Kemerdekaan Bagi Santri Putri

Foto bersama santri putri jelang upacara peringati HUT RI ke 76 (foto: Maumin Main)

Maimun Main

Apa arti kemerdekaan bagimu nduk? Menikah dengan seorang santri yang tahu apa bedanya mengaji dan mengabdi.

Sekilas ilustrasi komunikasi antara santri putri yang sedang di tanya oleh ibunya apa itu kemerdekaan baginya. Ternyata jawabannya cukup sederhana, hanya ingin menikah dengan seorang santri. Berbahagialah kalian kaum sarungan. Ternyata kalian masih menjadi "trademark" yang menarik bagi kaum perempuan di marketplace-nya calon imam.

Berbagai macam cara orang mengekspresikan "independence day" negeri ini yang ke 76. Ada yang pergi ke pantai dengan membawa atribut kemerdekaan lengkap, lalu berfoto bersama disana dengan teman sejawatnya. Kemudian di upload ke media sosial dengan "caption" euforia kemerdekaan.

Ada yang melukis wajahnya dengan peta indonesia raya. Sebuah ekspresi yang cukup nasionalis menurut kami. Selain prosesnya yang panjang tentu nilai estetiknya yang luar biasa bagi yang melihatnya.

Ekspresi diatas cukup ekstrim dan fenominal. Yang lazim biasanya, hanya di bagian pipi yang di lukis dengan bendera merah putih. Kesannya kemerdekaan itu bagian perjuangan yang cukup melelahkan dan hasilnya sangat indah. Apalagi oretan dipandang oleh lawan jenis. Biasanya menimbulkan sesuatu yang "isykal", bagaimana hukum mencium bendera merah putih? Tentu di sini dalam konteks yang masih "abu-abu". Sebab bendera yang di maksud ada di pipi seorang wanita. ini "just kidding" ala para santri.

Ada yang hanya memasang bendera yang berukuran kecil di sudut ruangan, itu di rasa sudah sangat cukup untuk mengakui bahwa negeri ini sudah merdeka. Baginya, kemerdekaan yang hakiki adalah ekspresi hati tanpa ada rasa dendam dengan sesama anak negeri. Sebuah ekspresi kemerdekaan ala para "sufi". Jadi bermain di domain hati.

Bahkan ada yang melakukan khatmil quran di hari kemerdekaan. Baginya kemerdekaan adalah mengaji. Kemerdekaan harus di jadikan momentum memintakan ampun kepada Allah SWT para pejuang kemerdekaan republik ini. Karena berkat perjuangan mereka, kita bisa enak belajar, mencari nafkah, beribadah dan lain halnya. Baginya, tidak cukup dengan hanya sebatas seremonial kemerdekaan yang ditandai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya lalu memberikan hormat kepada sangsaka merah putih. Hari kemerdekaan harus di isi dengan mengaji dan mengirimkan istighfar kepada para pendiri negeri.

Ada yang hanya berkontemplasi dengan memikirkan nasib negeri yang tak kunjung bergengsi. Tindak pidana korupsi telah menjadi bagian yang tak bisa dihindari oleh para politisi dan penegak hukum lainnya yang berkongsi. Korupsi sudah menjadi bagian tradisi yang mendarah daging dalam birokrasi negeri pertiwi. Kolosi di klaim dan dicarikan alibi untuk menciptakan kekuasaan dengan basis "demokrasi dinasti". Aneh bin ajaib kongkalikong terminologi anak negeri hanya untuk menutupi aib diri sendiri.

Yang paling tragis, ada kelompok yang tidak percaya bahwa negeri ini sudah merdeka. Apalagi dengan umur kemerdekaan yang cukup dibilang sudah "tamyiz", 76 tahun. Apa yang melatarbelakangi hal ini? Tentu kemerdekaan yang masih semu. Kemeredekaan yang hanya sebetas historis bambu runcing vs peluru. Selanjutnya kemerdekaan saling tindas antara yang kaya dengan yang miskin. Harga sembako melambung tinggi. Hasil panen tak ada yang mau membeli. potret ini bagi mereka, potret kemerdekaan dalam negeri dongeng. Tak pernah nyata dan hanya enak di tonton dlayar kaca telivisi atau dalam bioskop.

Perbedaan sudut pandang ini tentunya berangkat dari pengalaman yang meraka alami terkait dengan republik yang katanya sudah merdeka. Tentu masih banyak harapan dari anak negeri terkait dengan cita-cita yang melangit sampai kepada ekspektasi yang cukup sederhana dari status kemerdekaan negara.

Bagi buruh, mereka menginginkan gaji yang layak, dihapusnya sistem outsourcing serta jangan bayangi mereka dengan kata PHK. Tentu amat sangat panjang jika semua harapan itu saya tuliskan di sini. Namun yang pasti, kemerdekaan diharapkan bisa membawa perubahan yang cukup berarti.

Terlepas dari hal diatas, kami tidak terlalu lihai untuk memaknai kemerdekaan dan juga tidak terlalu "vocal" memberikan interpretasi bagaimana seharusnya merayakan hari yang amat sangat bersejarah ini. Yang jelas kami telah menyambut hari ulang tahun negera ini dengan dua cara. yang pertama dengan mengadakan istighasah kemerdekaan dan ngaji kemerdekaan.

Dalam hal ini di kemas dengan yasiinan dan "jailanian" bersama di halaman madrasah dengan dihadiri pengasuh lembaga pendidikan islam Arrahmah, Kiai Jufri Basyir. Selanjut di isi dengan ngaji kemerdekaan yang di sampaikan langsung oleh al-ustad Rafik S.Pd.

Yang kedua mengadakan seremonial kemerdekaan sebagaimana biasanya terlaksana. Ada Paskibraka, sangsaka merah putih, Lagu Indonesia Raya, Pesan-pesan kemerdekaan dan signifikansi nasionalisme ditengah ancaman gerakan transnasional. Semuanya berjalan dengan khidmat.

Doa kami semoga negara ini akan segera bangkit dan menjadi negara sebagaimana yang termaktub dalam alquran, baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Aamiin......


POSTING PILIHAN

Related

Utama 5529375467730248152

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item