Janin Ini Titipan

Cerpen:  Silvia Kusuma Terik matahari tak mengalahkan panasku yang bergelut dalam pikiran yang kalut. Bingung, takut, bimbang, dan gelisah ...


Cerpen:  Silvia Kusuma

Terik matahari tak mengalahkan panasku yang bergelut dalam pikiran yang kalut. Bingung, takut, bimbang, dan gelisah bercampur aduk menjadi satu. Tak terasa air mata mengalir saat kutahu bahwa dua garis merah itu adalah positif.

Bingung bagaimana akan menghadapi omongan orang, takut bila nanti perutku semakin membesar dan tiba waktunya maka siapa yang akan mengasuhnya. Bimbangku ini apakah akan kuteruskan kehidupannya atau kuakhiri saja. Semua pikiran-pikiran itu membuatku gelisah, hingga sampai pada kesimpulan lebih baik aku gugurkan saja janin yang ada dalam perutku ini.

Setelah berdiskusi panjang lebar dengan suamiku, kuputuskan untuk membicarakannya dengan seseorang yang aku anggap bisa menyelesaikan masalahku. Ingin rasanya aku putar waktu agar malam cepat berlalu. Karena esok pagi adalah waktu yang aku tunggu untuk menemui seorang dukun beranak. Walaupun hanya sekadar untuk berkonsultasi atau mencari solusi.

Pada Minggu pagi, aku langsung meluncur ke rumah sang dukun itu yang kerap dipanggil Mak Siti bersama suami. Sejenak pikiranku lebih tenang dengan menikmati udara alami di desa yang masih asri. Hamparan sawah yang luas menghijau, aliran sungai yang sangat jernih airnya membuatku hanyut dalam lamunan dan tak terasa sudah sampai di halaman rumah yang kami tuju.

Bergegas kutemui Mak Siti dan menceritakan sedikit kisahku. Dengan sigap ia menyiapkan tikar sebagai alas. Disuruhnya aku berbaring dan mulailah ia mengelus perutku.

“Bagaimana mak, apakah masih bisa untuk digugurkan?,” tanyaku dengan perasaan was-was.

“Bisa, ini kan masih sebulan, jadi masih berupa gumpalan darah,” jawabnya dengan sangat tenang.

“Tapi mak, saya takut sakit,” sahutku lagi karena belum puas dengan endingnya.

“Lantas gimana dengan suamimu, kamu sudah bilang kalau ingin menggugurkan kandunganmu,” ucap Mak Siti

“Sudah mak, dia setuju saja kok. Lagipula gak ada yang bisa ngurus nantinya, mak,” jelasku.

Sekilas tampak dalam pikiranku akan dosa yang akan aku lakukan. Aku tahu niatku untuk menggugurkan kandunganku adalah dosa yang sangat besar. Karena aku sebenarnya telah diberi kesempatan untuk kesekian kalinya mengurus dan membesarkan anak sebagai anugerah dari Allah SWT.

Padahal di luar sana masih banyak keluarga yang belum diberi kesempatan untuk memiliki momongan, namun aku malah ingin mengakhiri kehidupan janin yang tak berdosa ini.

Kutarik napas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan sambil beristighfar “hah, kenapa hidupku begini.” gumamku.

Sebelumnya aku sudah memiliki 3 buah hati yang sudah menginjak bangku sekolah semua. dan kandunganku yang keempat ini membuatku bingung karena aku dan suami sibuk bekerja. Kami bingung siapa yang akan merawat anak kami nantinya.

Untuk menyewa pengasuh tidak mungkin karena penghasilanku dan suami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sebulan. Kalau harus keluar uang lebih pasti akan berhutang dan kami tidak mau hal itu terjadi selamanya.

Aku kembali tersadar dari lamunan saat Mak Siti kembali memijat perlahan perutku, sambil berkata “tenanglah”. Ia berusaha menepis kekahawatiranku bagaimana jika sulit digugurkan atau akan mengalami hal yang tidak aku inginkan.

“Kalau kamu takut untuk dipijat, lebih baik minum ramuan emak saja,”. Ia menawarkan alternatif.

“Kamu minum sprite dikasih garam dan segera minum setelah mengaduknya sebentar,” lanjutnya

“Ditambah lagi banyak makan nanas yang masih muda,” ujarnya lagi seraya melipat tikarnya

“Jika kamu belum mengalami pendarahan saat minum atau makan nanas itu, maka balik lagi kemari,” ucap emak layaknya dokter kandungan

“Iya mak, makasih ya sudah mau bantu aku.” jawabku

“Tapi lebih baik pikirkan lagi niatmu itu, jika kamu masih ingin membiarkannya maka emak sangat bersyukur,” ucap emak sambil membelai rambutku.

“Baiklah mak. Aku pulang dulu, akan aku pikirkan lagi,” ujarku meyakinkan.

Sebelum pulang aku mampir di toko swalayan untuk membeli beberapa botol minuman sprite dan 4 buah nanas muda. Dan sesampai di rumah aku langsung membuat dan meminumnya seperti yang disaran si emak. Aku minum 2 botol sehari. Kulakukan selama 3 hari, dan belum ada tanda-tanda terjadi pendarahan meskipun aku sudah makan 3 nanas.

Hari keempat program minum ramuan si emak tetap berlanjut. Namun beberapa jam kemudian aku mulai merasakan perutku mulas luar biasa. Segera kuberlari ke kamar mandi. Ternyata bukan pendarahan yang aku alami tetapi aku justru buang air besar terus menerus.

“Bunda kenapa, kok bolak balik kamar mandi terus?” tanya Nuri anakku yang bungsu.

“Bunda terlalu banyak makan sambal, makanya sering ke kamar mandi untuk BAB.” jawabku, dengan sedih karena aku telah berbohong.

Aku masih harus terlihat kuat di depan ketiga anakku. Walaupun perut masih mules dan agak lemes, aku tetap berusaha merawat anak dan suamiku. Kulakukan rutinitas seperti biasanya, agar ketiga anakku tidak mencurigaiku.

“Ramuan si emak tidak usah kamu lanjutkan dulu. mending kamu aku antar ke dokter aja ya?,” ujar mas Afwan suamiku.

“Iya mas, tapi aku tidak mau ke dokter, aku ke bu bidan desa saja.” jawabku.

Rumah bu Bidan hanya berjarak 200 meter dari rumahku. Aku sengaja berjalan kaki untuk melemaskan otot-ototku yang kaku karena terbiasa mengendarai motor ke tempat kerja. Lokasi tempat kerjaku lumayan jauh sekitar 31 kilometer dan sangat sulit akses angkutan umum. Jadi terpaksa aku menempuhnya dengan menggunakan seperda motor matic setiap harinya.

Hanya beberapa saat akhirnya tiba di rumah Bidan Erny yang juga sebagai tempat praktek. Langsung aku menuju tempat duduk yang tersedia, dan beberapa saat kemudian bu bidan muncul dihadapanku.

 Dan saat kemudian, Bidan Erny muncul di hadapanku dengan senyum dan wajah yang menenangkan hati. Terlebih lagi dengan busana gamis yang selalu ia kenakan menunjukkan bahwa ia sangat bertakwa.

 “Ada mbak Rana ya, monggo silakan duduk,” sapanya dengan logat Jawa yang kental. Maklum Bu Bidan Erny kelahiran kota Kediri. pastinya bahasa yang dipakai dalam berkomunikasi masih kentara medoknya.

 “Begini bu, aku sebenarnya hamil lagi dan belum siap untuk menerimanya,” ujarku dengan malu-malu dan takut.

“Wah selamat ya mbak, mudah-mudahan kehamilannya lancar dan tidak ada masalah,”  ucap Bu Bidan dengan sangat riang

“Eh, tapi anu bu, aku ingin menggugurkan kandungan ini?,” jawabku tertunduk dengan rasa malu.

“Astagfirullah hal adziiim..... mbak ini dikasih kepercayaan untuk merawat dan membesarkan titipan Allah. Tapi mbak malah mau menghilangkan nyawanya,” tuturnya lembut namun terasa keras di telingaku.

Kutundukkan wajahku. Takut dan malu.

“Kami belum siap bu,” jawabku lirih dan iba.

“Kalau belum siap kenapa tidak pakai alat kontrasepsi?,” ujarnya balik bertanya, kali ini dengan nada agak tinggi.

“Sebenarnya saya memang tidak pakai alat kontrasepsi karena saya ingin mens teratur dan lancar. Ternyata setelah lancar dan teratur tiap bulan malah positif garis dua.” kataku pada Bu Bidan

Tentu alasan ini tidak bisa diterima oleh bidan Erny, karena sebagaimana profesinya ia bertugas dan berkewajiban menyelematkan jiwa dan nyawa manusia, buka membunuhnya seperti yang dimintanya.

“Perbanyaklah istighfar atas niat mbak itu. Saya tidak mau menjadi pembunuh nyawa tak berdosa. Sekali lagi mohon maaf mbak, saya tidak bisa membantu niat jahat mbak tersebut,” ucap bidan itu dan segera berdiri seakan menyuruhku untuk  cepat berlalu dari hadapannya.

“Baiklah Bu, terima kasih atas pencerahannya. Akan saya pertimbangkan kembali saran ibu. Saya permisi dulu. Assalamualaikum,” aku pun segera beranjak pergi.

Beberapa hari ini pikiranku makin larut dan kalut. Apa yang harus aku lakukan, hingga sampai pada titik akhir.

“Aku pasrah ya Allah, akan kujaga janin ini hingga akhir napasku,” itulah sebuah kenyataan bahwa sebenarnya janin ini merupakan tanggung jawab seorang ibu tidak dipertahankan dan dirawat sebagaimana mestinya.

*****

Bila ingat masa-masa kelam itu dan membuatku sedih, selalu kuucapkan kalimat istighfar dan memperbanyak membaca al-Qur’an untuk mengurangi dosa yang telah aku lakukan. Seiring bertambahnya usia kandungan, gerakannya mulai terasa semakin aktif. Kini aku mulai menikmati kehamilanku. Aku pun lebih rajin memerikasakan diri ke bu Bidan Erny.

Tepat pada tanggal 17 Mei 2020 di bulan Ramadhan lahirlah bayi perempuan yang mungil itu tanpa cacat sedikitpun, bahkan kulitnya pun lebih bersih daripada ketiga kakaknya. Saat ini usianya sudah menginjak 9 bulan. Celotehnya yang lucu membuat kami sebagai orang tua merasa terobati atas lelahnya kegiatan kami dalam mencari nafkah untuk keluarga.

Tanpa aku duga sebelumnya, kini aku mendapat promosi pindah kerja ke kota tempat tinggalku yang berjarak hanya 300 meter dari rumahku. Sebagai seorang terapis di rumah sakit swasta, aku merasa sangat beruntung atas keajaiban ini. Suamiku pun bersedia menjaga bayi mungil ini sampai aku pulang kerja dari pagi sampai siang. Selanjutnya suamiku giliran pergi bekerja paruh waktu di restoran Makan Sedap.

Ternyata kami bisa melalui semuanya tanpa ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Dibalik kesusahan aku yakin akan ada kemudahan.

Tetaplah berpikir positif, karena semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

*****
Wanita yang memiliki nama lengkap Silvia Kusuma Wardani ini adalah seorang guru di SD Negeri Marengan Daya I. Selain mengajar ia memiliki hobi membaca dan menulis. Ia yakin bahwa setiap kita memiliki kemampuan menulis dan masing-masing memiliki cerita unik untuk ditulis.



POSTING PILIHAN

Related

Utama 610733800122928344

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item