku melepas pelangi yang kita bangun, meski pelangi itu tak sempurna karena tak ada kesempurnaan yang hakiki,” prinsip Alya terhadap dirinya. Dia merasa meski harus membangun keceriaan sendiri bukan berarti ketidaklengkapan menjadi sebuah penghalang dalam pembuatan pelangi kehidupan nyata.

Alya berjanji bahwa kehidupan lampaunya tak akan dibiarkan terjadi pada Raya. Baginya Pelangi tak sempurna itu akan menciptakan kehidupan yang nyata, berwarna, Bahagia dan nyaman. Dia akan membawa terbang Raya hingga menjadi kupu-kupu yang Indah dan menebarkan banyak manfaat. \

*****

Raudatul Makkiyah_Dia adalah seorang wanita yang lahir di tanggal empat belas bulan enam tahun seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan. Panggilan sayangnya adalah Kiki. Selain menulis dia juga senang traveling dan memiliki hobby membaca. Dia bertempat tinggal di Jalan Trunojoyo Desa Kolor-Sumenep tepat di jantung kota. Sekarang Dia mengabdi di Lembaga SMPIT AL-HIDAYAH Sumenep dan sudah bergabung menjadi anggota Rulis Sumenep. Karyanya yang masih seumur jagung sudah terbit dalam bentuk antologi, baik bersama maupun secara mandiri. Diantaranya “Goresan Pena Guru Bahasa Kala Pandemi Korona”, “Kisahku di Masa Pandemi“, “Surat Untuk Ibu”, “Perahu Kehidupan”, “Rindu”, “Cermin Tak Berbayang”, “Senja”, Amazing Fables”, “Telisik Kearifan Lokal Sumenep”, “Hujan”, “Dua Sisi Koin”, “Firs Life”. Untuk mengetahui karya terbarunya bisa ikuti akun sosial medianya di:Facebook : Raudlatul Makiyah Wa : 085335777219



POSTING PILIHAN

Related

Utama 1863698643150268354

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item