Lima Pentigraf Heru Marwata

 


Pentigrafis; Heru Marwata

Pesan Tangan

"Sudahlah, gak usah akting, ayo segera bangun," kataku pada seorang laki-laki setengah baya yang sedang meringis dan mendesis-desis seperti menahan sakit menggeletak di pinggir lapangan badminton. Dia ini sahabat lama waktu kuliah. Tadi pagi-pagi berkabar kalau akan menyusulku ke GOR Lembah UGM untuk ikut main bulutangkis.

Begitu sampai GOR dia langsung menuju lapangan 5 tempatku bermain bersama rombongan FIB UGM. Pas bola mati, aku pun menuju pinggir lapangan untuk menemuinya. Sebagai teman lama yang sangat akrab, kami memang sudah sangat biasa saling meledek dan bahkan kadang setengah berkelahi. Setelah dekat dia langsung memukul bahu kananku agak keras sambil bilang, "Gila, badanmu jadi kayak petinju." Karena tangan kananku memegang raket, aku pun membalas "nabok" (seperti menampar dengan tangan terbuka) bahu kanannya, juga agak keras.

Tiba-tiba ia berteriak, dan kemudian jatuh terduduk lalu telentang sambil meringis kesakitan. Aku jadi ingat soal penggendam di Pasar Sentul beberapa waktu lalu. Ah, tapi ini temanku, masa akting? "Tangan kirimu," katanya sambil menahan sakit. Duh, aku baru ingat pesannya puluhan tahun silam bahwa aku tak boleh memukul orang dengan tangan kiri karena, katanya, tangan itu berat dan ada rajahnya.


Buruh Gendhong

Siang itu aku benar-benar sudah siap membayar nazar. "Kalau lolos seleksi main sinetron, aku akan latihan dengan bekerja sehari sebagai buruh gendhong di Pasar Beringharjo," begitukah janjiku. Pakaian dan kostum sudah lengkap. Sudah kenalan juga dengan teman seprofesi. Mulailah aku beraksi mondar-mandir bersama buruh lainnya menawarkan jasa. Suara pun sudah kubuat-buat menjadi beda. Semoga tak ada yang mengenaliku.

Kudekati ibu-ibu yang berbelanja bersama dua anak gadisnya. Kutawarkan jasa mengusung barang mereka. Setelah selesai belanja, aku antar barang-barang mereka ke parkiran mobil. Beres, dan aku pun menerima upah, 25 ribu. Saat agak sepi, aku traktir 3 orang buruh yang ngetem untuk makan soto.

Tiba-tiba HP di saku bergetar dan aku buka. Ada pesan agak panjang di WA. "Wah, akting Bapak benar-benar meyakinkan. Maaf saya tadi tidak berani menyapa, takut kalau acara shooting Bapak harus diulang. Di mobil, saya cerita ke Mama dan saya dimarahi tidak memberi tahu," tulis Mutiara Kristy, mahasiswa bimbingan akademikku. "Duh, dikira shooting ...," batinku.


Pengamen Bangjo

Di kotaku hampir semua "bangjo" (lampu merah--kuning--hijau yang dipasang di persimpangan jalan) memiliki anak jalanan, pengemis, pengamen, atau penjaja koran. Pada pengemis, sesuai anjuran pemerintah, aku sudah lama tidak memberi uang. Sudah lama juga aku tidak membeli koran karena nyaris tidak pernah lagi membacanya. Pada pengamen aku masih 'lihat-lihat' dan lebih sering memberi, biasanya 2, 5, atau 10 ribu.

Beberapa bulan ini ada pengamen yang menarik hatiku: Pak Tua dengan gitar tua dan lagu-lagu lama. Pada pengamen yang senang menyanyikan lagu ceria dan penuh harapan ini aku selalu tergerak untuk memberi uang minimal 10 ribu, bahkan pernah kuberi 100 ribu. Aku merasa sangat suka pada gaya dan gairah ngamennya. Karena itu, kalau keluar rumah aku hampir selalu mengarahkan jalanku agar melewati tempat mangkalnya, kalau tidak pas berangkat, ya pasti pas pulangnya.

Suatu sore, saat jalan-jalan di sekitar Prambanan, aku merasa melihat Pak Tua itu. Dia mendorong kursi roda yang ditumpangi seorang anak yang tampaknya lumpuh. Aku pun mengikutinya. Dia menuju sebuah rumah sederhana. Ketika dia datang, beberapa anak kecil menghambur menyambutnya dengan gembira. Ada yang membantu mendorong kursi roda, ada pula yang menggelayuti lengannya. Bahkan, ada anak kecil yang minta digendongnya. Di pagar rumah itu kubaca tulisan, "Rumah Tinggal Anak Tanpa Keluarga". Aku pun menitikkan air mata.


Gendam Berbalas

Dari salah seorang kakekku yang tinggal di Banyuwangi aku mendapatkan strategi mengatasi gendam. Prinsipnya sederhana, yang penting harus dilakukan secepatnya. Syukur kalau bisa dengan penuh keyakinan dan tetap tenang.

Siang itu, di Pasar Sentul, aku ingin beli jagung untuk persiapan pesta tahun baru. Tiba-tiba seorang laki-laki muda mendekat dan menepuk bahuku sambil bilang, "Hayoo mesthi lali karo aku". Spontan saja, teringat pesan kakekku, aku pun langsung membalas menepuk punggungnya agak keras sambil bilang "Aku ora lali". Mendadak, 'makklumbruk', laki-laki muda itu seperti lumpuh dan jatuh tanpa daya. Aku kaget setengah mati.

Lalu datang tiga orang setengah baya langsung menyalahkanku yang disebutnya telah melakukan penganiayaan. Hadew. Ketiganya minta aku bertanggung jawab mengobati keponakannya. Cilemet tenan. Aku bilang minta waktu menelepon saudara untuk membantu membereskan karena tidak membawa cukup uang. Sepuluh menit kemudian keponakanku datang dengan mobil patroli dan seragam polisi. Begitu mendekat dan bertanya "Ada apa Pakdhe?" eeh lha kok laki-laki muda yang lumpuh itu mendadak sehat dan lari tunggang langgang bersama ketiga temannya.


Anak Mencari Bapak

Siang yang agak gerah menjadi buncah dan sedikit gegeran karena ada kasus penting. Tiba-tiba istriku yang sedang duduk-duduk di teras masuk sambil menunjuk jidatku. "Bapak harus bertanggung jawab, itu di depan ada gadis remaja mengaku mencari bapaknya dan menyebut nama Bapak," kata istriku dengan muka 'mbesengut'.

Aku pun segera menemui gadis remaja itu. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Lalu aku tanya di mana dia tinggal dan untuk keperluan apa dia mencariku. Tentu saja aku khawatir dan takut kalau gadis ini sengaja datang untuk bikin gara-gara.

Dengan lancar gadis itu menceritakan asal usulnya dan keperluan mencariku. Dia mengantarkan oleh-oleh khusus dari ibunya untuk orang yang dianggap sebagai ayahnya. Waduh. Dia menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi kotak perhiasan, dan ketika kubuka, ada tulisannya, "Pak Heru, anak ini selamat berkat donor darah Bapak dan karena itu, maaf, ia menganggap Bapak sebagai salah satu ayahnya." 

Sumber pentigraf: Kampung Pentigraf Indonesia


POSTING PILIHAN

Related

Utama 932404190322776422

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item