Lima Pentigraf Alkaryana

 Pentigrafis: Alkaryana

Amanat Ibu

Orang-orang di kampungku itu kini gak akan lagi nanya kenapa pulang sendirian, kapan bawa pasangan, dan lain sebagainya. Aku siap pamer, datang membawa Linda, tapi aku heran, setibanya di sana kok mereka tak menyambut dengan senyum tawa menggoda, atau bertanya kapan diresmikan. Ketika diharapkan, mereka malah seperti orang-orang bisu, senyumnya pun seolah dipaksakan.

Sebelumnya Paman menyuruhku pulang karena sangat penting, dan ada titipan pesan dari Ibu, aku harus membawa calon istri. Aku ingat, Paman juga pernah bilang Ibuku yang sudah tua dan lemah, sakit-sakitan, merasa berat meninggalkanku yang belum beristri. Oleh karena itu aku membawa Linda. Ternyata Ibu kini sedang menghadapi sakaratul maut. Melihat aku bersimpuh bersama Linda, Ibu senyum. “Kamu sudah punya calon sekarang Iyan. Nikahlah kalian. Kini Ibu rela,” ujarnya. Tak lama Ibu pun menghembuskan napas terakhirnya.

Delapan hari setelah Ibu meninggal, aku dan Linda kembali ke Jakarta. Aku berterima kasih kepada Linda. Kuanggap Linda adalah pahlawanku, yang telah menyelamatkanku dari pertanyaan-pertanyaan bodoh dan menjengkelkan dari para tetangga, juga membantu mendiang Ibu merasa tenang saat kepergiannya ke pangkuan ilahi. Setelah kembali ke Jakarta aku sedikit memaksa Linda, agar segera menikah denganku karena amanat Ibu. Aku tak mau membohonginya. Namun Linda menukas, “Gimana sih, lu kan tau gue gak suka cowok, Iyan. Dan jangan lupa bayaran buat akting gue!”


Ayahku Pahlawanku

Saat keluar dari pintu lobi sekolahnya, Tina berlari ke arahku sambil mengangkat tangan kanannya. Di antara jemari-jemari mungilnya terselip sebuah amplop. Aku langsung menyambutnya dengan kedua tangan terbuka. “Mama, ini surat dari Bu Guru,” kata Tina seraya menyodorkan amplop itu. Aku langsung menerimanya dan memasukkannya ke dalam tasku. Di rumah, sementara Tina menyantap makan siangnya, aku buka amplop yang berisi surat pemberitahuan dan sekaligus undangan dari TK Tina. Aku tertegun membaca isinya. Bulan depan ada acara menyambut Hari Ayah Sedunia, bertema: ayahku pahlawanku.

Ada-ada saja sekarang ini, segalanya harus serba kekinian. Dulu mana ada Hari Ayah, lalu dirayakan. Sebenarnya yang membuatku membatin adalah undangan agar sang ayah hadir. Bagaimana Tina bisa menghadirkan ayahnya di sekolahnya, sedangkan ayahnya saja tak ada? Selama ini aku terpaksa berbohong kepadanya jika dia bertanya karena kupikir dia masih terlalu kecil. Kukatakan ayah sedang pergi jauh sekali.

Mungkin memang sudah saatnya aku ceritakan yang sebenarmya. Wajah dan mata bening tak berdosa itu menyimak ceritaku dengan seksama dan akhirnya menangis. Pada acara Ayahku Pahlawanku, saat giliran Tina tampil, suasana hening. Semua menyaksikan Tina yang membawa foto ayahnya yang sedang berseragam dan menenteng peralatan pemadam kebakaran ke atas panggung. Lalu Tina menunjukkan foto seukuran poster itu kepada audiens sambil berdeklamasi. “Ayahku pahlawanku ... ia telah tiada namun ia penyelamat dunia ... dunia anak-anak dari ayah dan ibu yang diselamatkannya ... terima kasih, Ayah.”


Pasir Pantai

Dengan swimsuit bunga-bunga warna warni yang membalut tubuh sintalnya, Bu Kosim duduk di pasir pantai putih bersih itu. Ia pun sangat menikmati terpaan panas sinar matahari. Tak lupa, dengan penuh penghayatan ia oleskan sun cream untuk melindungi kulit kaki dan tangan mulusnya. Bagian rambut yang tak tertutup topinya melambai-lambai tertiup angin. Ia menghela napas sambil menengadah dengan mata tertutup.

“Aduh, Mama..! Papa beli pasir itu untuk isi akuarium,” teriak Pak Kosim dari depan pintu rumahnya, “emangnya Mama doang yang bosen di rumah aja nunggu pandemi berakhir? Papa bikin akuarium, buat jaga imun juga.”

Bu Kosim menoleh. “Buat akuarium, pake aja pasir bekas pup si mpus ..." kata Bu Kosim sambil mencebik, "masa Mama harus pake itu, males bersihinnya ah!” pungkasnya sambil rebah di hamparan pasir putih seukuran satu kali dua meter itu.


Pelecehan Seksual

Wanita itu begitu ganas. Buas. Entah mengapa aku merasa tak berdaya. Dia mengejarku meski aku terus menjauhinya, hingga akhirnya dia berhasil menangkapku dengan rangkulannya yang erat. Serta merta dia menciumi kedua pipiku serta area sekitar mulutku. Aku tak juga mampu melepaskan diri. Sorot matanya tajam penuh nafsu.

Dia memaksaku membuka mulut, dan aku menurut saja. Dia pindahkan sebutir permen warna merah rasa strawberry itu dari mulutnya ke mulutku. Masih manis memang permen yang sedari tadi dikulumnya itu, tapi jijik! Saat itu aku mampu melepaskan diri. Melepeh permen itu lalu lari sejauh-jauhnya. Aku pasti akan melaporkannya kepada polisi atas pelecehan seksual yang dilakukannya terhadapku. Itu bukan yang pertama kali.

Tapi ... damn!! Aku masih berumur empat tahun saat itu. Belum ngerti. Dan wanita itu orang gila, namanya Neneng Seke.



Ayah Putri

“Dalam waktu tiga puluh menit, kalian menulis maksimal seratus kata tentang ayah kalian, awali dengan kata: ayahku,” Bu Ani memberi instruksi kepada seluruh murid di kelas 5B di mana Putri berada. Menjelang Hari Ayah yang mengikuti Father’s Day yang biasanya hanya dirayakan orang Barat, guru bahasa Indonesia ini ingin para muridnya menulis tentang ayah masing-masing.

Rata-rata wajah anak di kelas itu berseri-seri dihiasi senyuman kecil yang tersungging di bibirnya. Namun tak begitu dengan Putri, dia tampak kebingungan. Putri melirik teman-teman di sekitarnya yang mulai menggoyangkan balpoin di atas kertas yang sebelumnya sudah dibagikan oleh Bu Ani. Putri berpikir, tentunya di antara mereka ada yang menulis: ayahku seorang pilot, dan seterusnya; ayahku baik suka mengajak naik delman jalan-jalan dan seterusnya; ayahku kalau pulang membawa oleh-oleh makanan kesukaanku dan seterusnya.

Tidak demikian dengan ayahnya, yang melintas di kepalanya adalah ayahnya duduk di sofa malas-malasan menunggu ibu pulang untuk merebut tas dan mengambil paksa uang hasil kerja ibu di salon. Lalu adegan ayahnya menampar ibunya sambil meneriaki dengan sebutan yang tak pantas; saat ayahnya pulang dalam keadaan mabuk; saat ayahnya marah-marah karena kalah judi. Putri pun menulis. Setelah semua kertas karangan muridnya terkumpul, Bu Ani mulai membacanya satu persatu. Wajah Bu Ani memerah saat membaca tulisan Putri yang hanya dua kata: Ayahku bajingan.

Sumber: Kampung Pentigraf Indonesia

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5251403623790100927

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item