Mbah Suto Sakit

Cerpen: Mohammad Nurul Hajar

Tepat pukul 14.00 WIB aku sudah tiba di pelabuhan Kalianget. Dari sini tampak kelas di depan mata pulau Poteran. Lima belas tahun aku tidak pulang kampung, tempat asalku Dusun Tanjun Alang Padike, masuk wilayah kecamatan Talango, Pulau Poteran.

Terakhir pulang kampung ketika ibuku wafat, dan setelah itu lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Dan untuk kali ini aku pulang karena kakak kandung yang tinggal di Kalimantan Timur pulang kampung untuk menikahkan anak sulungnya dengan gadis tetangga desa kami. Aku merasa senang, karena keponakan mendapatkan jodoh orang Talango. Karena ia akan menetap di Talango.

"Ayah, lihat bibir pantai bagian selatan pulau Poteran," tunjuk Anis istri aku.

Sejenak aku arahkan pandangan ke arah tempat yang dimaksud. Namun belum juga ada hal yang aku tangkap.

"Ada apa bun?" tanya penasaran.

"Masa ayah tidak melihat. Seingat bunda, dulu di arah sana itu ada tanjungnya, dan tepiannya tumbuh pohon jaranan yang tertata rapi," jelas istriku seraya menunjuk suatu tempat.

"Oh iya bun, betul. Dulu di situ ada tanjung dan pohon yang rindang tertata rapi. Sekarang tampaknya sudah tidak ada lagi,” sahutku setuju.

Memang pandangan dari halaman dermaga Kalianget hanya terlihat tanah lapang hingga kelokan bibir pantai.

"Kok menjadi tanah lapang, dijadikan apa sekarang, yah?,”

"Entahlah, sepertinya tambak udang. Aku pernah mendengar dari Mbah Suto, katanya di beberapa bibir pantai Tanjung Alang itu akan dijadikan tambak udang," jelasku seraya menunjukkan jari ke arah seberang selat.

Namun percakapan beum tuntas, kini giliranku mengarahkan mobil memasuki kapal tongkang untuk segera menyeberang ke pulau Poteran.

Dengan ekstra hati-hati aku kendalikan mobil menuju geladak tongkang. Ini pengalaman pertama kali memasukkan mobil ke atas tongkang. Dulu 15 tahun yang lalu, supir pribadi yang melakukannya. Tidak terlalu sulit.

Tidak lama setelah mobil masuk, kapal tongkang perlahan bergerak menuju ke Pulau Poteran. Tidak terlalu lama untuk bersandar di dermaga pulau Poteran, kurang lebih 7 menit. Kadang lebih lama saat menunggu giliran tongkang yang lain berangkat. Sementara itu, dua anakku tidak aku perbolehkan keluar dari mobil.

"Akhirnya kita sudah merapat di Pulau Puteran, Bun," kataku kepada Anis, ustriku.

"Iya yah..." jawabnya ringan.

Satu persatu penumpang turun. Sepeda motor bagian depan juga keluar tongkang bergantian. Tinggal beberapa mobil yang masih tersisa. Termasuk mobil aku masih menunggu giliran keluar tongkang. Akhirnya tiba giliran aku mengeluarkan mobil dari.tongkang.

Setelah ban mobil menjejak lorong aspal Poteran terus aku melaju menuju kampung halamanku.

"Tidak lama lagi kita akan sampai di rumah. Karena jalannya bagus kita akan sampai lebih cepat dari pengalaman kita 15 tahun yang lalu. Sebelum adzan maghrib kita sudah sampai di rumah dan bertemu dengan Mbah Suto," ujarku.

"Mas Fais, ini bau apa," tanya Izzi anakku kepada kakaknya ketika angin memasuki jendela saat mendekati pantai.

Sebetulnya aku juga penasaran ini bau apa ini. Semakin dekat pantai baunya semakin terasa menyengat. Kalau bau amis ikan kering rasanya tidak. Bau apa ini? Aku sendiri kalau ditanya anak anak belum bisa menjelaskan.

Aku lihat istriku juga mulai tidak nyaman dengan bau yang tidak sedap itu. Oleh karenya, kaca mobil yang semula aku buka, segera aku tutup rapat rapat. Agar baunya tidak tercium lagi.
"Yah, tadi bau apa? Bikin kepala Adik pusing," tanya Izzi penasaran.

"Ayah tidak tahu pastinya, dik. Kayaknya itu bau ikan kering," jelas kakaknya dengan ragu ragu.

"Nanti kalau sudah sampai di rumah ayah tanyakan kepada mbah Suto. Siapa tahu beliau tahu asal sumber bau itu, dik." Aku melanjutkan.

Aku cuma mendehem seraya mengangguk.

Betul sebelum adzan maghrib kami sudah sampai di rumah. Embah Suto sedang duduk di kursi teras rumah. Halaman rumah terlihat bersih dan tanaman bunga tampak terawat. Suasana sejuk khas daerah pedesaan, tampak terasa, karena banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah.

"Assalamu'alaikum mbah," sapaku setelah turun dari mobil. Mbah Suto dengan rasa suka cita cepat menimpali dengan ucapan salam.

Mobil pun aku masukkan ke halaman rumah. Mbah Suto yang telah menyiapkan parkir sementara dari terpal. Setidaknya kalau panas, mobil tidak kepanasan. Jika pas turun hujan, mobil tidak kehujanan.

"Mas, adik! cium tangan dulu sama mbah Suto,” pintuku pada kedua anakku, setelah aku dan istriku menyalaminya dengan sungkem.

 Mbah Suto tampak memandang kami dengan senyum. Di matanya tampak ada kesan ingin tahu lebih banyak tentang keluarga kami.

Setelah sholat maghrib kami duduk di ruang tamu, dan banyak hal yang kami ceritakan dan akhirnya kembali muncul pertanyaan yang ditanyakan anakku Izzi saat perjalanan tadi.

"Mbah, tadi waktu di perjalanan dekat pantai ada bau tak sedap dan bikin pusing kepala. Itu bau apa mbah?," tanyku kemudian.

"Itu bau limbah tambak udang nak," jawab mbah Suto.

Aku menganggguk dan penuh tanda tanya,

"Apa masyarakat sekitar tidak mempersoalkan? Apa mereka tidak protes?" ujarku  mencoba mencari tahu.

"Kalau protes sebelum ada tambak sudah sering dilakukan oleh warga. Namun tidak ada tanggapan dari aparat desa. Apalagi pemerintah daerah. Sepertinya mereka sudah dapat uang tutup mulut. Sehingga pura pura tidak tahu apa yang terjadi di masyarakat lapisan bawah mas,"

Mbah Suto mengurai gamblang dari awal sampai akhir masalah tambak udang itu.

"Terus kalau sudah seperti ini apa yang dilakukan oleh warga mbah?"

"Sepertinya warga sudah tidak punya harapan lagi. Saat ini mereka pasrah. Kasihan. Lingkungan sudah tidak sehat. Sepanjang pantai dusun Tanjung Alang kalau tidak bau bangkai ya bau amis," tutur mbah Suto dengan mimik sedih.

"Tambak tambak itu milik perongan apa perusahan mbah?," tanyaku ingin lebih tahu.

"Sembilan puluh persen milik perusahaan, sisanya perorangan. Tanah-tanah yang di kelola perusahaan itu sudah menjadi hak milik perusahaan. Sebelum tambak berdiri, penduduk diiming-iming dengan harga tanah cukup mahal, bahkan ada tanah yang harganya lima kali harga normal, maka masyarakat banyak tergiur,” jelasnya agar kecewa.

“Jadi banyak lahan di bibir pantai dijual kepada orang yang mereka tidak kenal. Dulu suka-suka diawal menjual tanah. Tetapi sekarang mereka baru merasakan dampaknya. Yang dapat uang masih mendingan. Tetapi sebagian lainnya banyak mendapat petaka mas," tambahnya.

"Kasihan ya mbah," sahutku ikut merasakan kesedihan itu.

"Betul, kamu belum lihat sendiri bagaimana kehidupan para nelayan, orang tua dan janda di dusun ini. Sangat memprihatikan. Bagaimana tidak memprihatinkan. Dulu dari arah mana saja orang kampung bisa ke pantai. Yang nelayan kapan saja bisa mencari ikan. Kalau air laut sedang surut, orang kampung banyak yang mencari kerang, keong, dan ikan yang terjebak. Sekarang sudah tinggal cerita"

"Memangnya sampai terjadi seperti itu mbah?"

"Sepanjang bibir pantai di dusun kita sudah di tembok. Hanya beberapa titik untuk akses masuk. Itupun hanya pekerja tambak dan pemilik tambak yang diijinkan masuk oleh penjaga. Jadi sekarang pantai dusun kita sudah menjadi milik pengusaha. Karena sudah demikian, bagaimana orang kampung bisa bebas ke pantai. Selain itu, pembuangan limbah tambak merusak pantai. Kerang, kepeting, rajugan keong, bintang laut dll sudah tidak ada lagi."

Mbah Suto diam sejenak. Aku jadi merasa bersalah. Mengajak bicara mbah Suto tentang asal bau itu. Tetapi semuanya sudah terjadi. Bagaimana ini? Kemana aku akan mengajak anak anak mandi di laut. Esok pagi?

"Aku sangat prihatin dengan keadaan dusun ini,” ungkapnya kemudian.

“Dulu aku sering kepikiran dengan nasib warga dusun ini, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saking kepikiran sampai aku beberapa hari harus dirawat di rumah sakit," Mbah Suto kembali melanjutkan ceritanya.

"Kamu ingat Bu Janti belakang rumah ini," tanya mbah Suto kepada aku.

"Iya, ingat mbah. Memangnya ada apa dengan Bu Janti?," tanya aku penasaran.

"Setekah suaminya wafat, ia tidak punya sanak keluarga. Untuk sekedar mempertahankan hidup hampir setiap hari ia jalan kaki 5 km ke pantai dusun sebelah, dusun Sumur Asin untuk mencari kerang, kepiting, rajungan atau keong,"

"Lalu para nelayan disini nasibnya bagaimana mbah?"

"Orang kampung ini banyak yang bekerja serabutan. Sekarang tinggal beberapa orang tetap setia menjadi nelayan. Itupun mereka bergabung dengan nelayan Dusun Sumur Asin."

"Kalau begitu di Dusun Sumur Asin pantainya masih aman buat anak anak mandi di laut," .

"Tidak aman juga. Dulu anak di dusun itu mandi tidak masalah. Tetapi setahun yang lalu saat ada kejadian anak- anak setelah mandi pulangnya badan mereka gatal gatal dan muncul bercak merah, maka  anak anak dilarang mandi di laut," jelas Mbah Suto.

“Terus anak anak kampung kalau mau mandi di laut di mana mbah?”

“Sekarang tempat yang aman untuk mandi di laut, harus ke pulau lain di pantai Gili Labak.” Jelasnya.

Perbincangan kami berdua cukup makan waktu lama. Malam mulai menapak gelapnya, akhirnya percapakan dihentikan, dan masing-masing memasuki kamar untuk istirahat.

Cuma persoalan yang masih melekat dalam pikiranku, bahkan kondisi pulau yang damai ini kini berubah menjadi bencana bagi penduduknya.

Untuk pada waktu-waktu selanjutnya apakah masyarakat masih bisa bertahan atau terusir dari tanahnya sendiri setelah dikuasi para cukong penguasa tambak udang.

Entah,
 

*****

Mohammad Nurul Hajar, anak semata wayang pasangan Bapak Ishak dan Ibu Suri. Ia lahir di Sumenep 05 Oktober 1976. Suami dari Lilis MF, ayah dari Zakiyah Aisyah ERH, Andra Halil EFA, dan Ahmad Ranis EMH ini lulus pendidikan tinggi,  S1 Pend. Matematika lulus tahun 2001 di UM dan S2 Pend. Matematika lulus tahun 2016 di UT. Saat ini bekerja sebagai pengawas madrasah aliyah di lingkungan Kemenag Kab. Sumenep. Sejak tahun 2002 hingga sekarang masih aktif mengajar di Prodi Pend. Matematika STKIP PGRI Sumenep. Mulai tahun 2011 hingga saat ini sebagai Direktur Utama LKP Raudhatut Thalibin. Ia mengelola web h4j4r.my.id, FB M Nurul Hajar, dan dapat dihubungi di nomer WA 082330740202.

POSTING PILIHAN

Related

Utama 4080873652084424171

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item